Friday, 17 September 2021

SUNDAY STORY (2017)

 A mother is she who can take the place of all others, but whose place no one else can take

~ Cardinal Meymillod



Bunyi-bunyian di pagi hari terdengar saling bersahutan menggantikan bunyi kokok ayam jantan. Kalau pernah tinggal di kompleks perumahan kota, Anda akan akrab mendengar alunan suara: “…bacang, bacang…bacang ayam!” atau jingle produk roti atau dentingan suara pak lontong sayur atau bubur ayam. Kokok ayam justru jarang terdengar. Entah karena tak ada yang punya atau sang ayam sudah jadi santapan kriuk di meja.

Namun, jauh sebelum mereka semua itu bersuara, sesosok mahluk sudah terbangun dan sibuk dengan dunianya. Bebersih rumah, beberes dapur, mencuci, menyetrika, menyiapkan bekal buat ananda dan kakanda adalah rutinitas harian. Sepekan 24 x 7. Sosok itu adalah emak. Ia adalah mahluk multitasking yang diciptakan Tuhan untuk bisa mengisi semua posisi dan peran, namun tak ada yang mampu menggantikan posisinya.

Film pendek Sunday Story dibuka memotret adegan kesibukan emak sebagai ritual harian. Alih-alih mematuhi perintah emak untuk segera mandi, anak lelakinya malah langsung pergi bermain. Lalu, membangunkan bapak yang masih pulas untuk segera bangkit dan mengantar anak perempuan ke sekolah. Si bapak tak beranjak. Kesal, si emak mengantarkan sendiri anak perempuannya ke sekolah.  Ada kesadaran padanya bahwa meskipun hidup tak bergelimang harta, pendidikan anak tetap menjadi prioritas utama. Suatu prinsip yang umumnya dianut para emak peduli pendidikan garis keras. Wajar saja, bukankah ada peribahasa: emak adalah madrasah pertama dan utama bagi putra-putrinya?

Adegan berikutnya adalah puncak dari alur cerita film berdurasi 10 menit ini. Tak lama pergi, si emak kembali dari sekolah dengan raut muka kesal. Urusan sekolah sepertinya malah menambah beban. Sekilas ia memandang bapak yang sedang duduk ngopi di beranda, dan langsung menuju dapur. Duduk dan diam. Bagi seorang wanita yang dianugerahi oleh Sang Pencipta 20000 kata per hari, diam adalah pertanda kejengkelan paripurna.


DAPUR, SUMUR, KASUR

Septi Peni Wulandani, founder komunitas Ibu Profesional, berusaha mengubah pola pikir lama tentang ibu (rumah tangga). Kalau dulu urusan “dapur, sumur, kasur” menjadi suatu keniscayaan karena bersuamikan seorang laki-laki, beliau mengubah maknanya menjadi lebih berdaya. Karena itu Mbak Septi menyelipkan kata “profesional” setelah kata ibu pada nama komunitasnya, yang berarti bersungguh-sungguh menjalankan peran sebagai ibu, baik yang bekerja di ranah domestik maupun yang berkativitas di ranah publik.

Falsafah Jawa yang melekat pada ‘nasib’ perempuan adalah konsep dapur, sumur, dan kasur. Saat ini konsep tersebut lebih diartikan secara peyoratif dan seolah menjadi beban bagi para ibu yang ingin berperan lebih luas. Komunitas Ibu Profesional mencoba memberi makna baru—atau lebih tepatnya menggali makna sesungguhnya—dari falsafah ini. Pemaknaan baru ini mampu memberikan martabat dan kebanggaan sebagai seorang ibu (rumah tangga).

Dapur, adalah segala urusan tentang masak-memasak dan asupan makanan. Di beberapa daerah di India, dapur adalah daerah kekuasaan ibu (skena Dangal, 2016). Dalam makna kekinian, urusan dapur meliputi persediaan bahan makanan, menemukan penyedia bahan makanan yang affordable, memastikan bahwa makanan tersebut halal dan bergizi, dan sebagainya. Pada makna yang baru, peran ibu sebagai ahli gizi dan pakar supply chain. Dalam bahasa fitrah Ustaz Harry Santosa, Ibu memiliki peran sebagai health nutrition maker.

Jaman dulu, sumur adalah tempat mandi dan mencuci. Mandi dan mencuci berkonotasi erat dengan kebersihan dan kesehatan. Kebersihan erat kaitannya dengan keindahan. Jadi, peran ibu di sini adalah  pakar kesehatan dan pakar stylist keluarga, memastikan seluruh anggota keluarga selalu menjaga kesucian, kesehatan, dan keindahan. Dalam bahasa fitrah, Ibu berperan sebagai harmony & aethestic keeper.

Sedangkan kasur bukan sekadar urusan melayani suami. Cakupannya lebih besar, yaitu memastikan generasi keturunannya adalah generasi unggul, dari segi wujud maupun pengetahuannya. Generasi insan kamil. Jika seorang ayah sebagai pembangun logika, maka ibu berperan sebagai penumbuh rasa. Jika ayah adalah pembangun karakter kinerja dan ketangguhan, ibu berbepran sebagai pembentuk karakter moral dan nurani welas asih (owner of conscience and morality).

Nah, keren kan?

Tentu saja, pernak-pernik urusan rumah tangga tak pernah berkurang. Kadang perlu 24 jam waktu ibu. Namun, jika 24 jam waktu yang telah disediakan oleh Tuhan masih terasa kurang, berarti ada yang mesti kita tengok kembali dalam hal pengelolaan waktu.


KANDANG WAKTU

Pada salah satu ilmu di jenjang Institut Ibu Profesional, para ibu belajar cara mengelola waktu agar mereka tidak merasa tertekan dan aktivitas yang mereka lakukan tetap bermakna, bukan terpaksa. Mereka menamakannya kandang waktu.

Ada kuadran aktivitas untuk Mengelola waktu. Terbagi menjadi kuadran pertama: tentang sesuatu yang penting dikerjakan dan bahagia mengerjakannya, kuadran kedua: tidak penting tapi suka mengerjakannya, kuadran ketiga: tidak penting dan tidak suka, dan kuadran keempat: tidak suka tapi harus dikerjakan. Mereka lebih dulu fokus pada kuadran pertama dan keempat.

Kandang waktu dibuat untuk membantu para ibu agar aktivitas yang penting dan mendesak tidak saling berdesakan untuk diselesaikan. Pada aktivitas yang harus dikerjakan dan senang mengerjakannya, mereka mengalokasi waktu yang lebih lama ketimbang aktivitas sebaliknya. Jadi, lebih menghabiskan energi positif dan  menghasilkan energi positif juga: kebahagiaan.

Patut dicoba ….

_______________


Akhir film menarik untuk ditelaah, yang menyiratkan sebuah aturan tak tertulis ketika terjadi konflik dalam keluarga: diam dan sabar.

Si bapak pun pergi ke dalam rumah, melihat emak yang duduk diam termenung dan kecele—wajah kesal masih ada di rautnya. Alih-alih mengolok, si bapak mengambil perkakas bekas makan, membawanya ke dapur, dan membersihkannya. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menghibur emak, istrinya. Ia adalah laki-laki sederhana, yang mungkin bernasib sama dengan kisah suami ini:

“Jadi, istri saya sakit apa, Dok?”

“Setelah diperiksa, istri Anda menderita stres akut karena terlalu banyak beban kerja. Agar sembuh, Bapak mesti mengajak istri refreshing, berlibur ke tempat-tempat wisata. Boleh wisata lokal, tapi kalau mau cespleng, ya diajak ke lokasi-lokasi indah di luar negeri,” saran dokter.

“Bagaimana, Pak? Jadinya kita pergi kemana?” tanya si istri begitu keluar dari praktik dokter.

“Kita pergi ke dokter yang lain saja, Bu!” jawabnya.


_____o_____


Wednesday, 26 February 2020

DARK WATERS (2019)

Menonton film ini langsung terbayang novel karangan John Grisham, The Appeal, yang sama sama berkisah tentang pencemaran lingkungan oleh perusahaan besar. Hanya saja di novel lebih dramatis karena melibatkan intrik politik di seputar pemilihan hakim untuk mengadili kasus tersebut.

Di film plot-nya lebih lunak yang hanya melibatkan seorang pengacara dan perusahaan kimia DuPont sebagai tergugat.

Robert Bilott (Mark Ruffallo) adalah seorang pengacara dari firma Taft Settinius & Hollister yang baru saja dijadikan rekanan oleh perusahaan kimia besar. Ketika sedang melakukan pertemuan dengan klien, Bilott didatanga oleh seorang petani, Wilbur Tenant (Bill Camp), yang memintanya mewakili dirinya untuk menggugat perusahaan yang diduga membuang limbah berbahaya di lingkungannya. Tentu saja Bilott merasa dilema karena saat ini ia - bersama firmanya - mewakili perusahaan kimia. Namun, Bilott menyempatkan mengunjungi peternakan Wilbur sekedar karena sang petani adalah teman nenek Bilott. 

Di lokasi, Wilbur mengajak Bilott melihat sungai yang tercemar dan memperlihatkan berupa potongan-potongan daging cacat dari sapi yang tewas. Melihat bukti-bukti tersebut, Bilott pun bertanya ke pengacara DuPont tentang kasus pembuangan limbah pada proses pembuat Teflon. Merasa ada yang tak beres, Bilott pun menjadi pengacara Wilbur untuk mengajukan gugatan terhadap DuPont. 

DuPont adalah perusahaan besar dan memberikan kesempatan tenaga kerja yang banyak di kota kecil tersebut. Juga menyediakan fasilitas publik. Gugatan Wilbur terhadap perusahaan tersebut, memancing antipati terhadap keluarga Wilbur yang dianggap merusak keharmonisan.

Perjuangan Wilbur dan sang pengacara sungguh luar biasa. Dari mencari bukti-bukti dokumentasi pengujian Teflon, orang-orang yang terdampak pengaruh limbah beracun, dsb. Ini mirip di Novel John Grisham. Atau jangan-jangan Grisham terinspirasi dari kisah ini.

Mau tahu berapa lama kasus ini selesai? Lebih dari 20 tahun! Bayangkan stamina seorang pengacara dan penggungat dalam melakukan perlawanan hukum terhadap perusahaan besar. Bahkan ketika keputusan tersebut dibuat, Wilbur Tenant sudah meninggal.

Apa yang bisa kita tangkap dari pesan moral film ini selain tentang peduli lingkungan, adalah bahwa perjuangan mencari kebenaran itu jalan yang panjang, tak boleh putus asa jika kita yakin terhadap kebenaran tersebut. Bahkan jika kita tak sempat menikmati hasil keyakinan kita tersebut.

Robert Bilott dan Wilbur Tenant membuktikan...

Film ini enaknya ditonton jika waktu kita senggang, tidak diburu oleh tugas, dsb. karena alur berjalan lambat. Pun tidak ada ketegangan layaknya film action. Namun kita bisa menyaksikan kalutnya keluarga Wilbur, sang penggugat, ketika dikucilkan oleh tetangga dan masyarakat. Kita pun bisa berkaca pada sang pengacara yang memiliki keteguhan sikap dan pantang menyerah.

Jadi, silakan dinikmati...


elha score: 7.5/10

Saturday, 15 February 2020

KAI PO CHE! (2013)

Ini film yang kesekian kalinya diadaptasi dari novel Chetan Bhagat, penulis India terkenal: Three Mistakes of My Life. Yang lainnya adalah Hello (2008) dari  novel One Night @the Call Centre, 3 idiots (2009) dari novel Five Point Someone, 2 States (2014), dan yang terbaru Half Girlfriend (2017).

Kai Po Che! yang berarti "Putus!", sebuah seruan kalau kita berhasil memutus layang-layang lawan dalam adu layang. Seperti pada 3 idiots, Kai Po Che! juga berpusat pada 3 sahabat: Ishaan (Sushant Singh Rajput), Govind (Rajkummar Rao). dan Omit (Amit Sadh). Kalau 3 orang sahabat di 3 idiots berlatar universitas, maka di Kai Po Che! mereka berminat di bidang olahraga, terutama kriket. Plot film berkilas balik dengan keluarnya Omit dari penjara, bertemu dengan Govind dan mengenang masa 12 tahun silam.

Tiga sahabat memiliki minat yang sama dalam bidang olahraga. Namun berbeda di bidangnya. Ishaan yang mantan altit kriket lokal ingin membina anak-anak berbakat olahraga, Omit ingin mendirikan klu olahraga, sedangkan Govind ingin memiliki toko olahraga. Mereka bersepakat membuat toko olahraga plus pelatihan dan klubnya. Ingin memperluas usaha Govind memindahkan tokonya di pusat kota dengan menyewa ruangan strategis dari mall yang baru dibuka. Mereka meminjam uang kepada paman Omit yang juga tokoh politik partai Hindu di daerah tersebut. Sayangnya, gempa besar yang menimpa Gujarat, India tahun 2001 mehnghancurkan mall sekaligus tokohnya.

Kesulitan membayar hutang, membuat Omit mematuhi permintaan pamannya untuk terjun ke politik membantu kampanye sang paman. Saat itu memang menjelang pemilihan wakil negeri. Suasana politik di daerah itu makin hari makin menghangat melibatkan dua kelompok besar: partai Hindu dan partai Muslim,

Ishaan mulai melatih anak-anak berbakat. Salah satunya adalah Ali Hashmi (Digvijay Deshmukh) yang ayahnya adalah fanatik pendukung partai Muslim. Ishaan menempa Ali menjadi pemukul bola yang tangguh.

Sayangnya tragedi Godhra Train Massacre membuat persahabatan mereka yang sudah renggang makin terpecah. Kerusuhan sosial dan penyerangan ke komunitas muslim sebagai balas dendam terhadap peristiwa tersebut semakin membuat keadaan kacau. Ishaan yang pergi ke kampung Muslim dan berusaha melindungi Ali dan keluarganya tewas terkena tembakan.

Nah, bagaimana kelanjutannya? Bolehlah ditonton filmnya atau dibaca bukunya...

Seperti novel (dan adaptasi) filmnya, Chetan Bhagat memberi kritik sosial. Kali ini tentang pandngan politik berbau fanatik agama. Pandangan sempit tentang politik dan agama ini membuat pola pikir yang rasialis. Ishaan yang atlit kriket tak bisa meneruskan karirnya karena pandangan ini. Keluarga Ali tak bisa meminta bantuan ketika rumah mereka hancur tertimpa gempa dan kekurangan bahan makanan kepada kelompok lain yang menagnut pandangan politik berbeda.

Chetan Bhagat ingin memberi pesan bahwa dengan olahraga semua yang tercerai berai itu bisa dirajut kembali, sekat-sekat yang terbentuk bisa  lebur, tidak memandang pandangan politik dan agaman yang dianut. Ia melakukannya degan kriket, olahraga yang paling disukai oleh rakyat India.

Di tayangan akhir, Ishaan tersenyum ketika Ali yang sudah menjadi atlit nasional mampu melakukan pukulan "off-side" terbaik yang pernah diajarkannya.

Film ini - dengan beberapa bimbingan terutama saat communal riots, bisa ditonton oleh keluarga. 

Sipp!


~ elha score: 8.0/10

Tuesday, 11 February 2020

JOJO RABBIT (2019)

Film ini memperoleh penghargaan Oscar 2020 sebagai Film Adaptasi Terbaik. Film ini adalah paradi-satir tentang Pemuda Hitler, salah satu sayap organisasi Partai Nazi. Adalah Johanes "Jojo' Betzler (Roman Griffin Davis), bocah 10 tahun, yang tinggal di daerah Nazi Jerman dan menjadi anggota Jungvolk, junior dari Pemuda Hitler.

Seperti umumnya bocah-bocah lain, Jojo juga menerima doktrin tentang cintah negara, loyal kepada sang Fuhrer, doktrin tentang ras Arya yang unggul, dsb. Ketika mengikuti sebuah camp, Jojo diperintahkan untuk membunuh seekor kelinci. Alih-alih melakukannya, ia malah melepaskan kelinci tersebut. Oleh teman-temannya ia pun dijuluki Jojo Rabbit merujuk pada kpengecutannya. Sempat kesal dengan julukan tersebut, teman khyalan Jojo - yang digambarkan sebagai Adolf yang jenaka - tetap memberi semangat.Teman khayalan ini yang senantiasa mendukung Jojo dan membuatnya dia berani. Juga selalu menanamkan tentang loyalitas dan keunggulan ras.

Semangat Nazi dan antisemit begitu membekas. Namun, ketika tahu bahwa ibunya, Frau Rosie Bletzer (Scarlett Johansson), menyembunyikan seorang gadis Yahudi di loteng atas rumah, ia begitu kecewa dan hendak melaporkan ke Gestapo. Namun urung karena sang gadis, Elsa Korr (Thomasin McKenzie), memberitahu Jojo kalau ia melaporkan ibunya juga akan dibunuh karena menyembunyikannya. Akhirnya Jojo bernegoisasi dan meminta Elsa menceritakan tentang bangsa Yahudi. Cerita ini hendak dibuat buku oleh Jojo untuk dikirimkan ke komandannya.

Ada saat menegangkan ketika Gestapo menggeledah rumah Jojo karena memperoleh informasi tentang beberapa orang yang menyembunyikan orang-orang Yahudi. Untungnya, Elsa yang muncul tidak terpergok. Ia menyamar menjadi kakak Jojo, Inga.

Film tentang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari kekejaman Nazi pernah juga dibuat seperti The Zookeeper's Wife (2017). Film dibuat lebih jenaka dengan menampilkan tokoh sang Fuhrer yang lucu sebagai teman khayalan Jojo. Juga memberi pesan tentang semangat dan optimisme keluar dari kesulitan. Pesan ini mirip dengan film Life is Beatifull (1997) yang juga berkisah tentang Nazi dan memperoleh Oscar sebagai film asing terbaik. 

Ibu Jojo yang anti Nazi memberi pemahaman kepada Jojo tentang arti cinta. Dan ketika ditanya apa yang akan dilakukan dengan kebebasan, sang ibu menjawab: menari... Sayangnya sang ibu tak sempat menari

Dengan beberapa adegan yang perlu bimbingan, film ini bisa ditonton dan dinikmati oleh keluarga.


~ elha score: 8.0/10




Thursday, 23 January 2020

1917 (2019)

Dalam kengerian film-film bertema perang, selalu terselip kisah tentang pengorbanan, persahabatan, tanggung jawab, bela negara, dsb. Pun demikian dengan film 1917 ini. Dengan latar belakang Perang Dunia I, film ini berkisah tentang dua parjurit yang ditugaskan untuk mengirim pesan tertulis ke batalyon Sekutu untuk menunda serangan ke pasukan Jerman.

Adalah Kopral Tom Blake (Dean Charles Chapman) dan William Schofield (George McKay) yang diperintah oleh Jendral Erinmore (Colin Firth) untuk mengirim surat perintah tertulis ke batalyon Devonshire. Untuk tujuan ini mereka berdua harus melewati wilayah pasukan Jerman. Pesan tertulis menjadi satu-satunya cara ketika kabel telepon diputus oleh tentara Jerman. Surat perintah itu sendiri adalah untuk menunda serangan batalyon Devons karena diketahui pasukan Jerman berstrategi pura-pura mundur, dan siap melakukan serangan balik.

Mengendap-endap kopral Blake dan Schofield melewati tanah-tanah yang gersang dengan beberapa mayat manusia dan hewan bergelimpangan. Sang sutradara mampu menyajikan gambaran perang yang menelan banyak korban dan menyeramkan. Di sebuah lahan pertanian, mereka menyaksikan 3 pesawat tempur sedang 'dog-fight', dan salah satunya jatuh dan terbakar di dekat mereka. Ternyata itu pesawat musuh. Tom Blake yang hendak menolong sang pilot yang terbakar justruk ditusuk dan tewas. Pilot itu sendiri pun tewas ditembak oleh Schofield. Sebelum meninggal Blake berpesan agar Schofield menuntaskan misi dan meminta agar menemukan kakaknya, Joseph Blake. 

Film ini pun lalu berkisah tentang perjuangan Schofield melewati wilayah Jerman, lolos dari tembakan sniper, menghindar dari berondongan peluru dan kejaran pasukan Jerman. Akhirnya Schofield sampai di markas batalyon Devonshire, namun sayang pasukan ini telah melancarkan serangan pertama.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Kopral Schofield bisa menyerahkan surat tersebut ke Komandan Batalyon Devonshire dan menyelamatkan 1600 jiwa?

Film ini beralur linear, mudah diikuti dan tidak membuat penonton berpikir. Gambaran tentang kedukaan perang sangat terwakili dengan bergelimpangan banyak korban dan bangunan-bangunan yang hancur. Suasana sepi dan warna kelabu menambah kesan muram ini. Tidak seperti film-film perang lainnya yang memunculkan ketegangan membekas pada penoton, seperti Fury (2014), Hacksaw Ridge (2016), Dunkirk (2017), atau sekelas Platoon (1986) dan Saving Private Ryan (1998), plot cerita film ini sangat kurang dramatik dan mengaduk-aduk emosi penonton.

Meskipun demikian, film ini menampilkan pesan yang kuat. Selain tentang kepahlawanan, pengorbanan, kesia-siaan perang, juga tentang menuntaskan misi. Tiap-tiap kita menyandang misi hidup masing-masing - bahkan di saat damai. Nah, apakah kita menyadari misi ini dan bertekad menuntaskan?

Silakan direnungkan...  

~ elha score: 7.0/10

Monday, 6 January 2020

CHHICHHORE (2019)

Film Chhichhore yang artinya slèngèkan dan tidak serius berkisah tentang reuni teman-teman kuliah yang bisa menyelamatkan nyawa. Ah, bagaimana ceritanya? Nitesh Tiwari, yang juga menyutradarai Chillar Party (2011) dan Dangal (2016), membuat alur kisahnya menarik untuk dinikmati.

Adalah Raghav Pathak (Mohammad Samav) yang merasa cemas tidak lolos masuk ke IIT (Indian Institute of Technology). Kampus favorit dimana ayah ibunya pernah bersekolah dan menjadi enginer sukses seperti saat ini. Raghav sudah belajar dan mempersiapkan diri selama berbulan-bulan untuk menempuh ujian masuk ini. Bahkan ia mengorbankan waktu bermain dan liburannya. Baginya waktu mesti dimanfaatkan sebaik mungkin untuk belajar. Sang ibu, Maya (Shraddha Kapoor) mengingatkan sang ayah Anirudh Pathak (Sushant Singh Rajput) agar menasehati sang anak agar lebih santuy menghadapi ujiannya. Maya dan Ani sudah bercerai dan berpisah tempat tinggal. Raghav memilih tinggal bersama sang ayah.

Ketika pengumuman hasil ujian masuk tiba, Raghav tak percaya ia tak lolos masuk institut favorit tersebut. Kecewa dengan perngorbanan selama ini dan tertekan merasa takut dijuluki pecundang, ia memutuskan menerjunkan diri dari lantai 3 rumahnya. Sayangnya, ia tak langsung tewas, eh... Dilarikan ke rumah sakit, Raghav menderita luka otak cukup parah. Dokter memberitahu Maya dan Ani bahwa pemulihan akan sulit jika Raghav tak memiliki keinginan untuk hidup.  Mengetahui bahwa penyebab utama adalah ketakutan Raghav dijuluki the loser, Ani berkisah di sampingnya bahwa di masa kuliah pun ia pernah dijuluki pecundang. Raghav merespon selama Ani bercerita tentang. jaman kuliah. Hal itu memberi ide untuk memgundang tokoh-tokoh nyata di kisah itu agar Raghav percaya kisahnya bukan bualan motivasi saja.

Maka, reuni the losers pun terjadi di ruang rumah sakit. Masing-masing teman Ani dan Maya bercerita profil mereka selama kuliah dan kenapa mereka dijuluki pecundang. Mereka adalah Gurmeet Sigh Dhillon (Varun Sharma), kakak kelas yang pornholic; Acid (Naveen Polishetty), kakak kelas yang suka mengumpat dan berlidah tajam; Derek (Tahir Raj BHasin), kakak kelas 2 tingkat yang bersifat rebel; Sundar Shrivastav (Tushar Pandey), anak mami yang ayahnya pengin teman-teman seasrama meng-ospek-nya agar jadi lelaki tangguh; dan Bevda (Saharsh Kumar), kakak kelas yang pemabuk. Mereka tinggal satu asarama di blok H-4. Blok asrama ini dijuluki pecundang karena selalu di urutan buncit di kompetisi olahraga bergengsi yang diadakan di kampus tersebut. Blok yang selalu unggul adalah blok H-3.

Kisah film ini adalah kisah penghuni blok H-4 untuk bangkit dari julukan pecundang dengan mencoba menjuarai kompetisi dan mengalahkan sang juara bertahan, H-3. Ani dan Derek - yang pernah ditawari untuk tinggal di blok bergengsi H-3 namun menolak - mencoba memotivasi sesama rekan penghuni yang karena 'labelling' akhirnya merasa yakin mereka memang pecundang dan tak punya harapan untuk menang.  Nitesh Tiwari menekan sebuah pesan bahwa labelling buruk bisa sangat berbahaya. Ad akisa romance juga antara Ani dan Maya yang tinggal di asrama putri blok H-10. Moment ini untuk menggambarkan karakter ini yang pantang menyerah untuk mendapatkan idola kampus meskipun dari blok pecundang.

Alur cerita dibuat flashback bolak-balik untuk menekankan kisah kenangan tersebut kepada Raghav. Setiap akhir kisah yang diceritakan pelaku asli, Raghav selalu tersenyum menanggapi kekonyolan ayah ibu dan teman-teman mereka. Di akhir film, sang sutradara memberi sedikit ketegangan dalam 2 masa berbeda. Yang satu ketika dokter memutuskan untuk mengoperasi Raghav, namun Ani meminta tambahan waktu bercerita agar kisah silamnya juga selesai. Dan yang kedua di masa berbeda, penentuan juara kompetisi ditentukan di arena basket dimana Ani adalah jagoan di olahraga itu. Kesempatan 3 poin akan memenangkan mereka dan menjuarai kompetisi musim itu.

Nah, apakah lemparan 3 poin itu berhasil dan blok H-4 menjuarai kompetisi? Film ini pun berpesan untuk menghargai proses dan tetap berusaha mengejar impian. Seringkali keluar dari nasib pecundang ditentukan dari cara kita melihat diri sendiri. 

Yang menarik dan 'membumi' dengan kita adalah saat berkumpul dengan teman-teman lama dan mengenang masa silam serta menertawai kekonyolan kita sendiri. Dan, bisa jadi itulah obat atau penawar keruwetan kita dalam menjalani hidup. Ani dan Maya karena kenangan romantis masa kuliah menjadi berkaca diri bagaimana mereka bisa klik dan klop saat itu. 

Lalu bagaimana nasib Raghav? Silakan ditonton untuk untuk menyelesaikan alu kisahnya. Boleh dinikmati bareng keluarga, namun beberapa adegan perlu pendampingan dari sisi bahasa dan tingkah.

Sipp!


~elha score: 8/10     

Saturday, 28 December 2019

THE PRESTIGE (2006)

Film ini juga salah satu karya Christoper Nolan yang memiliki plot twist yang menegangkan, membuat penonton penasaran seperti pada The Shawshank Redemption (1994). Nolan memang piawai membuat film-film dengan tema seperti ini, mengeksplorasi konsep waktu (Inception, Transcendence, Interstellar), memori (Memento, Insomnia), dan identitas (Trilogi Batman, dll).

Kali ini 'bermain-main' dengan konsep waktu-ruang seperti di Interstellar dan identitas.

Adalah Angier (Hugh Jackman) dan Borden (Christian Bale), dua orang asisten magician yang awalnya berteman. Gegara salah membuat ikatan saat pertunjukkan, istri Angier, JuliaMc Cullough (Piper Purabo), tewas saat melakukan trik tangki air. Angier menyalahkan Borden yang bertanggung membuat ikatan tangan. Sejak saat itu mereka bermusuhan dan setelah masing-masing memiliki pertunjukkan sendiri saling menjegal saat melakukan pertunjukkan. Keduanya saling bersaing untuk menjadi yang terhebat. Bahkan sampai melakukan tindakan berbahaya. Suatu ketika Borden melakukan trik yang dinamakan Transported Man dimana Borden masuk ke pintu yang satu dan muncul di pintu lain di sisi sebelah hanya dalam waktu beberapa detik. Pertunjukkan ini sukses dan membuat Angier terobsesi menemukan metode Borden menghilang dan muncul lagi di tempat lain. Gagal menemukan metode Borden, Angier menyewa seorang aktor, Gerald Root, dan mendandani mirip seperti dia untuk tampil sebagai dia dan muncul di pintu sebelah. Pertunjukkan dengan tajuk New Transported Man pun sukses, namun Angier masih belum puas karena yang mendapat applause adalah Gerald Root. Kemudian Angier mengutus asistennya, Olivia Wenscombe (Scarlet Johansson) untuk mencuri buku harian Borden yang berisi catatan pertunjukkan dan triknya.

Dalam buku harian itu ada kata kunci TESLA merujuk pada seorang penemu Nikola Tesla. Angier meyakini Tesla membuat mesin yang memungkin Borden bisa muncul di tempat lain. Tesla pun membuatkan mesin untuk Angier dengan 1 pesan: segera dihancurkan. Namun Angier tidak mengindahkan dan justru memanfaatkannya untuk menjadi bagian dari pertunjukkan. New Transported Man sekarang benar-benar lebih mutakhir. Angier bisa muncul di tempat lain dan menikmati The Prestige, bagian akhir dari sebuah ilusi dan menikmati tepukan penonton. Salah satu penonton yang bertepuk tangan adalah Borden, yang sekarang ganti penasaran bagaimana Angier bisa muncul di belakang penonton. Maka, ketika menonton pertunjukkannya lagi Borden segera berlalri ke belakang panggung untuk melihat trik, tapi dia menemukan Angier terbenam di kotak air dan tewas. Berada di tempat kejadian, Borden dituduh melakukan pembunuhan terhadap Angier.    

Borden pun dipenjara dan segera diekseskusi di tiang gantungan. Menjelang eksekusi, muncullah Lord Cardlow yang ternyata adalah Angier/Great Danton. Angier puas karena bisa mengalahkan Borden. Namun, ketika hendak melakukan aksi terakhir dengan menggunakan mesin Tesla, muncullah sesosok orang yang menembak mati mati Angier/Lord Cardlow. Sosok itu adalah Fallon yang ternyata juga adalah Borden.

Nah, bagaimana sosok Angier dan Borden yang tewas bisa muncul kembali? Silakan dinikmati film ini sampai habis ya... Seperti sebuah sulap, kejutannya selalu ada di akhir: The Prestige.

Seperti film Nolan lainnya, The Prestige memiliki plot yang rumit membuat penonton penasaran menyaksikan film ini sampai selesai. Hugh Jackman dan Christian Bale bermain peran dengan bagus dengan masing-masing 2 karakter yang berbeda. Penonton akan melihat kekuatan peran masing-masing dan bisa membayangkan rivalitas kedua aktor tersebut.

Jadi, yang suka dengan film-film plot twist, film ini jangan dilewatkan.

Sipp!


~ elha score: 8.5/10




Friday, 27 December 2019

THE SHAWSHANK REDEMPTION (1994)

Jika googling tentang film sepanjang masa atau film dengan plot twist, The Shawshank Redemption selalu tercantum. Bahkan di deretan pertama. Jadi penasaran.... Eh, ternyata sudah pernah lihat, tapi waktu itu dari pertengahan. Bolehlah sekarang menonton sepenuhnya.

Menonton film ini mengingatkani pada novel Alexandre Dumas, Monte Cristo, terutama ide untuk lolos dari penjara. Dan memang, Monte Cristo dan Alexandre Dumas terucapkan oleh tokoh utama film ini dalam salah satu adegan dialognya. Film ini diadaptasi dari novelis famous, Stephen King: Rita Hayworth & Shawshank Redemption. Kok bisa nama seorang bintang film terkenal tahun 40-an jadi sebuah judul novel? Nah, ia memang jadi tokoh penting di novel dan adaptasi filmnya...meskipun hanya dalam bentuk poster.

Mau tahu?

Shawshank Redemption adalah sebuah penjara untuk orang-orang kriminal dengan penjagaan super ketat dan sipir-sipir penjara yang tak segan berbuah overaction hanya agar penjara ini 'tenteram'. Rata-rata penghuni penampungan ini divonis bersalah dengan kurungan puluhan tahun. Saking lamanya ada penghuni yang sudah renta dan merasa ketakutan jika sudah bebas dan berbaur dengan masyarakat normal.

Adalah Andy Drufesne (Tim Robbins), seorang direktur bank yang dituduh membunuh istri dan kekasihnya. Jejak-jejak keberadaan Andy di dekat lokasi kejadian menjadi bukti memberatkan. Bukti meringankan berupa pistol justru dibuang dan tidak ditemukan. Maka, Andy pun divonis hukuman 2x seumur hidup dan dikirim ke penjara Shawshank Redemption pada tahun 1947. Disana Andy berkenalan dengan seorang penyelundup segala macam barang ke penjara (yang ini jadi teringat novel King Rat-nya James Clavell), Ellis Boyd Redding (Morgan Freeman). Melalui Red, Andy memesan sebuah palu kecil dan poster Rita Hayworth. Palu kecil digunakan untuk megukir batu yang menjadi kesukaan Andy. Menurut Red palu kecil itu perlu waktu 600 tahun untuk membobol tembok penjara.

Dua tahun di penjara dengan segala kehidupan suka dukanya, Andy menarik perhatian Kapten Sipir penjara yang brutal, Byron Hadley (Clancy Brown) setelah memberi nasehat tentang keuangan dan investasi. Yap! Andy adalah mantan direktur bank, jadi dia mempunyai keahlian di bidang itu. Berita tersebut kemudian sampai kepada Kepala Penjara, Samuel Norton (Bob Gunton) yang kemudian memanfaatkannya untuk melakukan investasi-investasi keuangan secara ilegal. Dengan keahliannya Andy melakukan pencucian uang dengan nama fiktif. Menarik ucapan Andy kepada Red, sebuah ucapan yang ironis:


"...dulu di luar penjara aku adalah orang yang jujur, tapi justru jadi penjahat ketika dalam penjara..."

Andy dipercaya penuh oleh kepala penjara dan diperbolehkan memasang poster bintang film Rita Hayworth dan belakangan Raquel Welch di dinding penjaranya. Tahun 1965 masuk seorang pemuda charming, Tommy Williams (Gill Bellows) menjadi penghuni baru. Ia sudah bolak-balik masuk penjara di berbagai negara bagian dengan dakwaan yang tak lama karena kejahatan kecil. Pembawaannya yang menyenangkan membuat cepat akrab dengan penghuni lain. Saat ngobrol berkisah tentang situasi penjara di tempat lain, Tommy berkenalan dengan seorang narapidana yang mengaku membunuh istri Andy dan kekasihnya. Andy pun menghadap kepala penjara dan meminta peradilan ulang karena si pembunuh sebenarnya sudah ditemukan. Tapi, justru Andy dihukum dan dimasukkan ke sel gelap dan Tommy tewas.

Saat itu Andy pun bertekad untuk melarikan diri dari Shawshank. Pagi hari berikutnya ketika seluruh penghuni penjara di-absent, sel tempat Andy ditahan kosong melompong. Norton, sang kepala penjara, heran bagaimana bisa Andy lenyap begitu saja. Dengan geram ia melempar buah catur ukiran Andy ke salah poster bintang film yang terpasang di dinding. Lho, ternyata poster itu jadi berlubang. Ternyata...

Andy melarikan diri dari lubang yang dibuatnya. Di luar penjara ia mengubah identitas seperti sosok fiktif buatannya yang selama ini bertransaksi keuangan. Ia pun menjadi jutawan dan mengirim surat kepada Red agar menemuinya ketika ia bebas.

Persis seperti akhir dari Monte Cristo...

Tidah heran jika film ini menempati posisi sebagai film sepanjang masa karena alur cerita yang runtut dan mengagetkan di akhir kisah. Kehidupan penjara yang 'kejam', namun ada juga persahabatan pun digambarkan dengan baik oelh sang sutradara. Tim Robbins bermain bagus dan Morgan Freeman pun mampu mendampinginya. Secara kesuluruhan film layak ditonton bagi penggemar film-film plot twist dan penuh kejutan.

Silakan dinikmati...


~ elha score; 9.5/10

Thursday, 26 December 2019

KNIVES OUT (2019)

Ketika sekilas membaca sinopsis film ini, sudah terbayang alur cerita seperti di novel Agatha Christie. Dan memang benar, bahkan film inidimulai dari investigasi dengan mewawancarai para tersangka.

Adalah novelist kaya raya, Harlan Thrombey (Christopher Plummer), yang sedang berulang tahun ke-85 dan mengundang para kerabat untuk merayakan. Esok paginya pelayan yang mengantarkan sarapan, menemukan Harlan sudah tewas dengan leher tersayat. Diduga Harlan mengakhiri hidupnya sendiri, namun seorang tak dikenal meminta seorang detektif  swasta, Benoit Blanc (Daniel Craig) untuk menyelidiki. Sang anonim ini menduga Harlan Thrombey tewas dibunuh.

Maka, dimulai serangkaian wawancara investigasi khas Agatha. 

Hal yang menarik saat wawancara berlangsung adalah tiap orang menyembunyikan fakta yang ada, yang bisa membuat mereka dicurigasi sebagai penyebab tewasnya Harlan. Tiap kerabat menjadi rentan untuk dicurigai karena memiliki problem sendiri dengan Harlan menjelang kematiannya. Joni Thrombey (Toni Colette) - janda dari mendiang anak lelaki Harlan - yang dihentikan dukungan keuangannya oleh Harlan karena berlaku curang. Atau Walt Thrombey (Michael Shannon), anak bungsu Harlan yang menjalankan bisnis penerbitan buku-bukunya di bawah bayang-bayang sang ayah. Walt ingin berinovasi, namun ditolak oleh sang ayah. Dan itu menyebabkan peselisihan. Atau cucu Harlan, Hugh Ransom Drysdale (Chris Evans), yang diketahui oleh semua orang yang hadir di pesta ulang tahun sedang bertengkar hebat dengan sang kakek, dan mengeluarkan kata-kata ancaman.

Karena para tersangka tidak mengungkapkan fakta sebenarnya saat wawancara, sang sutradara - Rian Johnson - memberikan informasi kepada penonton lewat adegan-adegan kilas.

Ada juga perawat pribadi Harlan Thrombey, Marta Cabrera (Anna de Armas), yang awal mula tidak dicurigai karena tidak berada di tempat kejadian dan bukan kerabat. Namun ketika sang pengacara novelis membacakan hak waris di depan para kerabat - yang membayangkan akan memperoleh harta waris berlimpah - tiba-tiba berpotensi menjadi tersangka utama. Ternyata Harlan sudah merubah surat wasiatnya dan memberikan semua asset dan hartanya kepada sang pelayan. Tentu saja, hal ini membuat para kerabat berang dan marah.

Alur cerita menjadi semakin rumit dan membuat penonton tegang ketika akhirnya diperoleh fakta bawah Maria Cabrera ada di lokasi ketika Harlan tewas.  Bahkan jejak-jejak keberadaannya sangat jelas. Satu-satunya saksi kunci adalah ibu Harlan yang sudah tua dan pikun, Nana Thrombey (K Callan). Hmm...itu menjadi tugas yang pelik buat sang detektif Blanc.

Kira-kira siapa pelakunya?

Film ini dari awal sudah menarik perhatian dengan memberi kejutan dengan adegan penemuan mayat sang novelis dan sosok siluet detektif saat wawancara investigasi oleh inspektur polisi. Sang sutradara menyusun plot twist yang membuat penonton terkaget-kaget namun juga akhirnya terucap: "...o, iya ya!". Adegan closing pun membekas. Ketika Marta bertanya kepada sang detektif: "Bagaimana dirimu bisa mengetahui kejadiannya?". Sang detektif hanya menjawab dengan menyentuhkan ujung kakinya ke sepatu Marta yang bernoda darah.

Usai menonton film ini, perasaan merasa terpuaskan. Wajar saja ternyata karena film ini memperoleh review 96% dari Rotten Tomattoes dan 8.1/10 dari IMDb.

Yang suka genre misteri, bolehlah dijadualkan menonton...   


~ elha score: 9/10 




Wednesday, 25 December 2019

AGATHA CHRISTIE & THE TRUTH OF MURDER (2018)

Agatha Christie, penulis terkenal yang dijuluki Queen of Crime, pernah menghilangkan diri pada tahun 1926 yang membuat heboh masyarakat Inggris. Pencariannya melibatkan 1000 polisi, 15000 sukarelawan, bahkan Sir Arthur Conan Doyle - pencipta karakter Sherlock Holmes - sampai menyewa cenayang untuk mengetahui keberadaannya.

Di tahun tersebut Agatha Christie sedang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan pernikahan dan penulisannya. Pernikahannya dengan Archibald Christie di ambang perceraian, pun mengalami kebuntuan dalam membuat plot kisah detektif yang tidak mudah ditebak.

Nah, kisah di film ini merujuk pada salah satu versi mengilangnya penulis terkenal ini.

Saat dalam masa sulit tersebut, Agatha Christie (Ruth Bradley) didatangi seorang perawat Mabel Rogers (Pippa Haywood) yang memintanya untuk menyelidik kematian sahabatnya. Awalnya sang penulis menolak karena merasa tidak berkompeten mengusut kematian di dunia nyata. Namun kemudian menerimanya dan  menyamar sebagai agen biro waris mendiang Florence  Nightingale Shore (Stacha Hicks), sang korban pembunuhan. Nah, film ini mengambil versi menghilangnya si penulis terkenal karena melakukan penyamaran untuk menyelidiki kasus pembunuhan, betul-betul kasus pembunuhan nyata, bukan kisah.

Menonton film ini sama persis dengan membaca novel Agatha Christie, terutama di bagian akhir ketika sang detektif rekaannya, Hercule Poirot, mengumpulkan para tersangka untuk diwawancarai sebelum mengambil deduksi dan kesimpulan. Agatha Christie dan Mabel pun mengundang para kerabat dan teman yang diduga mendapat keuntungan dengan meninggalnya Florence. Skenarionya adalah mengumpulkan mereka untuk mengkonfirmasi jati diri mereka dan hubungannya dengan Florence sebelum menerima warisan. Sayangnya, skenario tidak berjalan lancar, dan tidak seperti Hercule Poirot yang hati-hati dan detail, Agatha Christie gegabah dan menimbulkan korban baru.

Korban baru ini mengundang datangnya Inspektur Polisi Dicks (Ralph Ineson) yang segera mengetahui jati dirinya sebagai penulis terkenal. Di depan sang Inspektur penyamarannya sebagai agen biro pun terbongkar, sekaligus sang Inspektur menemukan sosok yang menghilang dan dicari di seluruh negeri. Agatha Christie pun kemudian meminta bantuan sang inspektur untuk bersama menemukan sang pembunuh Florence. Persis dengan salah satu plot di novelnya, Agatha mendatangi terduga dan memprovokasi untuk mengakui pembunuhan Florence. Ketika terdesak sang tersangka pun mengakui dan mencoba menghabisi Agatha. Saat itulah masuk sang Inspektur untuk meringkus.

Jika sudah pernah membaca novel-novel Agatha Christie, maka film ini mudah ditebak alurnya dan tidak ada yang terlalu istimewa. Sutradara kurang mengeksplorasi ketegangan. Namun, film ini menarik karena menampilkansalah satu versi motivasi Agatha Christie untuk menghilangkan diri.

Untuk penggemar sang Queen of Crime, bolehlah ditonton...


~ elha score: 6.5/10

Tuesday, 24 December 2019

12 ANGRY MEN (1957)

Sudah lama dapat rekomendasi kalau film ini layak ditonton, namun baru sempat menikmatinya sekarang. Dan...memang layak dan mesti ditonton meskipun masih black & white dan bersetting 1 ruangan saja selama film berlangsung. Yap! Hanya dalam 1 ruangan.

Film ini sangat menarik karena berkisah tentang karakter manusia.

Film dibuka dengan setting ruang pengadilan dan adegan hakim meminta kepada 12 juri untuk mendiskusikan fakta-fakta selama pengadilan dan mencapai mufakat untuk memberikan sebuah keputusan menyangkut pidana pembunuhan. Lalu kamera menyorot wajah polos seorang anak yang dituduh membunuh ayahnya. Kemudian keduabelas juri pun memasuki ruang karantina untuk merumuskan keputusan yang akan diambil. Dalam sistem peradilan Amerika, memang menggunakan sistem peradilan dengan mengakui eksisten juri. Juri berasal dari warganegara yang dipilih secara acak.

Ruang karantina tersebut menjadi latar selama film ini berlangsung. Sebuah ruangan kecil yang pengap dan panas. Kedua belas juri mengawali diskusi yang sdipimpin oleh seorang moderator dengan menanyakan pendapat orang per orang tentang keputusan terhadap tertuduh: guilty or not guilty. Sepertinya keputusan diambil secara mudah karena secara bulat juri memutuskan si anak bersalah, eh...tunggu dulu! Ada 1 orang yang mengangkat tangan dan menyatakan tidak bersalah.

Adalah juri ke-8 (Henry Fonda), satu-satunya juri yang menyatakan si anak tidak bersalah. Sebenarnya ia pun tidak yakin apakah si anak itu tidak bersalah, dan meminta ke 11 juri lainnya untuk mendiskusikan beberapa fakta dan saksi sebelum terlalu cepat mengambil keputusan. Menurutnya ada 2 saksi yang perlu dipertanyakan kesaksiannya: seorang wanita dan seorang kakek tua. Maka, saling adu argumentasi terhadap fakta dan kesaksian mewarnai seluruh film ini. Sangat menarik karena sang sutradara (Sidney Lumet) - yang juga menyutradarai Murder on the Orient Express (1974) - sangat piawai mengeksplorasi karakter masing-masing juri. Ada yang detail mengamati setiap fakta, ada yang grasa-grusu, peragu, ada yang terkesan lemah namun bak singa ketika harga dirinya terlecehkan, ada yang egois, dsb.

Film yang hanya bersetting dalam satu ruangan dan berpotensi membosankan, ternyata menjadi sangat menarik dengan permainan karakter setiap tokoh. Henry Fonda sangat bagus berperan sebagai protagonis dengan melempar issue-issue terhadap fakta dan kesaksian para saksi. Kita seperti disuguhkan cara pandang yang berbeda dalam mengamati sebuah peristiwa.

Satu persatu para juri pun tersadar akan fakta yang tersuguhkan dari sudut pandang yang lain, dan mengubah pendapatnya menjadi 'tidak bersalah' pada tertuduh...sampai hasil voting imbang antara 'guilty dan not guilty'. Nah, silakan ditonton sampai akhir ya...sangat direkomendasikan untuk penikmat film yang menginginkan di luar genre action....:)

Sipp!


~ elha score: 9.5

Saturday, 12 October 2019

JOKER (2019)

Meskipun kata orang Batman tidak muncul di dalam film ini, namun tokoh ini tetap menjadi salah satu daya tarik untuk menonton film Joker - Put On A Happy Face. Dan...ternyata muncul, meskipun tidak berbalut kostum kelelawar elegan. Maklum masih kanak-kanak. Pun baru tahu  kelahiran karakter Joker, bersamaan dengan berseminya karakter Batman. Pantaslah kalau kedua tokoh ini jadi musuh bebuyutan.

Film diawali dengan adegan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) seorang badut yang bercita-cita jadi komedian tunggal sedang berkonsultasi dengan petugas sosial tentang masalah kejiwaannya. Arthur Fleck menderita penyakit tertawa mendadak yang susah dihentikan jika kambuh. Alih-alih berkemauan untuk sembuh, ia hanya berkonsultasi untuk dapat membeli obat secara gratis. Pada adegan awal ini penonton sudah sudah diajak merasakan kelamnya kota Gotham yang ramai, dan sepinya jiwa Arthur dalam keriuhan kota tersebut. Menjadi badut membuatnya merasa berbaur dengan masyarakat sekliling, meskipun seringkali ia dilecehkan dan di-bully.

Tinggal hanya dengan seorang ibu yang rapuh dan mengalami sakit jiwa delusi, menambah rasa kelam dan sepi jiwa Joker. Meskipun rapuh, sang ibu adalah alasan Arthur untuk tetap hidup. Ia begiu bangga bisa mengurus sang ibu dengan baik. Harapan lainnya adalah obsesi menjadi komedian sukses dan tampil di Frank Miller Show, dan memperoleh teman untuk saling bicara.

Ketika alasan dan harapan ini lenyap, Arthur bertransformasi menjadi sosok Joker yang penuh tawa sekaligus membawa kebencian akan kehidupan. Joaquin mampu menampilkan transformasi dari sosok Arthur yang terkesan lemah dan gagal dalam kehidupan menjadi sosok Joker yang jadi panutan - seorang notorius. Penonton serasa diajak untuk memahami mengapa sosok Arthur bisa menjadi sekejam Joker. Nah, ini juga keahlian sutradara, Todd Philips,  yang mengaduk-aduk emosi penonton, kadang menentang kelakuan Joker, kadang tak sengaja turut mendukung. Adegan kategori 'R(ated)' ketika Joker membunuh teman yang mengkhianatinya, namun sekaligus memprsilakan teman satunya pergi dengan aman - bahkan membantunya membuka pintu, membuat penonton jadi 'serba salah' menyikapinya. Membenci sekaligus simpati.

Nuansa film kelam sepanjang 2 jam pertunjukkan, alur orisinal yang mengaduk emosi penonton, dan aktor yang mampu berperan sangat bagus, membuat film ini banyak dibicarakan. Wajar bila Joaquin Phoenix diperkirakan menyabet Oscar pertamanya setelah 3 kali hanya masuk nominasi. Film ini juga membuat kritik sosial tentang jarak pisah yang lebar antara rakyat kecil dan pejabat. Nihilnya keberpihakan pemerintah Gotham City ke rakyat kecil makin membuat kekacauan meluas. Ini yang membuat karakter Joker muncul dan diterima sebagai 'pahlawan' bagi yang tertindas ketika berani mendobrak kemapanan semu.

Meskipun kelam, film ini juga mengantarkan pesan tentang kekosongan peran orang tua, terutama ayah. Joker sejak kecil hidup tanpa pendampingan seorang ayah. Bahkan, yang dianggapnya seorang ibu ternyata hanyalah seorang perempuan yang mengadopsi dirinya untuk kepentingannya sendiri. 

Menarik sekali... Film ini kelam dan banyak 'peringatan', namun tak cukup hanya menonton sekali... bagi saya, he..he..

Peringatan: jangan bawa anak kecil kalau nonton ya... Film ini di negerinya sendiri bahkan berkategori rated, terbatas.

Siip!


elha score: 9.0/10


Saturday, 29 September 2018

SUI DHAGAA MADE IN INDIA (2018)

Film ini bergenre drama komedi yang disutradarai oleh Sharat Katariya yang juga membesut film Dum Laga Ke Haisha (2015) dan di produksi oleh Yash Raj Film. Seperti film-film besutan YRF lainnya, film ini pun bagus dan ada pesan tentang kebangsaan (India). Review film Dum Laga Ke Haisha bisa ditilik di link ini: 

http://elha-filmreview.blogspot.com/2018/05/dum-laga-ke-haisha-2015.html

Film ini diawali dengan kesibukan Mauji (Varun Dhawan) bersama istrinya Mamta (Anushka Sharma) yang tinggal di rumah kedua orang tua Mauji yang sudah pensiun. Keseharian Mauji adalah mengisi bak mandi dan bersiap bekerja di toko mesin jahit. Sedangkan Mamta bertugas membuat teh, menyiapkan bekal, menyiapkan baju dan menyetrikanya, dan tugas-tugas perempuan layaknya. Kesibukan ini membuat keduanya jarang berkomunikasi intens semenjak pernikahan.

Mauji bekerja di toko mesin jahit dimana sang boss memperlakukannya seperti snjing. Di pesta pernikahan anak sang boss, Mamta melihat sang suami berlaku seperti seekor anjing untuk menghibur anak sang boss. Mamta sangat kecewa dan menganjurkan Mauji untuk keluar kerja dan memanfaatkan keahliannya dalam hal jahit-menjahit. Mamta sangat terkesan dengan rompi buatan Mauji yang dipakai saat pernikahannya. Mauji sendiri adalah keturunan penjahit terkenal, namun karena kebangkrutan yang dialami sang kakek, Bauji - ayah Mauji - trauma dan menganggap profesi penjahit tidak menjamin masa depan. Perselisihan dengan anak boss tempat dia bekerja, membuat Mauji yakin untuk memulai profesi menjahit.

Mauji membuatkan baju rawat untuk sang ibu ketika sedang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung. Baju yang diberi nama Maxi itu terdiri dari kain perca dan tambahan bordir rupanya membuat pasien lain tertarik. Baju itu pun memudahkan dokter untuk memeriksa menggunakan stetoskop karena ada ruang yang khusus untuk memeriksa. Mauji dan Mamta pun menerima pesanan untuk pasien lain. Sayangnya, mesin jahit yang ada telah diambil oleh yang punya. Karena itu Mauji dan Mamta bersepeda sejauh 45 km untuk memperoleh mesin jahit gratis dari pemerintah. Adegan ini sangat menarik menggambarkan perjuangan seorang keluarga untuk memperoleh martabatnya. Alur klimak terjadi ketika Mauji yang harus menyelesaikan test membuat sarung bantal sedang mengobati kakinya yang terluka, dan harus digantikan oleh Mamta yang tidak bisa menjahit. Akankah mereka mendapatkan mesin jahit itu?

Intermezzo...

Mereka lega ketika jalan nafkah sudah mulai terbuka dengan membuat  baju Maxi untuk pesanan-pesanan pasien. Sayangnya biaya pengobatan ibu begitu besar yang membuat Mauji menyerahkan (sebenarnya ditipu karena lugu) hak patent baju Maxi itu. Ia pun bekerja di perusahaan garment yang memperbanyak baju Maxi tersebut dan dijual ke RS dengan harga 4x lipat. Mauji pun marah karena ditipu dan protes keras yang mengakibatkan ia dipecat. Kembali ke titik nol, Mamta meyakinkan Mauji untuk membuat produk sendiri dan mengajukan ke lembaga fashion yang sedang mencari talent untuk didukung. Mauji dan Mamta pun meyakinkan para tetangga untuk bergabung dengan mereka merancang busana dan menampilkannya di fashion show. Karena tak didukung sumber daya profesional seperti pabrik-pabrik garment besar, mereka memanfaatkan para kerabat untuk membuat rancangan baju dan menampilkannya sendiri. Jadilah, para peragawan-peragawati orang-orang kampung. Pada adegan ini Bauji yang tadinya pesimis tentang profesi penjahit, akhirnya mendukung Mauji.

Akankah Mauji, Mamta, dan kerabatnya berhasil?

Silakan ditonton ya... Film ini adalah film keluarga yang sarat pesan. Tentang kewajiban dan peran dalam rumah tangga, tentang pengorbanan dan usaha pantang menyerah, tentang harkat martabat, dan tentang kebanggaan tentang bangsa. Film-film besutan YRF memang seringkali memuat pesan tentang nasuonalisme India. Akhir film seperti film Happy New Year (2014)-nya Shah Rukh Khan dan Deepika Padukone.

Silakan dinikmati...     


~ elha score: 8.0/10  

Friday, 28 September 2018

ARUNA DAN LIDAHNYA (2018)

Dalam film ini Dian Sastro (Aruna) masih berpasangan dengan lawan main legend-nya di AADC 1 & 2 - Nicholas Saputra yang berperan sebagai Bono, namun tidak sebagai pasangan kekasih, hanya sebagai teman dekat. Penjelasan ini ditegaskan sendiri oleh Aruna yang bermonolog di awal kisah. Adegan monolog Aruna ini beberapa kali mewarnai film untuk menjelaskan atau menegaskan beberapa scene, contohnya saat menjelaskan karakter ketiga tokoh: Bono seorang chef berbakat, Nad (Hannah al Rasyid) sebagai penikmat kuliner dan penulis buku, dan Farish (Oka Antara) yang serius dan tertutup.

Adegan monolog ini selain untuk menjelaskan cerita atau menu masakan, juga berfungsi untuk engaged, karena Aruna menghadap ke penonton selama bermonolog. Adegan monolog ini mengingatkan pada film The Big Short (2015) ketika Selena Gomez, Margot Robbie, Anthony Bourdain, dan Ryan Gosling melakukan monolog untuk menjelaskan issue finansial.

Kisah di film ini adalah tentang kuliner dibalut dengan kisah cinta platonik, atau kisah cinta terpendam dengan bumbu cita rasa kuliner. Sutradara Edwin mampu meramu kedua tema termasuk dengan baik dalam bentuk drama komedi.

Film yang diambil dari novel Laksmi Pamuntjak dengan judul sama ini diawali dengan 'mati rasanya' lidah Aruna yang menyukai cita rasa masakan, terutama nasi goreng Mbok Sal. Oleh si Bono, sahabat dekatnya, Aruna disarankan melakukan perjalanan kuliner sambil mencari resep nasi goreng idaman. Bahkan si Bono rela cuti untuk menemaninya. Pucuk dicinta ulam tiba, ketika boss Aruna di tempat kerja menunjuknya untuk melakukan investigasi lapangan tentang wabah flu burung. Investigasi ini memungkinkannya melakukan perjalanan kerja ke kota Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang sekaligus mencicipi kuliner khas kota-kota tersebut. Dalam novel, Laksmi memang mengkisahkan kuliner khas yang menggugah selera dibalut dengan isu flu burung. Kita akan disuguhi gambar dan olahan masakan rawon dari Surabaya, campor lorjuk dari Pamekasan Madura, soto rujak dari Banyuwangi (meski ini dikritik oleh Aruna karena dua-duanya kehilangan rasa khas), mie kepiting dan pai cai dari Singkawang dan Pontianak, dll. Kurang lebih ada 20 jenis masakan sepanjam film ditayangkan.

Bono dan Aruna yang sudah sepakat melakukan perjalanan kerja dan kuliner dikagetkan dengan munculnya Nad dan Farish yang ternyata beririsan dengan dengan keinginan untuk berkuliner dan tugas kerja. Nad sedang merencanakan membuat buku tentang kuliner Indonesia, sedangkan Farish adalah supervisor Aruna yang ditugaskan juga oleh kantor pusat. Bono menyimpan rasa terpendam terhadap Nad yang bersifat bebas dan sedang menjadi 'orang ketiga'. Aruna dan Farish adalah teman sekerja saat di kantor lama One World, dan saling menyimpan rasa cinta namun tak terungkap. Platonik. Maka, berempat mereka berendengan pergi kesana kemari, keliling-liling kota, menikmati kuliner dan menjalankan tugas investigasi. Dialog-dialog diantara mereka sangat perlu dinikmati. Dialog-dialog cerdas tentang kehidupan, keyakinan, cinta, budaya, pandangan hidup sayang untuk dilewatkan.

Sayangnya Aruna masih belum menemukan resep nasi goreng yang mampu mengembalikan cita rasa lidahnya meskipun sudah berkeliling negeri. Resep itu sebenarnya sudah ada di dekatnya. Begitu pun cita rasa lidahnya yang ternyata hanya butuh mengungkapkan apa yang menggerundel di hatinya untuk mengembalikan kemampuan mengecapnya.

Film ini tidak rumit untuk dicerna meski membawa pesan 'berat' tentang korupsi karena di beberapa adegan dibumbui dengan komedi yang menarik, tidak slapstik. Silakan ditonton berdua dengan pasangan untuk meneguhkan kembali cita rasa...cinta atau olahan.

O, ya jika menonton pastikan tidak dalam kondisi sedang lapar ya...:)


~ elha score: 8.0/10