Thursday, 20 April 2017

KARTINI (2017)

"Trinil, apa yang kamu pelajari dari boso Londo?"
"Kebebasan, Ibu"
"Apa yang tidak ada disana?"

.....

Sepenggal dialog antara Kartini (Dian Sastrowardoyo) dan sang Ibu, Ngasirah (Christine Hakim), menjawab beberapa pertanyaan secara terang - setidaknya pertanyaan saya - tentang cita-cita emansipasi dengan sikap beliau yang sepertinya bertolak belakang.  

Prolog film diawali dengan adegan Kartini beringsut, berjalan hormat ala budaya Jawa, untuk menghadap Romo ayahandanya untuk membicarakan masa depannya. Kemudian adegan flashback Kartini kecil yang menangis keras karena tidak mau tidur berpisah dengan Yuk Ngasirah. Saat itu Kartini kecil sudah baligh dan harus menjalani pingitan. Sesuai budaya Jawa masa itu, seorang anak perempuan bangsawan yang sudah mengalami menstruasi pertama harus menjalani pingitan, tidak boleh keluar rumah, terpaksa keluar dari sekolah, dan berpisah dari teman-teman, sampai ia dipinang oleh calon suami. Hal ini bertolak belakang dengan karakter Kartini, yang di film ini digambarkan sedikit rebel oleh sang sutradara. Terlihat saat adegan ia memplonco kedua saudaranya yang baru saja menjalani pingitan di kamar. Juga adegan memanjat pohon dan duduk di tembok sambil mengobrol lepas. Gambaran ini memberi kita perspektif baru tentang RA Kartini.

Untung saja, saat masih bersekolah di ELS (Europese Lagere School) Kartini termasuk anak yang cerdas, sehingga ketidakberadaannya membuat guru-guru merasa kehilangan dan karena itu mengunjungi rumahnya. Jadi, Kartini masih memperoleh berita-berita dari luar tembok rumah, terutama cerita tentang berdayanya wanita, kehidupan sosial di negeri lain, dsb. Apalagi ketika sang kakak yang suka merantau, RM Sosrokartono (Reza Rahardian), memberi sebuah kunci yang membuka cakrawala wawasannya tentang dunia. Buku dan surat-surat dari sang kakak inilah yang memotivasi Kartini untuk mendobrak keterbatasan dan memberdayakan perempuan. 

Dari surat menyurat sang kakak dan teman-teman Belanda di Japara, Kartini pun memulai korespondensi dan berhubungan dengan teman-teman di luar negeri. Sang sutradara cukup unik dengan menggambarkan adegan dan dialog Kartini dengan teman korespondensinya secara nyata dengan latar belakang dunia Eropa. Jadinya, terkesan lebih hidup dan natural!

Film pun bergulir dari pujian masyarakat Belanda di Jawa terhadap Kartini dan menempatkannya sebagai perempuan berpikiran maju, lalu tantangan dari sang kakak pertama, RM Slamet Sosroningrat (Deni Sumargo), dukungan dari sang ayah, Bupati Rembang. Sang ayah, RM Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo), termasuk salah seorang bangsawan yang mendobrak aturan ketika membolehkan sang anak perempuan bersekolah tinggi. Lalu adegan kiprah Kartini yang menghidupkan dan mendukung seni ukir Japara agar mendunia, hasrat keingitahuan Kartini terhadap ayat-ayat suci al Quran, sampai akhirnya adegan kembali ke awal film, yaitu ketika Kartini harus menjawab lamaran dari Bupati Rembang yang berkenan memperistrinya.

Dan film pun berlanjut seperti sejarah yang telah kita ketahui...

Hanung Bramantyo, sebagai sutradara, cukup piawai memainkan plot film dan memasukkan beberapa filosofi Jawa tentang kehidupan. Misalnya, tentang aksara Jawa ketika Kartini dan ibunya berdialog. Visualisasi tentang korespondesi surat dan cerita di buku yang sangat menarik dengan penggambaran langsung dan nyata. Tembang Jawa yang mengalun sendu dan visual kehidupan di dalam kadipaten yang sepi makin menggambarkan kehidupan pingit dan gejolak hati Kartini yang menggelegak ingin bebas, namun terikat tradisi. Sebagai balance sang sutradara pun menyematkan semangat dalam dialog Kartini dan kakaknya: raga boleh terkurung dalam kamar, tapi pikiran tetap harus berkelana (sang kakak ini memang seorang pengelana di Eropa dengan kemampuan 24 bahasa asing dan 10 bahasa daerah, silakan baca link berikut: https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-sosrokartono-orang-indonesia-paling-jenius.html).

Sutradara Hanung Barmantyo sangat kuat menggambarkan dilema antara kebebasan, jati diri perempuan, dan fitrah perempuan. Digambarkan pada adegan RA Roekmini (Acha Septriasa) yang menolak perkawinan karena menganggap sebagai dominasi pria terhadap wanita. Masa itu wanita tidak banyak memiliki pilihan. Pun, Hanung memberi pesan implisit agar perempuan memiliki wawasan luas dan berdaya guna, namun tak melupakan jadi diri keperempuanan dan adat istiadat dimana ia berada. Ini tergambar pada adegan saat Kartini menerima lamaran Bupati Rembang dengan syarat. Salah satunya adalah sang suami harus mendukung kegiatan istri untuk memberi pendidikan pada kaum wanita dan kaum miskin. Juga pada syarat, ia tidak akan melakukan tradisi mencuci kaki suami saat upacara pernikahan. Itulah 'pemberontakannya'.

Namun, juga ada batas. Kartini akhirnya harus menentukan sikap yang selaras antara cita-citanya dan fitrah perempuan. Dan itu ia temukan dari pertanyaan dan jawaban seorang ibu, seperti pada dialog diawal tulisan ini, yaitu:  B   A   K   T   I

Film ini sangat menarik ditonton bersama keluarga, sambil memberikan pemahaman kepada anak-anak apa itu persamaan hak untuk kaum perempuan dan emansipasi semacam apa yang dicita-citakan Kartini. Sebagai tambahan info, nukilan korespodensi Kartini ini bisa dijadikan referensi:
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

~ elha score: 7.5/10

Friday, 14 April 2017

MISS SLOANE (2017)

Sepulang dari Depok, sempat kesasar, akhirnya terdampar di Pejanten Mall. Melihat-lihat jadual bioskop, dan memutuskan menonton film ini yang dari sinopsisnya menarik untuk ditonton. 

Film diawali dengan simulasi pertanyaan antara Elizabeth Sloane (Jessica Chastain) dengan pengacaranya untuk menghadapi hearing dengan anggota Senat tentang pelanggaran kode etik. Alur cerita kemudian berbalik ke belakang menceritakan asal muasal Miss Sloane terlibat. 

Elizabeth Sloane adalah seorang pelobbi politik yang menghubungkan para anggota Senat dengan konstituennya. Tugasnya antara lain membuat opini publik sehingga kebijakan politik yang diusulkan senator kliennya bisa diterima masyarakat. Perseteruan terjadi ketika firma hukum Cole Kravitz & Waterman tempatnya bekerja mendukung Senator Bob Sanford (Chuck Shamata) yang menentang petisi Heaton-Harris yang mengatur penelitian latar belakang orang yang berniat membeli senjata. Miss Sloane yang menolak bekerja sama akhirnya pindah ke biro lain yang mendukung usulan Heaton-Harris.

Adu strategi untuk memperebutkan suara para senator pun terjadi antara kedua biro tersebut. Juga aktifitas pengintaian, penyadapan, dan provokasi terhadap para anggota team biro. 

Bagaimana akhir pertarungan para broker politik ini? Dan bagaimana sampai akhirnya Miss Sloane diadili dan dituduh melanggar kode etik? Apakah ada kartu truf terakhir yang membuatnya bebas? Bolehlah ditonton, dandijamin ada kejutan di akhirnya...:)

Alur film ini amat memikat, tidak terduga di akhir film. Penonton disuguhkan sebuah adu strategi yang baru ngeh di akhir film. Jessica Chastain mampu memainkan peran sebagai seorang lobbyist yang super sibuk. Juga smart dan determinan. Dalam salah satu adegan, Miss Solane membaca novel John Grisham berjudul The Broker, yang berkaitan erat dengan profesinya. Banyak dialog cepat seputaran kebijakan yang seringkali membuat penonton awam mesti mencermati setiap kata. Yang tak kalah menariknya negara kita, Indonesia, disebut-sebut di film itu. Bahkan menjadi benang merah penting. 

Film ini juga menyampaikan pesan dan kritik terhadap sistem politik dan kondisi pengambil kebijakan politik. Menarik, mengingat negeri kita pun sepertinya mirip dengan kondisi tersebut.

Untuk yang menggemari film-film action, film ini tidak menawarkan adegan semacam itu. Tapi, buat yang menyukai intrik dan strategi politik, film ini layak ditonton.

Silakan menikmati...



~ elha score: 7.5/10

@di pojokan LRUB Kemang

Saturday, 18 February 2017

SPLIT (2017)

"...kita menjadi seperti apa yang kita pikirkan..."

Menonton film ini mengingatkan pada film Room (2015) dan The 10 Cloverfield Lane (2016) (http://elha-filmreview.blogspot.co.id/2016/04/the-10-cloverfiled-lane-2016.html). Keduanya bertema tentang penyekapan dalam sebuah ruangan. Film yang berbudget $9 juta meraup box office $173,6 juta. Wow!

Adalah Kevin Wendell Crumb (James McAvoy), seorang korban kekerasan anak semasa kecil, yang didiagnosa memiliki kepribadian ganda. Eitt!, bukan ganda, tapi 23 kepribadian dalam satu tubuh. Atas bisikan salah satu kepribadian, ia menculik 3 anak remaja sepulang mereka dari pesta dan menyekapnya dalam sebuah ruangan. Alih-alih melukai ketiga remaja tersebut, Kevin justru memberi perlakuan yang baik kepada mereka. Setelah beberapa kali berinteraksi, Casey (Anna Taylor-Joy), Marcia (Jessica Sula), Claire (Haley Lu Richardson) menyadari kalau mereka berhadapan dengan orang yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Suatu kali mereka berhadapan dengan Barry sang perancang busana, Dennis yang 'clean', Patricia - seorang perempuan, dan Hedwig yang berkarakter anak-anak.

Casey mencoba mendekati Hedwig yang lebih akrab untuk mencoba membantunya mencari jalan keluar. Kedua temannya yang berusaha kabur ketika kepribadian Kevin masih sebagai Dennis dan Jessica tertangkap kembali dan disekap di ruangan lain secara terpisah. Dari Hedwig Casey tahu kalau ada kepribadian ke-24 dalam diri Kevin yang akan segera muncul, The Beast. Ternyata, untuk tujuan kemunculan The Beast inilah mereka diculik dan disekap oleh Kevin atau Barry atau Dennis atau Patricia.

Akankah Casey dan teman-temannya lolos dari penyekapan? Hmm..agar tidak mengurangi nuansa thriller, jadi ditonton sendiri ya... Clue-nya adalah si Casey pun pernah mengalami kekerasan di masa kecil. Ini ada hubungannya.

Sutradara M. Night Shyamalan memberikan alur cerita yang bagus dan membuat penonton terasa dicekam sekaligus penuh kejutan ketika karakter Kevin yang berbeda-beda muncul. Beberapa kali ia memunculkan adegan masa kecil Casey yang seolah-olah tak berhungan dengan inti film dan membuat penonton menebak-nebak kaitannya. Ia pun muncul sebagai cameo sebagai petugas pemantau CCTV. James Mc Avoy bermain bagus dengan karakter-karakter yang berbeda-beda. Ia secara keseluruhan memberi warna film ini.

Film ini membawa pesan untuk memperlakukan orang-orang berkepribadian ganda sebagai teman dan bukan orang aneh. Namun itu tidak dinyatakan secara tegas di film ketika Dr. Karen Fletcher (Betty Buckley) sang psikiater berdialog dengan tetangganya yang mengungkapkan bahwa sang tetangga tidak mempercayai pasien-pasiennya. 


~ elha score: 7.5/10

Tuesday, 14 February 2017

SOLD (2016)

Sold sebenarnya sudah ditayangkan di London India Film Festival pada tahun 2014 dan memenangkan penghargaan sebagai Pure Heaven Audience Award. Di tahun 2016 film yang berkisah tentang praktek trafficking ini memenangkan penghargaan sebagai  Best Picture di Washington DC Sout Asia Film Festival. Film yang diadaptasi  berdasarkan novel laris Patricia Cormiks dengan judul sama ini menyebutkan ada sekitar 5.5 juta anak korban praktek perdagangan ini.  

Adalah Lakshmi (Niyar Saikia), seorang anak dari pedesaan Nepal yang riang, cerdas, dan senang membantu. Di adegan awal digambarkan ia bermain layang-layang dengan riang. Sebuah simbol tentang keinginannya melihat dunia diluar desanya.  Kemiskinan mendera keluarga ini. Ayah Lakshmi yang invalid susah mencari pekerjaan yang bisa memanfaatkan tenaganya. Untuk membantu keluarganya Lakshmi punya hasrat pergi ke kota, yang disimbolkan dengan keinginannya untuk memperbaiki atap rumah yang bocor. Di sebuah pesta desa, Lakshmi berkenalan dengan seorang perempuan yang menawarkannya memperoleh pekerjaan di kota. Ibunya tak setuju, namun ayahnya sudah kadung menerima uang panjar dan mengijinkan ia pergi. Menurutnya, ini adalah kesempatan bagi keluarga untuk memperbaiki perekonomian (disimbolkan dengan cadangan beras).  

Sesampai di kota, mereka langsung menuju sebuah rumah yang dinamakan Happiness House. Lakshmi disambut hangat oleh tuan rumah, Mumtaz (Sushmita Mukherjee). Awalnya... Malam hari itu juga, Lakshmi diminta mulai bekerja. Namun, ketika tahu kalau pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai wanita/anak penghibur, Lakshmi berusaha kabur. Namun ia tertangkap dan disekap sebuah kamar atas. dari sebuah jendela berterali yang terbuka, Lakshmi meminta tolong orang-orang yang lewat dibawah. Tak ada yang peduli kecuali seorang pewarta humanis yang menyamar menjadi biarawati, Sophia (Gillian Anderson). Sophia pun memberitahu Sam (David Arquette) seorang penyidik yang tergabung di HOPE, sebuah LSM yang peduli dengan gerakan anti-trafficking. 


Akankah Lakshmi lolos dari Rumah Kebahagiaan itu? 

Silakan dicari sendiri jawabannya ya ...

Ketika tiba di rumah Mumtaz. Ketakutan berpadu dengan semangat untuk lolos dari perangkap. Begitu pula Sushmita Mukherjee sebagai Mumtaz mampu membawakan perannya yang membuat emosi penonton menjadi geram. Gillian dan Arquette terasa hanya sebagai pendukung di film ini. Alur cerita pun membuat emosi penonton menjadi gemas, marah, sekaligus ada keinginan untuk makin erat melindungi anak-anak, terutama anak perempuan. 

Sebagai sebuah media untuk kampanye anti-trafficking, film ini layak ditonton untuk meningkatkan kepedulian. Di akhir film, kita disarankan untuk mengetik SMS ke 5155 sebagai dukungan terhadap kampanye ini. 

STOP TRAFFICKING!    

~ elha score:  8.0/10


Sunday, 12 February 2017

SURGA YANG (TAK) DIRINDUKAN 2

Cerdas dan menggelitik adegan yang ditampilkan oleh sutradara Hanung di awal film, mengaitkan dan mengingatkan penonton sekuel kedua ini dengan yang pertama. Yaitu, ketika Prasetya (Fedi Nuril) melihat kecelakaan tunggal di jalan raya dan menolong sang pengendara ke rumah sakit. Sound familiar kan? 

"Perempuan?", tanya Arini (Laudya Chyntia Bella) dengan paras campur aduk antara cemas dan iba, ketika dikabari Pras akan datang terlambat di bandara. Keterkejutan itu pula yang tergambar di wajah kedua sahabat Pras saat Arini mengabari keberadaan Pras kepada mereka. Sejenak penonton seakan diarahkan ke kisah seperti sekuel pertama, namun scene itu hanya pembuka film SYTD 2 ini yang bakal mengaduk emosi. Ada suka, ada duka, juga lelucon segar.

Arini yang berprofesi sebagai penulis diundang oleh Komunitas Muslim di Budapest, Hongaria. Ia pergi bersama Nadia (Sandrina Michelle), putrinya. Tak disangka disana ia berjumpa dengan Melrose (Raline Shah), istri kedua Prasetya yang belum sempat diceraikan. Dikisahkan bahwa Pras dan Arini terus mencari keberadaan Melrose yang memang sengaja 'menyembunyikan' diri agar tidak mengganggu kebahagiaan mereka berdua (akhir sekuel 1). 

Ketika Pras menyusul ke Budapest karena Arini tiba-tiba sakit, ia pun berjumpa kembali dengan Melrose. Pertemuan ini memang sengaja diskenariokan oleh Arini yang menyadari tentang keadaannya. Arini memaksa Pras untuk tidak menceraikan Melrose dan berkeinginan agar Melrose kembali ke Pras. Tentu saja hal ini membuat Melrose bimbang karena saat itu ia sedang berusaha move on dan dekat dengan Dr. Syarief (Reza Rahadian). Kebimbangan itu tampak nyata ketika ia menunda mengajukan gugatan cerai.

Nah, bagaimana akhir kisahnya? Siapa yang akan dipilih oleh Melrose? Jawabannya ada pada adegan ketika sang pria terpilih menjadi imam sholat berjamaah. Sebuah simbol bahwa lelaki adalah imam yang bertanggung jawab membawa keluarga mengarungi kehidupan.

Di film ini Asmanadia dan Hanung memberikan pemahaman syariat Islam dengan tanpa menggurui. Hal itu tampak ketika Dr. Reza melamar Melrose untuk segera menikah, tetapi Melrose minta penangguhan untuk menyelesaikan statusnya lebih dahulu sebagai wanita yang masih bersuami. Di sebuah kota besar di Eropa yang mungkin tidak mempermasalahkan status tersebut (karena sudah bertahun-tahun [?] berpisah), keukeuh menyelesaikan status pribadi sesuai syariat adalah luar biasa. Plot film juga tidak linear mampu mempermainkan emosi penonton yang menunggu sampai akhir kisah. Saya merasa yakin di akhir film penonton akan terkecoh pada siapa pilihan Melrose ketika melihat adegan salah satu dari pria itu membenarkan posisi dasi kupu-kupu milik pria lainnya.

Hmm....

Menonton SYTD 2 ini mengingatkan pada film Hindi We Are Family (2010) yang dibintangi oleh Kajol, Kareena Kapoor, dan Arjun Rampal. Ada beberapa ide dan jalan cerita yang mirip. Keduanya bercerita tentang makna ikhlas dan hati yang besar. Bagi wanita, menyerahkan posisi idaman mereka kepada wanita lain membutuhkan hati yang lapang bukan?

Setuju? 

  
~ elha score: 7/5/10

Saturday, 11 February 2017

HIDDEN FIGURES (2017)

Film ini diambil berdasarkan kisah nyata tentang kiprah 3 orang wanita Afro-Amerika dibalik kesuksesan program luar angkasa NASA. Bersetting waktu di awal tahun 60-an dimana Amerika dan Uni Sovyet berlomba menjadi yang pertama menjelajah angkasa. Juga berkisah tentang segregasi kelas dan perbedaan fasilitas berdasarkan warna kulit.

Film dibuka dengan scene Katherine Goble kecil yang sedang berjalan sambil berhitung bilangan prima dan mengeja bentuk geometri. Sejak awal sutradara memperkenalkan karakter Katherine (Taraji P. Henson) yang pintar matematika. Bersama dengan kedua temannya, Dorothy Vaughan (Octavia Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Monae) bekerja di Divisi West Area Computers, Langley Research Centre. Sebuah area yang hanya dihuni oleh karyawan kulit berwarna. Di bagian lain yang lebih elite adalah hak karyawan kulit putih. 

Karena kebutuhan yang mendesak terhadap personel yang mampu memahami analisa geometri, Katherine pun direkrut untuk masuk ke Space Task Group yang sedang mengerjakan Project Mercury, sebuah project yang akan mengorbitkan manusia mengelilingi orbit bumi. Ini adalah cikal bakal project Apollo yang mendaratkan manusia pertama di bulan. Karena satu-satunya wanita kulit hitam di kelompok itu, Katherine mengalami kesulitan ketika hendak mengambil minuman atau ke toilet, dan juga pandangan rekan-rekan kerjanya. Untuk ke toilet, ia harus tergopoh-gopoh pergi ke gedung sebelah yang menyediakan toilet untuk karyawan kulit berwarna. Hal ini menggusarkan sang direktur project itu, Al Harrison (Kevin Costner) yang mulai tertarik dengan kehadirannya karena Katherine mampu menyelesaikan persoalan rumit tentang orbit yang tidak dipecahkan oleh sesama rekan kerja. Al pun menghapuskan perbedaan fasilitas toilet dan perbedaan lainnya hanya agar Katherine bisa bekerja dengan nyaman. Katherine membalas kebaikannya dengan menuntaskan persamaan orbit yang akan membawa kembali astronot ke bumi di depan petinggi milter dan pejabat yang berwenang. Bahkan sang astronot, John Glenn (Glen Powell) hanya mau berangkat mengorbit jika arrangement final peluncuran dan posisi jatuhnya kapsul setelah mengorbit telah dikonfirmasi oleh Katherine.

Luar biasa bukan? Bagaimana dengan kisah kedua teman Katherine: Dorothy dan Mary? Sebaiknya ditonton sendiri saja ya, he..he.. Asal tahu saja Dorothy adalah pemberi solusi ketika mesin canggih IBM 'ngadat'. Ia belajar sendiri bahasa pemrograman FORTRAN secara otodidak dan mampu 'berkomunikasi' dengan sang mesin IBM. Di kalangan NASA ia dijuluki Wanita Terpintar. Sedangkan Mary adalah seorang teknisi yang membantu merancang kapsul untuk mengorbit bumi. Ia adalah wanita kulit hitam pertama yang menjadi sarjana aeoranatika. 

Menarik?

Film ini patut ditonton oleh keluarga. Kita bisa belajar dari film ini tentang sejarah, kehidupan sosial jaman perbedaan kelas, toleransi, semangat untuk mencapai tujuan, pembuktian diri, dll. Ada kutipan dialog bagus dari Mary Jackson ketika dia harus menghadap sang hakim untuk menyampaikan petisi agar ia bisa melanjutkan studi yang kala itu hanya khusus untuk masyarakat kulit putih:

"...dari sekian kasus yang Yang Mulia tangani adakah yang akan diingat orang? Adakah yang akan merubah sejarah? Aku berada disini untuk merubah sejarah"
Jadi, apa yang akan diingat orang lain tentang kita?  


Silakan ditonton dan dinikmati...


~ elha score: 8.0/10

Thursday, 9 February 2017

LION (2016)

Film ini berdasarkan novel A Long Way Home karya Saroo Brierley, yang juga tokoh utama di film itu. Film ini berkisah tentang anak hilang yang terpisah jauh sekali dari ibu, kakak, adik, kampung halaman, dan budayanya.

Diawali dengan scene pemandangan gurun kering dengan bebatuan di sebuah daerah Khandwa di India. Itu adalah tempat Saroo kecil (Sunny Pawar) dan keluarganya tinggal. Ibunya bekerja sebagai tukang batu. Untuk membantu sang ibu, Guddu (Abhishek Bharate) - kakak Saroo -  bekerja serabutan. Saroo pun selalu memaksa mengikuti sang kakak. Pada salah satu usaha mencari kerjanya, Saroo terpisah dengan sang kakak.

Saroo yang tertidur di peron, terbawa oleh kereta yang terus melaju. Tidak tanggung-tanggung sejauh 1600 km dari stasiun asal. Ketika berhasil keluar dari peron menuju stasiun yang ramai, ia masih berusaha mencari sang kakak. Tak berhasil. Selama 2 bulan ia luntang-lantung bergelandang, dikejar-kejar oleh polisi dan dinas sosial. Pun sempat dibawa oleh sindikat perdagangan anak, yang untungnya ia bisa kabur.

Ketika berada di penampungan anak hilang/gelandangan, Saroo didatangi oleh Sarod Sooj (Depti Naval) pendiri organisasi Indian Society for Sponsorhsip and Adoption (ISSA). Ia hendak diadopsi oleh sepasang suami istri dari Australia, Sue (Nicole Kidman) dan John Brierley (David Wenham). Berangkatlah ia ke Australia dan tinggal bersama keluarga baik itu.

Ketika berkunjung ke rumah seorang keturunan India, ia melihat kue kesukaannya waktu kecil, yang mengingatkannya lagi pada kampung halamannya. Saroo pun berusaha kembali ke India dan bertemu keluarganya setelah 25 tahun terpisah.

Film ini menguras emosi, terutama di awal-awal film ketika dipertontonkan suasana metropolitan yang ramai berpadu dengan kemiskinan. Anak-anak gelandangan yang mesti survive, tidur dimana saja, dikejar-kejar oleh Dinas Sosial, dsb. Saroo kecil berperan sangat bagus, mendukung nuansa film ini. Nicole Kidman yang berperan sebagai ibu adopsi Saroo dewasa (Dev Patel) pun mampu berperan sebagai ibu peri, yang mengesamping keinginan untuk memiliki anak sendiri, untuk bisa mengadopsi anak-anak terlantar. Ia dan suaminya memang seorang filantropis.

Sayangnya, sutradara kurang mengeksplorasi gejolak emosi Saroo dewasa yang rindu keluarga dan kampung halamannya. begitu pula konflik antara Saroo dengan sang kekasih dan adik adopsi lainnya, Mantosh. Juga kurang mendalami alasan keluarga Brierley tidak mau memiliki anak sendiri.

Film ini pun menguras emosi ketika di akhir film disuguhkan pertemuan asli antara Saroo dan ibu kandungnya. Juga ibu kandung dengan ibu adopsinya. Saroo adalah salah satu anak hilang yang beruntung dari 85000 anak hilang per tahun di India.

O, ya setelah 25 tahun ia baru menyadari kalau ia salah mengeja namanya. Saroo harusnya dibaca Sheru, yang berarti Lion.

Silakan dinikmati...

~ elha score: 7.0/10