Saturday, 12 October 2019

JOKER (2019)

Meskipun kata orang Batman tidak muncul di dalam film ini, namun tokoh ini tetap menjadi salah satu daya tarik untuk menonton film Joker - Put On A Happy Face. Dan...ternyata muncul, meskipun tidak berbalut kostum kelelawar elegan. Maklum masih kanak-kanak. Pun baru tahu  kelahiran karakter Joker, bersamaan dengan berseminya karakter Batman. Pantaslah kalau kedua tokoh ini jadi musuh bebuyutan.

Film diawali dengan adegan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) seorang badut yang bercita-cita jadi komedian tunggal sedang berkonsultasi dengan petugas sosial tentang masalah kejiwaannya. Arthur Fleck menderita penyakit tertawa mendadak yang susah dihentikan jika kambuh. Alih-alih berkemauan untuk sembuh, ia hanya berkonsultasi untuk dapat membeli obat secara gratis. Pada adegan awal ini penonton sudah sudah diajak merasakan kelamnya kota Gotham yang ramai, dan sepinya jiwa Arthur dalam keriuhan kota tersebut. Menjadi badut membuatnya merasa berbaur dengan masyarakat sekliling, meskipun seringkali ia dilecehkan dan di-bully.

Tinggal hanya dengan seorang ibu yang rapuh dan mengalami sakit jiwa delusi, menambah rasa kelam dan sepi jiwa Joker. Meskipun rapuh, sang ibu adalah alasan Arthur untuk tetap hidup. Ia begiu bangga bisa mengurus sang ibu dengan baik. Harapan lainnya adalah obsesi menjadi komedian sukses dan tampil di Frank Miller Show, dan memperoleh teman untuk saling bicara.

Ketika alasan dan harapan ini lenyap, Arthur bertransformasi menjadi sosok Joker yang penuh tawa sekaligus membawa kebencian akan kehidupan. Joaquin mampu menampilkan transformasi dari sosok Arthur yang terkesan lemah dan gagal dalam kehidupan menjadi sosok Joker yang jadi panutan - seorang notorius. Penonton serasa diajak untuk memahami mengapa sosok Arthur bisa menjadi sekejam Joker. Nah, ini juga keahlian sutradara, Todd Philips,  yang mengaduk-aduk emosi penonton, kadang menentang kelakuan Joker, kadang tak sengaja turut mendukung. Adegan kategori 'R(ated)' ketika Joker membunuh teman yang mengkhianatinya, namun sekaligus memprsilakan teman satunya pergi dengan aman - bahkan membantunya membuka pintu, membuat penonton jadi 'serba salah' menyikapinya. Membenci sekaligus simpati.

Nuansa film kelam sepanjang 2 jam pertunjukkan, alur orisinal yang mengaduk emosi penonton, dan aktor yang mampu berperan sangat bagus, membuat film ini banyak dibicarakan. Wajar bila Joaquin Phoenix diperkirakan menyabet Oscar pertamanya setelah 3 kali hanya masuk nominasi. Film ini juga membuat kritik sosial tentang jarak pisah yang lebar antara rakyat kecil dan pejabat. Nihilnya keberpihakan pemerintah Gotham City ke rakyat kecil makin membuat kekacauan meluas. Ini yang membuat karakter Joker muncul dan diterima sebagai 'pahlawan' bagi yang tertindas ketika berani mendobrak kemapanan semu.

Meskipun kelam, film ini juga mengantarkan pesan tentang kekosongan peran orang tua, terutama ayah. Joker sejak kecil hidup tanpa pendampingan seorang ayah. Bahkan, yang dianggapnya seorang ibu ternyata hanyalah seorang perempuan yang mengadopsi dirinya untuk kepentingannya sendiri. 

Menarik sekali... Film ini kelam dan banyak 'peringatan', namun tak cukup hanya menonton sekali... bagi saya, he..he..

Peringatan: jangan bawa anak kecil kalau nonton ya... Film ini di negerinya sendiri bahkan berkategori rated, terbatas.

Siip!


elha score: 9.0/10


Saturday, 29 September 2018

SUI DHAGAA MADE IN INDIA (2018)

Film ini bergenre drama komedi yang disutradarai oleh Sharat Katariya yang juga membesut film Dum Laga Ke Haisha (2015) dan di produksi oleh Yash Raj Film. Seperti film-film besutan YRF lainnya, film ini pun bagus dan ada pesan tentang kebangsaan (India). Review film Dum Laga Ke Haisha bisa ditilik di link ini: 

http://elha-filmreview.blogspot.com/2018/05/dum-laga-ke-haisha-2015.html

Film ini diawali dengan kesibukan Mauji (Varun Dhawan) bersama istrinya Mamta (Anushka Sharma) yang tinggal di rumah kedua orang tua Mauji yang sudah pensiun. Keseharian Mauji adalah mengisi bak mandi dan bersiap bekerja di toko mesin jahit. Sedangkan Mamta bertugas membuat teh, menyiapkan bekal, menyiapkan baju dan menyetrikanya, dan tugas-tugas perempuan layaknya. Kesibukan ini membuat keduanya jarang berkomunikasi intens semenjak pernikahan.

Mauji bekerja di toko mesin jahit dimana sang boss memperlakukannya seperti snjing. Di pesta pernikahan anak sang boss, Mamta melihat sang suami berlaku seperti seekor anjing untuk menghibur anak sang boss. Mamta sangat kecewa dan menganjurkan Mauji untuk keluar kerja dan memanfaatkan keahliannya dalam hal jahit-menjahit. Mamta sangat terkesan dengan rompi buatan Mauji yang dipakai saat pernikahannya. Mauji sendiri adalah keturunan penjahit terkenal, namun karena kebangkrutan yang dialami sang kakek, Bauji - ayah Mauji - trauma dan menganggap profesi penjahit tidak menjamin masa depan. Perselisihan dengan anak boss tempat dia bekerja, membuat Mauji yakin untuk memulai profesi menjahit.

Mauji membuatkan baju rawat untuk sang ibu ketika sedang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung. Baju yang diberi nama Maxi itu terdiri dari kain perca dan tambahan bordir rupanya membuat pasien lain tertarik. Baju itu pun memudahkan dokter untuk memeriksa menggunakan stetoskop karena ada ruang yang khusus untuk memeriksa. Mauji dan Mamta pun menerima pesanan untuk pasien lain. Sayangnya, mesin jahit yang ada telah diambil oleh yang punya. Karena itu Mauji dan Mamta bersepeda sejauh 45 km untuk memperoleh mesin jahit gratis dari pemerintah. Adegan ini sangat menarik menggambarkan perjuangan seorang keluarga untuk memperoleh martabatnya. Alur klimak terjadi ketika Mauji yang harus menyelesaikan test membuat sarung bantal sedang mengobati kakinya yang terluka, dan harus digantikan oleh Mamta yang tidak bisa menjahit. Akankah mereka mendapatkan mesin jahit itu?

Intermezzo...

Mereka lega ketika jalan nafkah sudah mulai terbuka dengan membuat  baju Maxi untuk pesanan-pesanan pasien. Sayangnya biaya pengobatan ibu begitu besar yang membuat Mauji menyerahkan (sebenarnya ditipu karena lugu) hak patent baju Maxi itu. Ia pun bekerja di perusahaan garment yang memperbanyak baju Maxi tersebut dan dijual ke RS dengan harga 4x lipat. Mauji pun marah karena ditipu dan protes keras yang mengakibatkan ia dipecat. Kembali ke titik nol, Mamta meyakinkan Mauji untuk membuat produk sendiri dan mengajukan ke lembaga fashion yang sedang mencari talent untuk didukung. Mauji dan Mamta pun meyakinkan para tetangga untuk bergabung dengan mereka merancang busana dan menampilkannya di fashion show. Karena tak didukung sumber daya profesional seperti pabrik-pabrik garment besar, mereka memanfaatkan para kerabat untuk membuat rancangan baju dan menampilkannya sendiri. Jadilah, para peragawan-peragawati orang-orang kampung. Pada adegan ini Bauji yang tadinya pesimis tentang profesi penjahit, akhirnya mendukung Mauji.

Akankah Mauji, Mamta, dan kerabatnya berhasil?

Silakan ditonton ya... Film ini adalah film keluarga yang sarat pesan. Tentang kewajiban dan peran dalam rumah tangga, tentang pengorbanan dan usaha pantang menyerah, tentang harkat martabat, dan tentang kebanggaan tentang bangsa. Film-film besutan YRF memang seringkali memuat pesan tentang nasuonalisme India. Akhir film seperti film Happy New Year (2014)-nya Shah Rukh Khan dan Deepika Padukone.

Silakan dinikmati...     


~ elha score: 8.0/10  

Friday, 28 September 2018

ARUNA DAN LIDAHNYA (2018)

Dalam film ini Dian Sastro (Aruna) masih berpasangan dengan lawan main legend-nya di AADC 1 & 2 - Nicholas Saputra yang berperan sebagai Bono, namun tidak sebagai pasangan kekasih, hanya sebagai teman dekat. Penjelasan ini ditegaskan sendiri oleh Aruna yang bermonolog di awal kisah. Adegan monolog Aruna ini beberapa kali mewarnai film untuk menjelaskan atau menegaskan beberapa scene, contohnya saat menjelaskan karakter ketiga tokoh: Bono seorang chef berbakat, Nad (Hannah al Rasyid) sebagai penikmat kuliner dan penulis buku, dan Farish (Oka Antara) yang serius dan tertutup.

Adegan monolog ini selain untuk menjelaskan cerita atau menu masakan, juga berfungsi untuk engaged, karena Aruna menghadap ke penonton selama bermonolog. Adegan monolog ini mengingatkan pada film The Big Short (2015) ketika Selena Gomez, Margot Robbie, Anthony Bourdain, dan Ryan Gosling melakukan monolog untuk menjelaskan issue finansial.

Kisah di film ini adalah tentang kuliner dibalut dengan kisah cinta platonik, atau kisah cinta terpendam dengan bumbu cita rasa kuliner. Sutradara Edwin mampu meramu kedua tema termasuk dengan baik dalam bentuk drama komedi.

Film yang diambil dari novel Laksmi Pamuntjak dengan judul sama ini diawali dengan 'mati rasanya' lidah Aruna yang menyukai cita rasa masakan, terutama nasi goreng Mbok Sal. Oleh si Bono, sahabat dekatnya, Aruna disarankan melakukan perjalanan kuliner sambil mencari resep nasi goreng idaman. Bahkan si Bono rela cuti untuk menemaninya. Pucuk dicinta ulam tiba, ketika boss Aruna di tempat kerja menunjuknya untuk melakukan investigasi lapangan tentang wabah flu burung. Investigasi ini memungkinkannya melakukan perjalanan kerja ke kota Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang sekaligus mencicipi kuliner khas kota-kota tersebut. Dalam novel, Laksmi memang mengkisahkan kuliner khas yang menggugah selera dibalut dengan isu flu burung. Kita akan disuguhi gambar dan olahan masakan rawon dari Surabaya, campor lorjuk dari Pamekasan Madura, soto rujak dari Banyuwangi (meski ini dikritik oleh Aruna karena dua-duanya kehilangan rasa khas), mie kepiting dan pai cai dari Singkawang dan Pontianak, dll. Kurang lebih ada 20 jenis masakan sepanjam film ditayangkan.

Bono dan Aruna yang sudah sepakat melakukan perjalanan kerja dan kuliner dikagetkan dengan munculnya Nad dan Farish yang ternyata beririsan dengan dengan keinginan untuk berkuliner dan tugas kerja. Nad sedang merencanakan membuat buku tentang kuliner Indonesia, sedangkan Farish adalah supervisor Aruna yang ditugaskan juga oleh kantor pusat. Bono menyimpan rasa terpendam terhadap Nad yang bersifat bebas dan sedang menjadi 'orang ketiga'. Aruna dan Farish adalah teman sekerja saat di kantor lama One World, dan saling menyimpan rasa cinta namun tak terungkap. Platonik. Maka, berempat mereka berendengan pergi kesana kemari, keliling-liling kota, menikmati kuliner dan menjalankan tugas investigasi. Dialog-dialog diantara mereka sangat perlu dinikmati. Dialog-dialog cerdas tentang kehidupan, keyakinan, cinta, budaya, pandangan hidup sayang untuk dilewatkan.

Sayangnya Aruna masih belum menemukan resep nasi goreng yang mampu mengembalikan cita rasa lidahnya meskipun sudah berkeliling negeri. Resep itu sebenarnya sudah ada di dekatnya. Begitu pun cita rasa lidahnya yang ternyata hanya butuh mengungkapkan apa yang menggerundel di hatinya untuk mengembalikan kemampuan mengecapnya.

Film ini tidak rumit untuk dicerna meski membawa pesan 'berat' tentang korupsi karena di beberapa adegan dibumbui dengan komedi yang menarik, tidak slapstik. Silakan ditonton berdua dengan pasangan untuk meneguhkan kembali cita rasa...cinta atau olahan.

O, ya jika menonton pastikan tidak dalam kondisi sedang lapar ya...:)


~ elha score: 8.0/10
   

Saturday, 22 September 2018

ALPHA (2018)

Film ini berkisah tentang awal mula persahabatan manusia dengan anjing (serigala). Bersetting 20000 tahun silam di daratan Eropa, sekelompok manusia sedang bersiap-siap memburu sekelompok bison. Dengan berbekal tombak, mereka menghalau bison ke tepian jurang sehingga terjatuh. Tetapi beberapa bison berbalik arah dan melawan. Keda (Kodi Smit-McPhee), anak kepala suku, Tau (Jóhannes Haukur Jóhannesson), terlempar ke jurang dan pingsan. Menganggap sang anak sudah tewas, dengan berat hati rombongan suku itu pun pulang membawa. hasil buruan.   

Gegara patukan burung nazar yang mengira sudah jadi mayat, Keda tersadar dengan salah satu kaki terluka. Ia tersangkut di bagian datar jurang. Namun, untuk naik ke atas tidak bisa krena terlampau tinggi, sedangkan turunpun terasa ngeri karena jurang yang dalam. Hujan deras yang turun seharian membuat bagian bawah jurang menjadi sebuah sungai. Keda memberanikan terjun ke air, terhanyut, dan terdampar. Dengan kaki pincang, ia memutar lembah dan naik ke atas menemui rombongannya. Ternyata, rombongan sukunya sudah pulang. Dengan berbekal petunjuk bintang dan formasi bintang yang ditatto oleh sang ayah sebelum berburu, ia mencari jalan pulang sendirian.

Di tengah jalan pulang, sekelompok serigala mengejarnya. Keda naik ke atas pohon dan melukai salah satu hewan serigala. Alih-alih hendak membunuhnya, Keda malah merawat si serigala tersebut. Memberi minum saat kehausan, dan memberi makan belatung ketika kelaparan. Lewat kecurigaan masing-masing kedua mahluk itu pun akhirnya berteman. Di salah satu adegan anjing serigala - yang diberi nama Alpha - menolong Keda ketika hendak diterkam si kumbang dan ketika terjebak di sungai yang tertutup salju. Perjalanan pulang menembus salju mengingatkan pada film Ravenant (2015) yang dibintangi Leonardo di Caprio. Hanya saja yang terakhir ini jauh mencekam dengan penderitaan tokohnya yang perannya sangat dijiwai oleh di Caprio. Yang unik juga, film ini menggunakan bahasa - entah bahasa mana, untuk menunjukkan kelampauannya.

Film ini sebenarnya lebih tepat diberi judul Pulang, atau semacam itu, karena lebih banyak menceritakan semangat Keda yang membara untuk kembali ke kampung halaman. Alur cerita yang bagus dan mencekam kurang maksimal diperankan oleh para tokohnya, namun tertolong oleh gambar dan latar suara. Ide cerita tentang persahabatan anjing dan manusia pernah juga difilmkan berjudul Hatciko: A Dog's Story (2009) yang berdasar kisah nyata dan diperankan oleh Richard Gere, hanya saja film ini berani memulai awal kisahnya, meskipun bisa diperdebatkan sejarah yang melatarnya.

Film ini memuat pesan tetang balas budi, kesetiaan, semangat perjuangan, dan kehangatan kelompok/keluarga. Sebagai film bergenre petualangan, film ini 'aman' ditonton bersama keluarga.

Selamat menikmati...



elha score: 7.5/10 

Wednesday, 19 September 2018

THE TERMINAL (2004)


THE TERMINAL:
(Menghidupkan sebuah rumah oleh Adriano Rusfi) 


Terjebak di sebuah ruang, tak bisa pergi dan tak bisa pulang, mungkin ini sebuah jebakan yang paling tak menyenangkan. Tapi inilah yang dialami oleh Viktor Navorski (diperankan oleh Tom Hanks). Dia hanya bisa beredar di dalam ruang tunggu internasional bandara JFK, New York. Negeri asalnya baru saja dikudeta, sehingga passport-nya tak berlaku dan visanya ditolak. Tiba-tiba imajinasi saya mengawang ke dunia para ibu rumahtangga : sebuah dunia di balik tembok dan nyaris tak bisa ke mana-mana. Lalu, apa yang dilakukan seorang Viktor Navorski?

Kalau ia mau, ia bisa saja lari dari jebakan. “Rumah” itu bukanlah tanpa pintu untuk kabur. Bahkan sang Kepala Bandarapun menyediakan celah untuk kabur. Peraturankah yang menghalangi Viktor untuk meraih “kebebasannya”? Ternyata tidak! Peraturan memang makhluk kaku yang sering tak manusiawi dan menyebalkan, tapi bukan berarti ia tak bisa diakali dan dibodohi. Seorang Rusia yang dilarang membawa obat untuk ayahnya yang sekarat, atas nama peraturan, toh akhirnya bebas membawanya sebagai “obat untuk kambing”. Tapi Viktor tak ingin kabur. Kebebasan itu bukan di luar atau di dalam ruang. Kebebasan itu ada pada mindset kita.

Maka Viktor memilih untuk menyamankan dirinya dalam bandara. Awalnya tak mudah, bahkan sekadar untuk tidur sekalipun. Tapi ia mulai menyusun kursi, menariknya, dan merapatkannya. Ya, bukankah kelebihan manusia terletak pada kemampuannya beradaptasi pada situasi terburuk sekalipun ? Viktor seakan berpetuah pada para ibu rumahtangga yang merasa tak nyaman di rumahnya sendiri, bahwa awalnya adalah ikhlas dan upaya menyamankan diri. Maka, kini Viktorpun “memiliki” nomer telepon, dan bahkan punya alamat sendiri. Dan hidup harus terus berlanjut. Viktor kini harus berjuang untuk survive di “rumah”nya. Kupon sarapannya hilang, padahal ia harus makan untuk hidup. Tapi sebuah “rumah” selalu saja menyediakan kehidupan paling lengkap. Ia tak perlu dicari diluar. Viktor ternyata dapat hidup hanya dengan menjadi pengepul troley, atau bahkan dengan berbagi cerita tentang Dolores Torres kepada Enrique Cruz. Sekali lagi, sebuah rumah selalu kaya dengan kehidupan. Yang dibutuhkan hanyalah cara untuk mencari dan memanfaatkannya : di dalam rumah, bukan di luarnya.

Betapa berbedanya Viktor dengan Amelia Warren (diperankan Catherine Zeta-Jones). Ia pramugari pemburu kebebasan yang tak kunjung didapat. Bagaikan burung yang terbang antar ruang dan waktu, dari hotel ke hotel, dari lelaki ke lelaki, tapi ia tak memperolehnya. Ia seakan bebas, tapi sebenarnya terpenjara oleh sebuah benda kecil bernama pager. Ia seperti warga Amerika lainnya : selalu saja terpeleset di lantai yang licin, karena selalu gagal membaca tanda. Ia memang selalu terbang keliling dunia, melintasi zona waktu, tapi tak membaca tanda-tanda. Ia seperti wanita karir kebanyakan yang gagal membaca tanda kehidupan di rumahnya, lalu menunggu tanda di luar rumah. 

Ya, menunggu...

Maka sekali lagi Viktor yang kini telah mengalami aktualisasi diri di dalam bandara, mengajari Amelia bagaimana menghadirkan dunia di dalam rumah. Ketika ia tak mungkin mengajak makan Amelia di sebuah restoran mewah di luar bandara, maka iapun menciptakan restoran itu di dalam bandara. Ia dengan cerdas memanfaat segala yang ada di dalam “rumah”nya. Seorang cleaning service, Gupta, telah ia sulap menjadi seorang penghibur restoran mewah. Akhirnya, ia mengajak Amelia dan dirinya untuk membuang pager jauh-jauh, sebagai sebuah isyarat bahwa hidup membutuhkan sebuah inisiatif untuk merubah keadaan, bukan menunggu sebuah nasib.

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=748943212156580&id=100011227243314&__tn__=K-R

---------------------------

Film yang direlease tahun 2004 ini diperankan dengan bagus oleh Tom Haks (Viktor). Tom Hanks berperan sebagai orang asing yang akan mengunjungi AS hanya untuk memenuhi amanah ayahnya. Akting menjadi orang asing yang kebingungan berkomunikasi dan merasa kesepian di tengah ramainya ruang tunggu bandara sangat apik diperankan. Ide cerita orisinil meskipun scene pengambilan gambar terasa biasanya kecuali di awal film yang cukup membuat penonton menunggu kisah berikutnya. 

Silakan menikmati film dan mengambil hikmahnya

~ elha score: 8.5/10

Thursday, 16 August 2018

PADMAN (2018)

Film ini berdasarkan kisah nyata Arunachalam Muruganantham, seorang laki-laki drop out dari desa kecil di bagian Coimbatore, India, yang peduli dengan masalah 'waktu periode' wanita. Film ini dibintangi oleh Akshay Kumar sebagai Lakhsmi dan Soonam Kapoor sebagai Pari. Juga ada Amitab Bachan sebagai cameo.

Film dibuka dengan pernikahan Lakhsmi dengan Gayatri (Rahidka Apte). Lakhsmi sangat mencintai istrinya dan melakukan apa saja untuk menyenangkannya. Masalah timbul ketika Gayatri mengalami masa menstruasi. Sesuai kebiasaan di sana, wanita yang sedang mengalami menstruasi mesti tinggal di luar supaya tidak mengotori rumah. Gayatri menggunakan kain lap kotor sebagai pembalut ketika menstruasi. Harga pembalut pabrikan mahal, dan akan mengurangi jatah susu keluarga untuk membelinya. karena menyadari menggunakan kain kotor sangat berbahaya bagi kesehatan wanita karena tidak higienis, Lakhsmi pun berpikir untuk membuat pembalut seperti produk pabrik. 

Ia mencoba membuat secara manual pembalut wanita tersebut dari kapas dan kain. Percobaan pertama ini gagal dan mengotori pakaian sari Gayatri. Pun membicarakan pembalut - apalagi oleh seorang laki-laki - sangat tabu dan membuat malu di pedesaan tersebut. Ia bahkan mesti pergi dari desanya dan pindah ke desa tetangga karena keluarga besar tidak mau menanggung malu. Namun, Lakhsmi terus berusaha dan mencari tahu tentang teknologi sanitary napkin. Bahkan ia memaksa diri untuk pergi ke sekolah kedokteran dan teknologi untuk menanyakan selulosa kepada orang ahli disana. Ide 'AHA!" ter-mlèthik ketika ia menyadari mesti membuat mesin pembalut yang simple dan sederhana sehingga membuat pembalut wanita berharga murah. Ia mematok harga 2 rupee alih-alih 55 rupee harga pembalut pabrikan.

Dengan keahliannya sebagai tukang las yang menyukai mesin, Laksmi membuat mesin pembalut menjadi 3 bagian sederhana. Beberapa kali ia gagal, namun terus memperbaiki mesin sederhananya tersebut sampai bisa berjalan dengan sempurna. Seperti biasa yang dialami oleh inventor, awalnya ia dianggap gila. Bahkan setelah ia menerima penghargaan karya terinovasi di India. namun dengan bantuan Pari, ia membuat mesin tersebut dan menawarkan ke setiap perempuan di pedesaan India untuk mulai membuat pembalut dan memasarkan sendiri. Ide ini pun disambut antusias para perempuan karena selain mengatasi masalah mereka (waktu itu hanya 12% wanita India menggunakan pembalut) juga memberdayakan ekonomi mereka.

Film ini menyampaikan pesan tentang semangat belajar. Lakhsmi membaca masalah di sekitarnya dan dengan keinginantahuan dan keinginan untuk membantu ia terus belajar mencapai tujuan. Beberapa kali gagal dan malu tidak membuatnya patah arang. Akhsay Kumar dan Soonam Kapoor bermain cukup menawan, meskipun tidak terlalu bagus. Scene-scene tentang pedesaan India yang miskin sangat membantu gambaran tentang kemiskinan. Tentang kemiskinan ini - dan masalah lainnya, Lakhsmi mengatakan India adalah tempat berbagai masalah. Namun, di setiap masalah ada kesempatan dan peluang bagi yang berpikir untuk menyelesaikan masalah. Menjadi problem solver...

Lakhsmi (baca: Arunachalam) memang seorang social entrepeneurIa tidak dibutakan dengan money oriented ketika temuannya memiliki kesempatan untuk di-patent-kan. Ia pun mencanangkan visi 100% wanita India menggunakan pembalut higienis. Dengan visi yang menggerakan dan memberdayakan perempuan rural India, ia pun berkesempatan berbicara di IIT, Harvard, bahkan menjadi pembicara di TedTalk.

Silakan ditonton untuk memperoleh inspirasi... 


~ lukman score: 7.5/10

Saturday, 14 July 2018

SKYSCRAPER (2018)

Inti film ini adalah cinta keluarga. Bagaimana cinta terhadap keluarga memberikan motivasi yang kuat untuk melakukan sesuatu. Adalah Will Ford (Dwayne Johnson), seorang pakar keamanan spesialis gedung penvakar langit, yang diberi tugas untuk menjamin sistem keamanan The Pearl, sebuah gedung pencakar langit tertinggi dan termegah di China.

Awal film dimulai dengan kisah penyanderaan. Will Ford yang saat itu sebagai pimpinan FBI Hostage Rescue Team bertugas untuk membebaskan sebuah keluarga dari penyanderaan. Alih-alih menyelamatkan sandera, Will terkena ledakan granat yang membuat satu kakinya teramputasi. Scene ini rupanya untuk memberikan penonton persepsi baru tentang karakter Dwayne Johnson. Di film-film sebelumnya Dwayne yang mantan atlit wrestling ditokohkan sebagai seorang yang kuat dan gesit - terlihat dari tubuhnya yang kekar - namun di film ini ia dibuat invalid yang terkesan lemah. Dan itu membuat penontonton makin terkecam dengan aksi-aksinya sepanjang film. 

Bersama keluarganya, Will diundang oleh sang pemilik The Pearl, Zhao Long Ji (Chin Han), untuk bermalam di salah satu kamar lantai 98 selama Will bertugas memeriksa jaminan keamanan sebelum gedung ini akan dibuka untuk umum. Selain keluarganya dan team Zhao yang berada di puncak Griya Tawang, belum ada orang lain yang tinggal di gedung itu. Ketika Will meninjau lokasi sistem keamanan yang terletak beberapa km jauhnya, terjadi kebakaran di lantai 95. Ternyata, sekelompok orang dan beberapa anggota Zhao yang berkhianat juga teman Will mendalangi kebakaran tersebut untuk memeras Zhao. Sistem pengendali kebakaran pun dibajak oleh kelompok tersebut sehingga kebakaran menjalar ke lantai lainnya, tidak terisolasi di lantai 98. Melihat keluarganya yang masih berada di gedung itu terancam nyawanya, Will pun bergegas kembali ke gedung. Alih-alih hendak menyelamatkan keluarganya, Will malah dituduh ikut berkelompot dengan anggota kriminal. Aksi-aksi Will Ford yang berusaha memasuki gedung pencakar langit dari ketinggian untuk menyelamatkan keluarga juga bersiasat untuk mengalahkan para kriminal membuat penonton menahan nafas karena amat mencekam. Beberapa adegan komedi ditambahkan untuk memberi kesempatan penonton tersenyum dan bernafas lega...:).

Bagaimana Will Ford meyakinkan polisi bahwa dia bukan tersangka, hanya hendak menyelamatkan keluarganya? Silakan ditonton ya...

Film ini mengingatkan pada film lawas yang dimainkan Bruce Willis, Die Hard. Baik adegan aksi maupun siasat untuk melumpuhkan kawanan penjahat, ditambah adegan lompat dari crane menuju gedung yang seru. Film ini pun terasa bernuansa aksi film Mandarin karena setting film memang di Hongkong, China. 

Cinta pada keluarga memang membuat motivasi bertambah untuk melakukan sesuatu yang nampak muskil dilakukan. Nah, bagaimana cinta anda pada keluarga? Maukah melakukan sesuatu di luar ambang diri hanya untuk keluarga?

Hmm...


~ elha score: 7.5/10