Saturday, 14 July 2018

SKYSCRAPER (2018)

Inti film ini adalah cinta keluarga. Bagaimana cinta terhadap keluarga memberikan motivasi yang kuat untuk melakukan sesuatu. Adalah Will Ford (Dwayne Johnson), seorang pakar keamanan spesialis gedung penvakar langit, yang diberi tugas untuk menjamin sistem keamanan The Pearl, sebuah gedung pencakar langit tertinggi dan termegah di China.

Awal film dimulai dengan kisah penyanderaan. Will Ford yang saat itu sebagai pimpinan FBI Hostage Rescue Team bertugas untuk membebaskan sebuah keluarga dari penyanderaan. Alih-alih menyelamatkan sandera, Will terkena ledakan granat yang membuat satu kakinya teramputasi. Scene ini rupanya untuk memberikan penonton persepsi baru tentang karakter Dwayne Johnson. Di film-film sebelumnya Dwayne yang mantan atlit wrestling ditokohkan sebagai seorang yang kuat dan gesit - terlihat dari tubuhnya yang kekar - namun di film ini ia dibuat invalid yang terkesan lemah. Dan itu membuat penontonton makin terkecam dengan aksi-aksinya sepanjang film. 

Bersama keluarganya, Will diundang oleh sang pemilik The Pearl, Zhao Long Ji (Chin Han), untuk bermalam di salah satu kamar lantai 98 selama Will bertugas memeriksa jaminan keamanan sebelum gedung ini akan dibuka untuk umum. Selain keluarganya dan team Zhao yang berada di puncak Griya Tawang, belum ada orang lain yang tinggal di gedung itu. Ketika Will meninjau lokasi sistem keamanan yang terletak beberapa km jauhnya, terjadi kebakaran di lantai 95. Ternyata, sekelompok orang dan beberapa anggota Zhao yang berkhianat juga teman Will mendalangi kebakaran tersebut untuk memeras Zhao. Sistem pengendali kebakaran pun dibajak oleh kelompok tersebut sehingga kebakaran menjalar ke lantai lainnya, tidak terisolasi di lantai 98. Melihat keluarganya yang masih berada di gedung itu terancam nyawanya, Will pun bergegas kembali ke gedung. Alih-alih hendak menyelamatkan keluarganya, Will malah dituduh ikut berkelompot dengan anggota kriminal. Aksi-aksi Will Ford yang berusaha memasuki gedung pencakar langit dari ketinggian untuk menyelamatkan keluarga juga bersiasat untuk mengalahkan para kriminal membuat penonton menahan nafas karena amat mencekam. Beberapa adegan komedi ditambahkan untuk memberi kesempatan penonton tersenyum dan bernafas lega...:).

Bagaimana Will Ford meyakinkan polisi bahwa dia bukan tersangka, hanya hendak menyelamatkan keluarganya? Silakan ditonton ya...

Film ini mengingatkan pada film lawas yang dimainkan Bruce Willis, Die Hard. Baik adegan aksi maupun siasat untuk melumpuhkan kawanan penjahat, ditambah adegan lompat dari crane menuju gedung yang seru. Film ini pun terasa bernuansa aksi film Mandarin karena setting film memang di Hongkong, China. 

Cinta pada keluarga memang membuat motivasi bertambah untuk melakukan sesuatu yang nampak muskil dilakukan. Nah, bagaimana cinta anda pada keluarga? Maukah melakukan sesuatu di luar ambang diri hanya untuk keluarga?

Hmm...


~ elha score: 7.5/10

Wednesday, 4 July 2018

SANJU (2018)

Adalah film tentang satu fragmen nyata dari kehidupan Sanjay Dutt, bintang film India yang disutradari oleh Rajkumar Hirani (3 idiots, PK). Sanjay Dutt pertama kali bekerja sama dengan Hirani di film Munna Bhai M.B.B.S. yang memberi penghargaan kepadanya sebagai artis komedian terbaik 2004.

Film diawali dengan jenaka saat teman Sanju (Ranbir Kapoor) membuatkan biografi untuknya yang membandingkannya dengan guru bangsa India, Mahatma Gandhi. Alih-alih menyukai, Sanju malah merobek-robek buku itu dan membakarnya. Pas dilayar televisi terdengar berita tentang putusan pengadilan yang memberatkannya. Ya, Sanju saat itu Sanju sedang didakwa dengan UU Teroris dan sedang mengajukan permohonan banding. Berita itu pun dilahap oleh pers dan diberitakan secara luas tanpa mengkonfirmasi sisi berita lainnya dari pihaknya. Sosok Sanju sendiri memang kontroversial sejak muda. Berasal dari keluarga berada dari sepasang suami isteri artis tenar, ketergantungan terhadap narkoba, playboy, dsb. menjadikan berita tentangnya laku di pasaran. The bad news is a good news.

Untuk mengantisipasi pemberitaan tersebut, istri Sanju - Manyata Dutt (Dia Mirza) - meminta Winnie Diaz (Anushka Sharma), seorang biografer terkenal, untuk menuliskan kisah tentang Sanju. Awalnya Dizas menolak, namun karena agitasi dari seseorang yang mengaku mengenal Sanju secara pribadi - yang membuatnya makin penasaran, juga sepenggal kisah yang diceritakan oleh Sanju sendiri yang membuatnya menyetujui untuk menulis kisah tersebut. Cerita pada film berdasarkan alur Diaz mengorek informasi untuk menuliskan bukunya.

Sang sutradara - seperti dalam film-film sebelumnya, cukup jeli dan menarik membuat alur film. Hirani membagi alur cerita dalam 3 bagian yang saling berhubungan: saat Sanju remaja berada dalam masa depresi karena dibawah bayang-bayang sang ayah (Paresh Rawal)yang menginginkan sang anak seperti dirinya, meninggalnya sang ibu yang membuatnya makin terpuruk dalam narkoba, sampai usahanya untuk lepas dari ketrgantungan narkoba. Pada kisah dimasukkan tokoh antagonis, Zubin Mistri (Jim Sarbh) sang pengedar, dan tokoh protaganis, Kamless (Vicky Kaushal) , seorang sahabat. Bagian kedua adalah outusnya persahabatan karena salah paham, dan yang ketiga adalah keterlibatan Sanju pada pengeboman di India pada tahun 1993 yang membuatnya dituduh dan dipenjara.

Hirani meramu ketiga sekuel kehidupan tersebut dengan menarik dan beberapa bumbu komedi dan tragedi, misalnya ketika Sanju disangka hendak melamar Ruby di hadapan calon mertua atau ketika ia terlupa menghadiri pernikahannya karena teler berat. Ranbir Kapoor bermain cemerlang dengan memerankan tokoh Sanjay Dutt dalam 3 sekuel kehidupannya. Ia mampu memerankan dengan baik peran sebagai pemuda lugu, pemuda nakal dan berandalan, sosok dewasa yang ketakutan, dan bijak di penghujung film. Nush Sharma pun bermain bagus sebagai reporter. Ia memainkan peran yang mirip dengan film sebelumnya, PK, yang juga disutradari Hirani. Kali ini Nush bergaya rambut kriwil ikal.

Pesan yang ingin disampaikan di film ini adalah tentang informasi. Kebiasan informasi bisa membuat salah paham, bahkan bisa membuat kehidupan seseorang berantakan. Hirani mencoba mengkritik media yang hanya mementingkan oplah ketimbang kebenaran berita. Trial by the press, bahkan saat pengadilan belum memutuskan perkara. Ini mirip dengan kejadian di negeri ini dimana banyak media menjadi partisan dan terkelompok yang hanya membuat berita menurut frame kacamata kelompoknya sendiri ketimbang kesluruhan kebenaran. Haddeehh! Pesan lain dari film ini adalah upaya untuk bangkit dari keterpurukan, kesadaran diri sendiri, dan usaha-usaha para shabat dan orang tua untuk membantunya. Nasehat-nasehat ayah Sanju yang disampaikan lewat lagu sangat membekas pada dirinya, juga penonton. 

Keren...

Bagi penggemar film, terutama Hindi, film ini tidak patut dilewatkan. Hanya saja jika membawa anak-anak, mesti diberi pengertian pada beberapa scene film yang melibatkan 'masa nakal' Sanju dan istilah-istilah yang saru.


~ elha score: 8.5/10


Monday, 4 June 2018

THE BEST EXOTIC MARIGOLD HOTEL (2011)

Berdasarkan novel berjudul These Foolish Things karya Deborah Moggach, berkisah tentang sekelompok pensiunan dari Inggris yang pergi ke India karena tawaran menginap murah di sebuah hotel yang dijalankan oleh seorang pemuda yang energik dan optimis, Sonny (Dev Pattel).

Film diawali dengan pengenalan karakter para tokoh dan persoalan yang membuat mereka pergi menuju Jaipur, India. Evelyn (Judi Dench), seorang janda yang baru saja menjual rumah untuk menutupi hutang yang ditinggalkan suaminya, Graham (Tom Wilkinson), seorang pensiunan hakim yang pernah menghabiskan masa 18 tahun di India dan ingin kembali kesana untuk satu tujuan, pasangan suami istri Jean (Penelope Wilton) dan Douglas (Bill Nighy) yang mencoba menikmati masa pensiunnya secara irit karena tabungan mereka habis untuk investasi di perusahaan anak mereka, Muriel (Maggie Smith), seorang pensiunan pengurus rumah tangga, pergi ke India untuk pengobatan dan operasi pinggulnya dengan biaya murah dan cepat. Muriel berkarakter merendahkan ras lain selain orang Inggris. Lalu ada Meggie (Celia Emrie) yang sedang mencari calon suami yang kaya raya, dan Norman (Ronald Pickup), perjaka tua yang mencoba mencari keperkasaannya lagi. Mereka semua pergi menuju hotel Marigold yang diiklankan oleh Sonny sebagai hotel yang paling eksotik di India dengan budget murah.

Begitu tiba di hotel, mereka disambut dengan Sonny yang langsung mengajak berkeliling dan menceritakan dengan antusias rencana-rencananya tentang fasilitas dan kenyamanan hotel, meski pada saat itu fasilitas yang dijanjikan di iklan tidak sesuai fakta. Beberapa pensiunan bisa menerima keadaan itu. Graham tiap hari berkeliling kota mencari teman masa kecilnya yang rumahnya sudah digusur, Douglas pun berkeliling kota menikmati suasana dan budaya, sedangkan sang istri lebih suka mendekam di kamar, ingin segera kembali pulang ke Inggris. Evelyn bekerja sebagai seorang trainer di perusahaan jasa, Norman dan Meggie bolak-balik ke club tempat para orang separoh baya mencari kawan. Muriel yang awalnya bersikap sinis kepada pribumi mulai menaruh hormat seiring interaksinya dengan seorang dokter yang ahli menangani penyakitnya dan pelayan hotel yang selalu bersikap sopan. Bahkan, ia membantu Sonny untuk mengelola hotel. Sonny sendiri pun memiliki masalah dengan ibunya yang hendak menjual hotel tersebut dan tidak menyetujui menjalin hubungan kasih dengan Sunaina (Tina Desai).

Maing-masing tokoh memiliki persoalan masing-masing...

Film ini beralur linier namun tidak membosankan. Satu-persatu masalah para tokoh terselesaikan dengan tidak menggurui. Ada yang sad, ada yang happy ending. Suasana kota Jaipur yang padat dan ramai seperti hari-hari biasa terekam dengan sempurna. Para tokoh [un bermain bagus meskipun tidak terlalu luar biasa. Beberapa ada pesan sisipan yang bisa dipersepsikan  'kontroversial' dengan homoseksual dan kebebasan. Di luar itu, film ini bolehlah dinikmati untuk menyelami diri apa yang hendak dicari jika tua nanti.

Silakan dinikmati...


~ elha score: 7.5/10

Wednesday, 23 May 2018

DUM LAGA KE HAISHA (2015)

Dalam versi Internasional berjudul My Big Fat Bride, sebuah film komedi romantic berkisah tentang Prem Prakash Tiwari (Ayushmann Khurrana) dan Sandhya (Bhumi Pednekar). Prem yang drop out dari SMA karena tidak lulus bahasa Inggris bekerja di toko kaset konvensional milik ayahnya. Sang ayah yang kesal dan geram ingin menikahkan sang anak dengan seorang putri yang berpenghasilan agar dapat meringankan beban keluarga. 

Atas informasi dari pendeta di kuil, keluarga Prem dipertemukan dengan keluarga Sandhya. Alih-alih hendak menikah dengan wanita dambaannya yang berpenampilan seperti Juhi Cawla, Prem justru dijodohkan dengan wanita yang gemuk. Namun, karena tak punya kuasa, ia hanya menuruti kemauan orang tua. 

Karena perbedaan frame of reference (FOR) dan frame of experience (FOE), pernikahan tersebut tidak mudah. Keluarga Sandhya yang berpendidikan berbeda pandangan dengan keluarga Prem yang seperti selalu tertiban kesialan. Sandhya yang lebih berpendidikan pun dipandang tidak hormat kepada orang tua dan keluarga Prem - bahan kepada ibuya sendiri - karena selalu berargumentasi. Dan akhirnya konflik memuncak ketika Prem dan Sandhya menghadiri pernikahan. Prem yang terlalu banyak minum dan mabuk, menceritkan uneg-unegnya tentang pernikahan tanpa cinta yang merendahkan Sandhya di depan teman-temannya. Sandhya yang juga mendengar hinaan itu pun jadi emosi, dan menampar Prem. Sandhya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah orang tuanya dan mengajukan permohonan cerai.

Di pengadilan, sang Hakim memutuskan untuk memberi kesempatan kedua pasangan tersebut untuk tinggal bersama selama 6 bulan. Jika masih tidak ada solusi dan titik temu, keputusan cerai akan disahkan. Keduanya pun tinggal bersama lagi. Justru ketika pernikahan di ujung tanduk, mereka malah bisa saling mengisi dan mencurahkan perasaan masing-masing. Ketika ada perlombaan menggendong dengan hadiah uang yang bisa digunakan untuk modal toko kaset, kedua pasangan tersebut saling membantu.

Seringkali, persoalan dalam pernikahan dapat mudah diselesaikan dengan saling menghormati dan berkomunikasi...bukan sekedar saling bicara.

Film ini memiliki alur yang sederhana namun dengan pesan yang kuat tentang kehidupan keluarga dan pernikahan. Konflik pun mengalir seperti hal biasa dalam pernikahan dan pemecahannya pun wajar. Pednekar bermain bagus dalam debut filmnya ini. Bahkan ia mesti menaikkan berat badan sebesar 30 kg untuk peran Sandhya. Pantas bila ia menerima penghargaan sebagai aktris terbaik dalam film perdana. Kehadiran Kumar Sanu, penyanyi top India, sebagai cameo juga menambah warna film ini.

Silakan ditonton dan dinikmati... 

~ elha score: 7.5/10

Monday, 14 May 2018

HICHKI (2018)

Adalah Naina Mathur (Rani Mukherjee), seorang lulusan MSc dan Phd. di bidang pendidikan. Ia menderita sindrome Tourette, suatu gejala kelainan syaraf yang menyebabkannya kesulitan mengontrol semacam cegukan. Semakin emosi perasaannya, semakin sering cegukan terjadi. Di masa kecil, hal itu menyebabkan ia dikeluarkan dari sekolah sebanyak 18 kali. Sang ibu menolak memasukkan Naina kecil ke sekolah khusus karena beranggapan ia adalah anak normal dan akan dimasukkan ke sekolah normal dan mendapat perlakuan sama seperti anak lainnya. Sampai seorang kepala sekolah di St. Notker's School menerimanya dan memperlakukannya sama dengan siswa lain.

Ketika sudah besar dan lulus, terinspirasi dari sang kepala sekolah yang menerimanya, Naina bercita-cita menjadi seorang guru. Sayang, karena 'keanehannya' tersebut ia beberapa kali ditolak. Ketika almamaternya, St. Notker's School, membutuhkan guru pengganti sementara, ia pun mengajukan proposal. Sebenarnya ini adalah proposal kelima kali yang ia ajukan ke sekolah tersebut. Ia pun diterima.....untuk menangani anak-anak kelas 9F (F = Failed) yang dipimpin oleh Aatish (Harsh Mayar). Kelas ini berisi murid-murid dari perkampungan kumuh yang diterima di sekolah elite tersebut karena peraturan kuota dari pemerintah dalam Program Wajib Belajar. Mereka anak-anak berandal dan tak tahu aturan. Dalam enam bulan terakhir sudah ada 7 wali kelas untuk menangani kelas tersebut, namun tak sanggup menangani anak-anak tersebut.

Naina menerima tantangan tersebut.

Film ini diadaptasi dari film TV Front of the Class, kisah tentang Brad Cohen. Berkisah tentang perjuangan seorang guru dengan keterbatasan wicaranya dan tantangan internal sekolah. Selintas kita akan teringat pada seorang guru dengan film Laskr Pelangi (2008), ibu Muslimah (Cut Mini Theo). Pada sebuah adegan ketika Naina mengunjungi rumah orang tua para murid untuk menyelami keadaan dan kondisi keluarga mereka yang mengingatkan pada adegan film Little Big Master (2015). Film-film tentang guru semacam ini memang mengharukan sekaligus menginspirasi.

Rani Mukherjee yang muncul lagi setelah lama vakum bermain bagus. Ia mewarnai film tersebut dengan karakter kuatnya. Sepanjang film, Rani mesti 'cegukan' dan ia melakukannya dengan baik. Ia juga berperan sabar untuk dapat mengambil hati anak-anak berandal tersebut dengan cara mengajar yang berbeda dan interaktif agar mereka lebih mudah memahami. Cara mengajar yang seperti bermain ini membuat salah seorang guru protes karena tidak sesuai sillabus. Namun seorang murid perempuan, Natasha (Jannat Zubair Rahmani) dari kelompok kelas paling pintar, 9A, berucap ketika menyanggah temannya saat melihat kelompok itu belajar di lapangan olah raga:

"...mereka mungkin aneh, tapi mereka belajar dengan bersenang-senang..."

Film ini direkomendasikan untuk ditonton oleh keluarga. Banyak pesan positif yang disampaikan, diantaranya pantang menyerah untuk mencapai tujuan dan cita-cita, memahami karakter tiap anak dan bakatnya untuk memberi pengajaran yang sesuai, saling support, dsb.

Di akhir film - flash back ke depan - Naina yang telah menjadi Kepala Sekolah St. Natker's School mengakhiri masa jabatannya (pensiun) dan disambut oleh mantan murid-murid 'berandalnya' yang sekarang sudah jadi orang. Moment ini sangat mengharukan.

Silakan ditonton ya...  

~ elha score: 8/10  

Wednesday, 21 February 2018

BUNDA: CINTA 2 KODI (2018)

Sepertinya semua film dari novel Asmanadia kami tonton. Termasuk satu yang ini, yang kami tonton secara premier. Film-film Asmanadia sangat menarik karena berkisah tentang cinta, keluarga, kemanusiaan, dll. Kali ini tentang cinta dan keluarga. O, ya PolJa_by_Noor jadi salah satu sponsor di acara nobar film ini di XXI The Breeze. Pas kan dengan cerita film yang banyak berkisah tentang urusan jahit menjahit dan retail garment.

Film dengan cara yang menarik - berupa animasi kartun - diawali dengan kisah perkenalan karakter keluarga, pertemuan dua insan, dan kelahiran anak pertama. Juga seekor keong, yang ternyata merupakan pengikat awal dan akhir cerita. Film ini berttutu dari sudut pandanga Fahrul (Ario Bayu), suami Tika (Acha Septriasa). Dikisahkan pertemuan awal mereka di KRL saat Tika terjatuh pingsan dan 'disembuhkan' oleh Fahrul dengan seekor keong. Kisah pun berlanjut saat keduanya membina rumah tangga dan memiliki seorang putri, Alda (Shaquilla Nugraha). Ketika Tika hamil anak kedua, prahara rumah tangga pun dimulai. Mengikuti perintah sang Ibu, dengan berat hati Fahrul meninggalkan istri dan anaknya meski ia masih mencintainya. Bahkan ketika Tika melahirkan anak kedua (Arina Mindhisya), Fahrul tak mendampingi. Tika pun berjuang sendirian menghidupi diri dan kedua anaknya sebagai pekerja di sebuah perusahaan retail.

Ketika akhirnya Fahrul kembali ke rumah, Tika yang juga masih mencintainya menrima Fahrul, meski ada kekecewaan dalam hatinya. Kekecewaan seringkali timbul ketika ia mengalami masalah. Saat Alda melanggar aturan ibunya untuk tidak memasuki ruang kerja, Tika sangat marah. Bahkan sang suami yang menasehatinya pun kena imbas kemarahan. Amarah Tika meledak ketika Fahrul yang ditugasi mengambil bahan kain - ketika usaha busana Muslim Keke mulai jalan - menghilangkan sebagian bahan tersebut. Celetukan Tika yang terdengar oleh Fahrul membuatnya gundah, danmemutuskan untuk menerima pekerjaan yang mengharuskannya berpisah dengan keluarga.

Perpisahan ini dan kesibukan Tika membuat kedua anak mereka seperti tidak ada bimbingan. Tika yang kerap memaksakan kehendak membuat kedua anaknya tidak betah dan pergi mencari sang ayah. Tika harus memutuskan apakah meneruskan kesempatan yang diperolehnya, yang mungkin cuma datang sekali, atau berkumpul bersama keluarga yang utuh.

Film ini mengaduk emosi penonton, terutama para ibu. Tak ada keberpihakan pada peran ayah atau peran ibu. Di awal film, emosi penonton diarahkan untuk 'sebel' sama Fahrul yang begitu saja meninggalkan istri dan tidak menemani kelahiran anak kedua. Bahkan tiba-tiba muncul untuk ruju dan kembali ke rumah Tika. Fahrul digambarkan sebagai seorang lelaki yang patuh sama ibunda, namun terlihat lemah di mata Tika. Namun, ada pesan bijak yang diucapkan Tika terhadap posisi Fahrul tersebut:

"...anak laki-laki memang harus bertanggung jawab pada 3 perempuan: ibunya, saudara perempuannya, dan anaknya. Terima kasih sudah melakukan itu semua..." 

Di pertengahan film ketika usaha busana muslim Keke mulai maju, penonton gantian mulai diarahkan sebel sama Tika karena lebih mementingkan usaha ketimbang suami dan anak-anaknya. Sampai-sampai demi mengambil hati sang anak Tika memberi hadiah sebiah kamar tidur lengkap dengan ranjang kasur dan perlengkapan lainnya. Sayangnya, Alda yang rupanya lebih menyukai tempat tidur lamanya (suka di bawah kolong tempat tidur menggambar kisah keluarga) sangat marah pada sang ibunda. Dan pergi.

Peran Aca sangat menantang, karena harus memerankan Tika yang gampang moody perasaannya. Fahrul pun mampu mengimbangi sebagai seorang suami yang lebih banyak diam, namun sesekali memutuskan dan memberi arahan, meskipun masih menyimpan rasa bersalah. Kedua anak mereka mampu memebuat penonton terhibur. Berperan suka ria, dan kadang-kadang marah atau ngambek. Arina sebagai anak kedua sangat menggemaskan.

Keong sebagai pembuka cerita, muncul juga sebagai binatang peliharaan Alda yang diletakkan di kolong, dan sebagai penutup cerita memberi arti kemanapun ia pergi selalu menggendong rumahnya. Kemanapun kita pergi, seberapa jauh usaha kita maju, jangan lupakan kehangatan rumah.

Home sweet home 

Selamat menikmati..



~ elha score: 7.5/10

Sunday, 18 February 2018

BLACK PANTHER (2018)

Sebenarnya film ini bukan genre kesukaan, tapi karena Qaulan penasaran tentang tokoh Marvel (dia belum pernah menonton film-film Marvel), akhirnya disempatkan untuk menonton di hari kedua setelah tayang di XXI Alam Sutra. Lumayan penuh dengan beberapa studio tayang bersamaan. Ternyata, film Black Panther ini agak 'berbeda' dengan film Marvel lainnya. Yang mencolok adalah keseluruhan pemain adalah berkulit hitam, kecuali 2 orang. Ya, memang tokoh Marvel kali ini memang berasal dari benua hitam Afrika. Tokoh Black Panther pun lebih humanis dan family man

Keseluruhan kisah film ini tentang suksesi kepemimpinan di negeri Wakanda. Kisah bermula berabad-abad lalu yang digambarkan secara komikal tentang meteorit jatuh di negeri Wakanda yang menyimpan material terkuat di dunia, Vibranium, dan kemunculan sang Black Panther.

Sepeninggal sang ayah, T'Challa (Chadwick Boseman) didaulat menjadi raja dan pelindung negeri Wakanda. Semua wakil suku setuju dipimpin oleh sang raja baru yang segera diberi kekuatan Black Panther melalui bunga herbal hati. Namun, ada satu orang yang tidak setuju dan menyimpan dendam lama. Dia adalah Erik 'Killmonger' Stevens (Michael B. Jordan), yang ternyata - melalui plot twist - adalah sepupu sang raja. Sejarah dan perbedaan sikap antara sang ayah dan adik (paman T'Challa) rupanya mewarnai sikap dan pendirian si Killmonger maupun sang Black Panther.

Menonton film ini seperti menonton cuplikan-cuplikan ide film James Bond tentang kecanggihan teknologi dan senjata-senjata mutakhir. Juga tokoh dibalik senjata dan teknologi mutakhir tersebut yang adalah adik sang raja, Shuri (Lettitia Wright) yang mirip DR. Q di film-film James Bond. Penggambaran negeri Wakanda yang amat makur namun tersamarkan dari dunia luar pun mengingatkan pada negeri tempat Wonder Woman (tokoh superhero DC Comics) berasal. Juga ide tentang pertemuan nenk buyut yang mengingatkan pada reuni keluarga di film animasi Coco (2017).

Adegan menarik ketika T'Challa berbicara di depan Perwakilan Bangsa-Bangsa dan mengutarakan keinginannya untuk memberi sumbangsih pada peradaban dunia yang lebih, seorang utusan dari suatu negera menanyakan:

"Apa yang bisa diberikan oleh bangsa petani terhadap dunia?"

T'Challa hanya tersenyum simpul.

Secara keseluruhan film ini sangat menghibur. Tidak perlu menyerngitkan dahi untuk memahami cerita. Film ini juga tentang keluarga, kesetiakawanan, dan upaya untuk membuat dunia lebih damai. 

Silakan menikmati... 

~ elha score: 7.5/10