Monday, 9 October 2017

WAKEFIELD (2017)

Film ini tidak cocok untuk yang menyukai genre action atau horror - yang berbarengan tayang dengan film ini. Wakefield (2017) bergenre drama tanpa aksi dan adegan menyeramkan. Lebih banyak pada dialog sebagai kekuatannya.

Film diawali dengan pengenalan karakter Wakefield (Bryan Cranston) sebagai tokoh sentral di film ini. Ia adalah seorang pengacara sukses yang sangat sibuk. Ketika pulang dari kantor, ia melihat seekor raccoon di halaman rumah. Mengusir raccoon, Wakefield malah menemukan sebuah gudang tersembunyi yang merupakan bagian dari rumah utamanya. Alih-alih menuju ke rumah, ia malah masuk ke lantai atas gudang. Lewat jendela, ia bisa mengamati rumahnya, Diana (Jennifer Garner) - istri, dan si kembar anak-anaknya. Keasyikan dengan mengamati keadaan keluarga, tetangga, dan lingkungan dari tempat persembunyian, ia pun memutuskan untuk 'menghilang'.

Sang istri yang sudah menantikannya pun mencari kesana-kemari, menghubungi kantor dan kenalan suami. Putus asa, ia pun menghubungi polisi melaporkan kehilangan. Bukannya keluar dari persembunyian. Wakefield makin menikmati perannya sebagai seseorang yang dibutuhkan. Ia memutuskan untuk hidup secara ekstrim dengan mematikan seluler, melupakan pekerjaan, menghindari kontak sosial, dan bahkan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan pakaian bekas dan mencari makanan dari tempat sampah seperti gelandangan. Sambil terus mengamati perilaku keluarganya.

Plot mengalir maju mundur menceritakan kisah perkenalan dengan istri, motivasi menikahinya, kelahiran si kembar, percekcokan di rumah tangga, dsb. Mengamati kehidupan sang istri, membuatnya sadar satu hal tentang cinta dan kebutuhan. Ia pun mengamati saingannya dulu, Dirk Morrison (Jason O' Mara), yang datang berkunjung. Ini adalah salah satu alasan yang membuatnya mesti kembali pulang ke rumah.

Bagaimana cara ia kembali ke rumah setelah sekian lama menghilang? Bagaimana menjelaskan kepada istri dan anaknya dimana saja ia berada?


Film ini tidak banyak menampilkan gambar menawan dan adegan klimaks, penonton hanya disuguhi narasi dari sisi Wakefield dan bertanya-tanya bagaimana akhir cerita tersebut. Alur kisah pun linear, namun membuat penonton menduga-duga. Pesan cerita sangat kuat tentang cinta dan kebutuhan akan bersama.

Buat yang jengah dengan film horror, film antimainstream ini bisa dijadikan pilihan.


~ elha score: 6.5/10   

Monday, 7 August 2017

POORNA: COURAGE HAS NO LIMIT (2017)

"...jika ingin menaklukkan sebuah gunung, engkau harus punya alasan yang lebih besar dari gunung itu..."

Film ini berdasarkan kisah nyata seorang anak gadis pertama yang berhasil mencapai puncak Everest, gunung tertinggi di dunia.

Namanya Poorna, Malavath Poorna (Aditi Inamdar), adalah seorang gadis India berusia 13 tahun. Namanya sesuai dengan nasibnya, sial atau miskin. Ia tinggal di sebuah desa miskin Pakala di negara bagian Andhra Pradesh, India. Kedua orangtuanya bekerja sebagai buruh tani yang tak mampu membayar uang sekolah. Ketika menerima hukuman menyapu kelas, Priya - saudara sepupu Poorna yang juga dihukum karena tak mampu membayar uang sekolah - menemukan selebaran tentang sekolah gratis dari Depertemen Kesejahteraan Sosial. Berdua mereka hendak mendaftarkan diri kesana, namun sayangnya Priya batal karena dinikahkan oleh ayahnya. Jadilah, Poorna mendaftarkan dan bersekolah disana

Berbeda dengan brosur, ternyata fasilitas disana dikorupsi oleh oknum, sehingga layanan seperti makanan untuk siswa sangat buruk. Poorna sempat hendak melarikan diri dari sekolah tersebut. Untungnya ia bersua dengan Dr. R.S. Praveen Kumar (Rahul Bose), sekretaris Departemen Kesejahteraan Sosial yang baru, yang mengambil alih sekolah tersebut dan memberantas penyimpangan disana. Selain menghapus pungli, Praveen pun membentuk beberapa aktifitas esktrakurikuler untuk siswa. Salah satunya panjat tebing. Poorna bergabung disana.

Poorna menunjukkan kecakapan dalam latihan dan teknik-teknik pemanjatan. Praveen yang memiliki obsesi membentuk team muda untuk menaklukkan Everest memasukkan Poorna sebagai kandidat utama, jika dia bisa menjawab alasan kenapa dia harus mencapai puncak Everest. Poorna belum meiliki jawabannya. Kematian sahabatnya, Priya, membuat Poorna sempat terpuruk dan mengundurkan diri dari team. Ia merasa kehilangan seorang shabat dan semangat. Namun, dukungan motivasi dari Praveen dan sebuah surat yang ditulis Priya membuatnya kembali ke team. Surat Priya itu adalah jawaban kenapa dia mesti mencapai puncak Everest. Poorna pun menuruti isi surat itu dan mencapai puncak Everest dengan rekor sebagai gadis termuda dalam usia 13 tahun 11 bulan.

Kira-kira apa ya isi surat itu?

Film ini memberi pesan yang sangat kuat tentang semangat yang tak boleh pudar meski dalam keterbatasan, keberanian yang tak kenal batas, dan juga misi hidup yang harus kita temukan. Sayangnya, ide cerita tersebut tidak diimbangi dengan plot yang dramatic, mengeksplor semangat pantang menyerah Poorna. Keindahan lanskap pegunungan dan keangkerannya juga kurang terangkum. Namun, secara keseluruhan film ini layak ditonton keluarga, terutama pesan-pesannya.

Selamat menikmati...


~ elha score: 7/10

Saturday, 5 August 2017

BANDA - THE DARK FORGOTTEN TRAIL (2017)

Film dokumenter ini adalah versi visual dari pameran Jalur Rempah - The Untold Story di Museum Nasional pada tahun 2015 dimana Sheila Timothy dan suami sebagai produsen pernah mengunjunginya. Rasa penasaran tentang perdagangan rempah yang mengubah wajah dunia namun terlupakan atau hilang dari catatan sejarah membuatnya berkeinginan membuat film agar terekam sebagai sejarah. Bekeja sama dengan Jay Subyakto sebagai sutradara dan Irfan Ramli sebagai penulis cerita, mereka mewujudkannya dalam film Banda - The Forgotten Trail.

Diawali dengan narasi (dibawakan oleh Reza Rahardian) tentang perburuan penjelajah-penjelajah Eropa ke belahan timur dunia untuk mencari sumber daya alam yang sangat berharga. Segenggam pala, misalnya, lebih berharga ketimbang emas kala itu di pasar Eropa. Salah satu manfaat pala adalah untuk mengawetkan makanan yang saat itu sangat dibutuhkan untuk perbekalan ketika berlayar atau saat berada di peperangan. Sehingga ada pepatah, siapa yang menguasai pala, berarti menguasai dunia. 


Banda adalah pulau utama penghasil pala. Kepulauan Banda saat itu menjadi satu-satunya tempat pohon-pohon pala tumbuh menjadi kawasan yang paling diperebutkan. Belanda bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (sekarang Manhattan, NY) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Pembantaian massal dan perbudakan pertama di Nusantara juga terjadi di Kepulauan Banda (wikipedia).

Film ini juga menyorot pulau Banda saat penjajahan Belanda dimana pulau yang terpencil ini menjadi tempat buangan tokoh-tokoh pergerakan atau ulama-ulama yang menentang Belanda. Hatta, Syahrir, Iwa Kusuma, dan tokoh-tokoh dari Jawa, Sumatera, Aceh, dll. Kehadiran tokoh-tokoh dari berbagai daerah bercampur dengan budak-budak yang didatang dari eplosok negeri membuat Banda sebagai miniatur dari Indonesia. Ini menginspirasi Dr. Muhammad Hatta untuk menyusun entitas kebangsaan Indonesia.

Film ini pun menampilkan Banda dalam waktu kekinian ketika pala bukan lagi komoditas utama dunia, harapan masyarakat Banda tentang lingkungan dan tradisinya, juga kiprah pemuda Banda. Juga sedikit dikisahkan konflik SARA yang sempat menodai kehidupan Banda. Yang bercerita adalah tokoh yang terlibat di peristiwa itu.

Jay sebagai sutradara mampu memotret wajah Banda dulu dan sekarang. Pengambilan gambar pun mengesankan dengan suara latar yang turut menghidupkan suasana. Tidak ada tokoh utama dalam film ini, namun 'perjalanan' para bocah ketika bermain di sepanjang situs dan ketika berlayar dan menyanyikan lagu Nasional mampu memperkuat kesan cerita. Beberapa animasi dan bayangan pun mendukung kisah.
Agar sejarah tidak lenyap begitu saja, bolehlah film ini ditonton bersama keluarga agar kita menyadari bahwa menghargai sejarah dapat menmpercerah masa depan bangsa.


"...melupakan sejarah berarti mematikan masa depan..."


~ elha score: 8/10

Saturday, 29 July 2017

HINDI MEDIUM (2017)

Raja Batra (Irfann Khan) adalah seorang pengusaha fashion di kota kecil di India. Ia termasuk keluarga berada dan konglomerat disana, meskipun tidak terlalu berpendidikan dan tak memiliki kemampuan berbahasa Inggris dengan baik. Sebaliknya, sang istri - Meeta (Saba Qamar) - sangat cakap bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Ia cenderung berpenampilan high class dan sangat protektif terhadap putrinya, Pia (Dishita Sehgal). Memikirkan masa depan yang sangat kompetitif, ia terobsesi untuk memasukkan Pia ke sekolah elite agar masa depan anaknya terjamin.

Bersama Raj, Meeta berburu sekolah elite yang kebanyakan, tentu saja, dihuni oleh keluarga elite. Namun, sekolah-sekolah tersebut hanya menerima calon murid yang bertempat tinggal dalam radius 3 km dari sekolah tersebut. Rumah mereka berada diluar radius tersebut. Agar Pia bisa masuk sekolah elite, Meeta memaksa Raj agar pindah ke daerah elite Vasant Vihar yang berada dekat sekolah. Raj yang sangat terikat dengan rumah asalnya terpaksa mengikuti saran Meeta. Ia pun mesti berusaha tampil elite seperti tetangga-tetangga di kompleks itu. Bahkan sampai harus 'melupakan' kesenangannya, seperti menyanyi dan menari. Untuk meningkatkan status sosial, mereka pun menyewa konsultan yang mengatur penampilan, cara berkomunikasi, cara menjawab saat interview kelas, dsb. Sayangnya, bahkan dengan segala upaya itu, Pia tetap tidak lolos masuk sekolah elit. Bukan karena Pia, tetapi karena mereka dianggap belum mampu bersosialisasi seperti kaum high class. 

Tak putus asa, Raj mencari cara lain agar Pia tetap bisa masuk sekolah elite. Ternyata tiap sekolah memiliki kuota 25% yang diperuntukkan bagi masyarakat tak mampu. Raj pun mendaftarkan Pia melalui jalur RET (Right to Education) di sekolah elite  Delhi Grammar School. Berpura-pura jadi orang miskin, mereka pindah ke daerah kumuh tempat masyarakat terpinggirkan berada. Hal ini untuk mengelabui pengawas yang akan memeriksa keadaan sosial keluarga-keluarga yang mendaftarkan anaknya melalui jalur RET. Karena jalur ini pun ditengarai banyak disalahgunakan oleh oknum dan orang-orang kaya yang terobsesi dengan masa depan anak, sepertti yang Raj dan Meeta lakukan.

Di perkampungan itu mereka berkenalan dengan keluarga Shyamprakash Kori (Deepak Dobriyal) yang mengajari mereka cara survive sebagai orang miskin. Shyamprakash juga membantu Raj - yang bahkan rela mengorbankan nyawanya - mengumpulkan biaya 24000 rupee sebagai syarat masuk sebagai RTE (Raj sebenarnya sudah akan mengambil uang di ATM, tetapi kepergok oleh Shyam yang menguntit Raj untuk menghindarkannya dari perbuatan melanggar hukum. Shyam belum tahu Raj kaya). Dari keluarga Shyamprakash, Raj dan Meeta belajar tentang pengorbanan, keikhlasan, dan rasa bahagia tanpa alasan.

Saat pemilihan kandidat murid, kedua keluarga itu datang. Pemilihan kandidat murid dari jalur RTE dilakukan melalui undian. Pia, anak Raj dan Meeta lolos, namun Mohan - anak Shyamprakash justru tidak lolos. Ini membuat Raj dan Meeta merasa bersalah karena merampas hak Mohan yang berasal dari keluarga tak mampu dan yang berhak mengikuti jalur RTE. Mohan akhirnya masuk di sekolah pemerintah yang dipersepsikan tidak berkualitas. Menebus rasa bersalah, Raj pun menyumbang sekolah pemerintah tersebut agar lebih bermutu dan mampu bersaing. Ia memperbaiki sarana dan menambah fasilitas sekolah tersebut.


Film ini bergenre drama komedi dengan ide mengkritik sistem pendidikan dan masyarakat India yang lebih tergiur kepada status dan obsesi pribadi ketimbang peduli kepada minat anak. Eh, tapi disini juga masih ada yang begitu sih!. Meski kurang optimal, Irfaan Khan bermain bagus sebagai seorang suami yang sayang sama istri dan menuruti kemauannya. Pesan ada di akhir film dimana Raj dan Meeta menyadari bahwa pendidikan yang baik bukan terletak pada elite tidaknya sebuah sekolah. Namun, pada kemampuan sekolah tersebut memberi ruang kepada minat dan bakat anak.


Hmm...bagaimana dengan kita?


~ elha score: 7/10


          

Thursday, 27 July 2017

NIL BATTEY SANTANA (2016)

"Terima kasih Tuhan, telah menciptakan seorang mahluk yang luar biasa: IBU"

Apeksha "Apu" Shivlal Sahay (Ria Shukla) seorang pelajar kelas 10 harus menghadapi ujian kelulusannya. Bersama kedua rekannya - Sweety (Neha Prajapati) dan Pintu (Prashant Tiwari), ia mesti meningkatkan nilai matematikanya agar memperoleh poin kelulusan. Namun,  Apu telah kehilangan motivasi belajar dan berkeyakinan tidak akan mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi karena kekurangan biaya. 

Ibunya, Chanda Sahay (Swara Bhaskar), yang bekerja sebagai pembantu di rumah Dr. Diwan (Ratna Pathak) dan kerja serabutan, selalu memotivasi Apu untuk terus belajar agar lulus ujian dan meyakinkannya bahwa ia memiliki tabungan untuk kelanjutan sekolahnya. Tapi, Apu tidak percaya. Sikapnya makin menjengkelkan. Ia tetap pada 'prinsip'nya bahwa anak seorang pembantu kelak akan jadi seorang pembantu.

Chanda pun mengadu kepada Dr. Diwan yang menganjurkan agar Chanda bersekolah lagi sehingga bisa mengajar Apu sendiri. Mulanya Chanda ingin memasukkan Apu ke BimBel, namun tak mampu menanggung biaya. Atas desakan Dr. Diwan ke Kepala Sekolah, akhirnya Chanda diterima sebagai murid baru dan sekelas dengan anaknya, Apu. 

Apu yang malu kalau ibunya bersekolah (dan sekelas lagi! namun teman-teman Apu tidak tahu hubungan keduanya) menerima tantangan ibunya untuk mengalahkan nilai ibunya di pelajaran Matematika. Mulailah mereka berdua belajar kepada teman sekelas yang pintar matematika, yang memberi nasehat:

"Mempelajari matematika itu akan lebih mudah jika kita kaitkan dengan keseharian kita", ujarnya. "Seringkali jawaban di persoalan matematika terkandung didalam pertanyaan itu sendiri"   

Film ini memberi pesan tentang menumbuhkan motivasi, pantang menyerah, dan mengenali potensi diri. Perjuangan seorang ibu untuk memotivasi anaknya dengan sangat baik diperankan oleh Swara Bhaskar. Ditunjukkan juga bahwa lingkungan pun berpengaruh pada perkembangan motivasi belajar anak, yang ditampakkan pada adegan seorang guru dan teman dekat.

Di akhir kisah Apu terkena 'karma' atas ucapannya: bahwa anak seorang pembantu akan menjadi pembantu. Ya.. ia bakal menjadi seorang pelayan. Namun, sebagai pejabat pemerintahan sebagai pelayan masyarakat. Ibunya sendiri, setelah lulus dari sekolah, mulai memberi bimbingan belajar matematika untuk anak-anak tidak mampu.

Keren kan? Film ini inspiratif untuk ditonton oleh keluarga


~ lukman score 7/10

Wednesday, 26 July 2017

DUNKIRK (2017)

Cerita film ini sudah ada di benak Christopher Nolan sebagai sutradara dan penulis skenario sejak 20-an tahun silam. Kehati-hatian untuk membuat film sejarah besar-lah yang membuatnya baru sekarang terwujud.

Film bermula dengan serombongan pasukan Inggris yang berjalan menyusuri jalanan kota yang senyap. Tiba-tiba rentetan senjata Jerman memberondong pasukan tersebut yang segera kocar-kacir menyelamatkan diri. Hanya seorang prajurit - Tommy (Fionn Whitehead) - yang selamat, yang segera berlari menuju pantai. Di pantai tampak ribuan prajurit berkumpul dan berjejer menunggu untuk dievakuasi. Tentara Inggris dan Perancis memang terdesak ke pantai Dunkirk dan terkepung tentara Jerman.

Keseluruhan kisah film yang bersetiing PD 2 ini tentang usaha evakuasi tentara Inggris melalui kanal laut. Usaha evakuasi tersebut diwakili dengan kehadiran Tommy yang berupaya kembali ke Inggris dengan segala cara. Dalam usaha evakuasi tersebut, mereka dibayangi dengan serangan dari pasukan Jerman melalui udara. Beberapa kali pesawat tempur Jerman menjatuhkan bom dan tembakan yang mengakibat kapal karam dan banyak prajurit tewas. Pesawat tempur Jerman menjadi momok yang menakutkan.

Dunkirk (2017) berkisah melalui 3 aspek: (1) tanggul/daratan, yang diwakili evakuasi para tentara, ekpresi para prajurit yang putus asa, apatis, berharap. Kerangka film waktu di daratan adalah 1 minggu. (2) laut, beberapa kapal pribadi, berupa kapal layar, kapal pedagang menyambut seruan pemerintah untuk membantu evakuasi. Aksi diwakili oleh Mr. Dawson (Mark Rylance) dan anaknya, Peter (Tom Glynn-Carney). Kerangka waktunya 1 hari. (3) udara, yang mempertunjukkan dogfight antara pesawat tempur Inggris dan pesawat penge-bom Jerman. Farrier (Tom Hardy) sebagai pilot pesawat tempur Inggris mewakili adegan ini. Kerangka waktunya 1 jam.

Kerangka waktu yang berbeda-beda ini menjalin dalam satu kesatuan film. Unik kan? Karena berbeda, beberapa kali ada adegan flashback yang kemungkinan besar tidak disadari penonton. Menyaksikan film ini seperti merasakan sendiri perjuangan para prajurit untuk kembali ke rumah. Serasa cobaan datang terus menerus. Ketika sudah mencapai kapal pengangkut, tiba-tiba ditorpedo oleh kapal selam Jerman, sehingga kapal karam dan para prajurit mesti menyelamatkan diri. Ada rasa putus asa yang diwakili dengan adegan seorang prajurit yang berjalan menuju lautan, mencopot perlengkapan perangkapan dan mencebur ke lautan dengan disaksikan rekan lainnya yang hanya diam menononton. Namun, juga selalu ada rasa harap yang diwakili dengan adegan serombongan prajurit yang terus berusaha mencari kapal yang bisa dimanfaatkan untuk pulang. 

Ada pula rasa pesimis, takut dicemooh, ketika balik ke Inggris karena kegagalan perang. Namun, ternyata justru masyarakat Inggris menyambut mereka yang pulang bak pahlawan. Itu sering kita alami pula kan? Takut menghadapi bayang-bayang, yang ternyata kenyataannya bertolak belakang dengan bayang-bayang yang kita takutkan tersebut. Semangat heroik diwakili oleh Mr. Dawson yang merelakan diri dan kapalnya untuk menjemput prajurit kembali pulang ke kampung halaman, Juga adegan pertempuran udara Ferrier yang merelakan dirinya ditawan pasukan Jerman, karena pesawatnya terdampar di wilayah musuh karena kehabisan bahan bakar.

Christopher Nolan sengaja tidak memasang pemeran utama dalam film ini. Meskipun benang merah ada pada sosok Tommy, namun dia tetap terkesan sebagai anomim. Meskipun demikian, masing-masing tokoh dalam film berperan sangat bagus sesuai perannya. Termasuk Cillian Murphy yang berperan sebagai prajurit yang mengalami trauma. Dia menggigil sepanjang film.

Jangan membayangkan film ini penuh pertempuran dan darah seperti film perang konvesional lainnya. Alih-alih, film perang ini justru mencekam penonton dan turut merasakan apa yang dirasakan para prajurit di film. Sound effect film pun turut membantu penonton menyelam ke dalam atmosfer film ini.

This is very reccomended film. Silakan ditonton...




~ elha score: 9/10

Wednesday, 28 June 2017

SWEET 20 (REMAKE FROM MISS GRANNY, 2016)

Film yang bertabur bintang dan cameo dari generasi lama sampai baru  ini adalah genre sitkom. Adalah Fatma (Niniek L. Karim), seorang nenek 2 cucu yang tinggal bersama anaknya, Adit (Lukman Sardi) dan menantunya, Salma (Cut Mini). Fatma berkarakter dominan dan keras. Ia sangat membanggakan Adit anaknya dan menyanyangi kedua cucunya, Juna (Kevin Julio) dan Luna (Alexa Key). Sampai-sampai ia terlalu ikut campur dengan urusan pendidikan Juna dan Luna yang membuat Salma tersinggung. Ia pun cerewet untuk urusan dapur. Apapun yang dilakukan Salma selalu salah di matanya.

Konflik terjadi ketika Salma sakit dan dirawat di rumah sakit. Mungkin stress. Permintaan Salma agar ibu mertuanya tidak tinggal serumah lagi dengan mereka membuat Adit mengalami dilema. Kedua anaknya pun berseteru, Juna membela sang nenek, Luna tidak mau kehilangan ibu. Fatma yang mendengar persteruan itupun akhirnya mengambil keputusan untuk pergi dari rumah. Dalam perjalanan dan kesedihannya ia melihat sebuah studio photo "Forever Young". Ia pun masuk ke studio itu dan meminta difoto sebelum ia tampak makin tua keriput.

Ajaibnya setelah berfoto di tempat itu, ia menjadi lebih muda 50 tahun menadi gadis cantik. Menyadari ia kembali muda, Fatma - yang sekarang berganti nama menjadi Mieke (Tatjana Saphira) - memulai kehidupan yang baru dan berupaya mewujudkan keinginannya dulu yang belum tercapai, menjadi seorang penyanyi terkenal. Ia kemudian bergabung dengan group band Juna, cucunya, yang ingin berkarir di bidang musik namun mendapat tentangan dari kedua orangtuanya. Mieke terus mensupport cucunya, eh Juna, untuk tetap bersemangat dan menekuni jalur musik. Ia juga yang merubah genre musik band Juna dari metal menjadi pop rock dengan mengaransemen lagu-lagu lama. 

Meski sudah kembali muda, suasana hati dan pergaulan Mieke masih seperti nenek-nenek. Jadul, he...he... Gaya berpakaian dan berbahasanya - yang suka menasehati - membuat film terasa segar dengan situasi yang berbalut komedi tersebut.

Akhir group band Juna bisa tampil di televisi yang diproduseri oleh Alan (Morgan Oey). Lama-kelamaan Juna, Alan, dan Hamzah (Slamet Rahardjo) - yang sudah memendam cinta kepada Fatma - menaruh hati kepada Mieke. Nah, bagaimana kelanjutannya? Dimanakah cinta Mieke berlabuh? 

Silakan ditonton ya... Kocak habis deh!

Remake dari film Korea, Miss Granny (2016) dan diadaptasi dengan alur yang memikat, film ini memberi beberapa pesan yang disampaikan tanpa menggurui. Tentang pengabdian seorang ibu, tentang passion anak, tentang kesepian seorang manula, dll. Pada sebuah adegan diceritakan seorang Rahayu (Widyawati Sophiaan) gemar becerita tentang anaknya yang tinggal di Amerika. Namun, ketika meninggal, yang ada di nomer kontaknya hanya 2 nama: Fatma dan Hamzah, dua orang teman dan seterunya.

Niniek L. Karim bermain peran bagus sebagai nenek yang cerewet sekaligus perhatian, begitu pula Tatjana Saphira yang memainkan peran Fatma muda yang energik, lincah, dan penuh semangat, sekaligus karakter nenek-nenek yang muncul disana-sini. Lukman Sardi pun mampu mengimbangi sebagai seorang ayah yang mengalami dilema dan sebagai anak yang mencintai ibunya. Di adegan penghujung film, dialog keduanya sangat mengharukan.

Beberapa cameo bintang lama, seperti Hengky Sulaeman, Rudi Wowor, Rima Melati, Rina Hasyim, maupun bintang-bintang kekinian - Tika Panggabean, Joe P Project, Vicky Nitinegoro, Aliando turut membantu memberi warna pada kisah dan film.

Sipp!   


~ lukman score: 7.5/10