Saturday, 29 July 2017

HINDI MEDIUM (2017)

Raja Batra (Irfann Khan) adalah seorang pengusaha fashion di kota kecil di India. Ia termasuk keluarga berada dan konglomerat disana, meskipun tidak terlalu berpendidikan dan tak memiliki kemampuan berbahasa Inggris dengan baik. Sebaliknya, sang istri - Meeta (Saba Qamar) - sangat cakap bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Ia cenderung berpenampilan high class dan sangat protektif terhadap putrinya, Pia (Dishita Sehgal). Memikirkan masa depan yang sangat kompetitif, ia terobsesi untuk memasukkan Pia ke sekolah elite agar masa depan anaknya terjamin.

Bersama Raj, Meeta berburu sekolah elite yang kebanyakan, tentu saja, dihuni oleh keluarga elite. Namun, sekolah-sekolah tersebut hanya menerima calon murid yang bertempat tinggal dalam radius 3 km dari sekolah tersebut. Rumah mereka berada diluar radius tersebut. Agar Pia bisa masuk sekolah elite, Meeta memaksa Raj agar pindah ke daerah elite Vasant Vihar yang berada dekat sekolah. Raj yang sangat terikat dengan rumah asalnya terpaksa mengikuti saran Meeta. Ia pun mesti berusaha tampil elite seperti tetangga-tetangga di kompleks itu. Bahkan sampai harus 'melupakan' kesenangannya, seperti menyanyi dan menari. Untuk meningkatkan status sosial, mereka pun menyewa konsultan yang mengatur penampilan, cara berkomunikasi, cara menjawab saat interview kelas, dsb. Sayangnya, bahkan dengan segala upaya itu, Pia tetap tidak lolos masuk sekolah elit. Bukan karena Pia, tetapi karena mereka dianggap belum mampu bersosialisasi seperti kaum high class. 

Tak putus asa, Raj mencari cara lain agar Pia tetap bisa masuk sekolah elite. Ternyata tiap sekolah memiliki kuota 25% yang diperuntukkan bagi masyarakat tak mampu. Raj pun mendaftarkan Pia melalui jalur RET (Right to Education) di sekolah elite  Delhi Grammar School. Berpura-pura jadi orang miskin, mereka pindah ke daerah kumuh tempat masyarakat terpinggirkan berada. Hal ini untuk mengelabui pengawas yang akan memeriksa keadaan sosial keluarga-keluarga yang mendaftarkan anaknya melalui jalur RET. Karena jalur ini pun ditengarai banyak disalahgunakan oleh oknum dan orang-orang kaya yang terobsesi dengan masa depan anak, sepertti yang Raj dan Meeta lakukan.

Di perkampungan itu mereka berkenalan dengan keluarga Shyamprakash Kori (Deepak Dobriyal) yang mengajari mereka cara survive sebagai orang miskin. Shyamprakash juga membantu Raj - yang bahkan rela mengorbankan nyawanya - mengumpulkan biaya 24000 rupee sebagai syarat masuk sebagai RTE (Raj sebenarnya sudah akan mengambil uang di ATM, tetapi kepergok oleh Shyam yang menguntit Raj untuk menghindarkannya dari perbuatan melanggar hukum. Shyam belum tahu Raj kaya). Dari keluarga Shyamprakash, Raj dan Meeta belajar tentang pengorbanan, keikhlasan, dan rasa bahagia tanpa alasan.

Saat pemilihan kandidat murid, kedua keluarga itu datang. Pemilihan kandidat murid dari jalur RTE dilakukan melalui undian. Pia, anak Raj dan Meeta lolos, namun Mohan - anak Shyamprakash justru tidak lolos. Ini membuat Raj dan Meeta merasa bersalah karena merampas hak Mohan yang berasal dari keluarga tak mampu dan yang berhak mengikuti jalur RTE. Mohan akhirnya masuk di sekolah pemerintah yang dipersepsikan tidak berkualitas. Menebus rasa bersalah, Raj pun menyumbang sekolah pemerintah tersebut agar lebih bermutu dan mampu bersaing. Ia memperbaiki sarana dan menambah fasilitas sekolah tersebut.


Film ini bergenre drama komedi dengan ide mengkritik sistem pendidikan dan masyarakat India yang lebih tergiur kepada status dan obsesi pribadi ketimbang peduli kepada minat anak. Eh, tapi disini juga masih ada yang begitu sih!. Meski kurang optimal, Irfaan Khan bermain bagus sebagai seorang suami yang sayang sama istri dan menuruti kemauannya. Pesan ada di akhir film dimana Raj dan Meeta menyadari bahwa pendidikan yang baik bukan terletak pada elite tidaknya sebuah sekolah. Namun, pada kemampuan sekolah tersebut memberi ruang kepada minat dan bakat anak.


Hmm...bagaimana dengan kita?


~ elha score: 7/10


          

Thursday, 27 July 2017

NIL BATTEY SANTANA (2016)

"Terima kasih Tuhan, telah menciptakan seorang mahluk yang luar biasa: IBU"

Apeksha "Apu" Shivlal Sahay (Ria Shukla) seorang pelajar kelas 10 harus menghadapi ujian kelulusannya. Bersama kedua rekannya - Sweety (Neha Prajapati) dan Pintu (Prashant Tiwari), ia mesti meningkatkan nilai matematikanya agar memperoleh poin kelulusan. Namun,  Apu telah kehilangan motivasi belajar dan berkeyakinan tidak akan mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi karena kekurangan biaya. 

Ibunya, Chanda Sahay (Swara Bhaskar), yang bekerja sebagai pembantu di rumah Dr. Diwan (Ratna Pathak) dan kerja serabutan, selalu memotivasi Apu untuk terus belajar agar lulus ujian dan meyakinkannya bahwa ia memiliki tabungan untuk kelanjutan sekolahnya. Tapi, Apu tidak percaya. Sikapnya makin menjengkelkan. Ia tetap pada 'prinsip'nya bahwa anak seorang pembantu kelak akan jadi seorang pembantu.

Chanda pun mengadu kepada Dr. Diwan yang menganjurkan agar Chanda bersekolah lagi sehingga bisa mengajar Apu sendiri. Mulanya Chanda ingin memasukkan Apu ke BimBel, namun tak mampu menanggung biaya. Atas desakan Dr. Diwan ke Kepala Sekolah, akhirnya Chanda diterima sebagai murid baru dan sekelas dengan anaknya, Apu. 

Apu yang malu kalau ibunya bersekolah (dan sekelas lagi! namun teman-teman Apu tidak tahu hubungan keduanya) menerima tantangan ibunya untuk mengalahkan nilai ibunya di pelajaran Matematika. Mulailah mereka berdua belajar kepada teman sekelas yang pintar matematika, yang memberi nasehat:

"Mempelajari matematika itu akan lebih mudah jika kita kaitkan dengan keseharian kita", ujarnya. "Seringkali jawaban di persoalan matematika terkandung didalam pertanyaan itu sendiri"   

Film ini memberi pesan tentang menumbuhkan motivasi, pantang menyerah, dan mengenali potensi diri. Perjuangan seorang ibu untuk memotivasi anaknya dengan sangat baik diperankan oleh Swara Bhaskar. Ditunjukkan juga bahwa lingkungan pun berpengaruh pada perkembangan motivasi belajar anak, yang ditampakkan pada adegan seorang guru dan teman dekat.

Di akhir kisah Apu terkena 'karma' atas ucapannya: bahwa anak seorang pembantu akan menjadi pembantu. Ya.. ia bakal menjadi seorang pelayan. Namun, sebagai pejabat pemerintahan sebagai pelayan masyarakat. Ibunya sendiri, setelah lulus dari sekolah, mulai memberi bimbingan belajar matematika untuk anak-anak tidak mampu.

Keren kan? Film ini inspiratif untuk ditonton oleh keluarga


~ lukman score 7/10

Wednesday, 26 July 2017

DUNKIRK (2017)

Cerita film ini sudah ada di benak Christopher Nolan sebagai sutradara dan penulis skenario sejak 20-an tahun silam. Kehati-hatian untuk membuat film sejarah besar-lah yang membuatnya baru sekarang terwujud.

Film bermula dengan serombongan pasukan Inggris yang berjalan menyusuri jalanan kota yang senyap. Tiba-tiba rentetan senjata Jerman memberondong pasukan tersebut yang segera kocar-kacir menyelamatkan diri. Hanya seorang prajurit - Tommy (Fionn Whitehead) - yang selamat, yang segera berlari menuju pantai. Di pantai tampak ribuan prajurit berkumpul dan berjejer menunggu untuk dievakuasi. Tentara Inggris dan Perancis memang terdesak ke pantai Dunkirk dan terkepung tentara Jerman.

Keseluruhan kisah film yang bersetiing PD 2 ini tentang usaha evakuasi tentara Inggris melalui kanal laut. Usaha evakuasi tersebut diwakili dengan kehadiran Tommy yang berupaya kembali ke Inggris dengan segala cara. Dalam usaha evakuasi tersebut, mereka dibayangi dengan serangan dari pasukan Jerman melalui udara. Beberapa kali pesawat tempur Jerman menjatuhkan bom dan tembakan yang mengakibat kapal karam dan banyak prajurit tewas. Pesawat tempur Jerman menjadi momok yang menakutkan.

Dunkirk (2017) berkisah melalui 3 aspek: (1) tanggul/daratan, yang diwakili evakuasi para tentara, ekpresi para prajurit yang putus asa, apatis, berharap. Kerangka film waktu di daratan adalah 1 minggu. (2) laut, beberapa kapal pribadi, berupa kapal layar, kapal pedagang menyambut seruan pemerintah untuk membantu evakuasi. Aksi diwakili oleh Mr. Dawson (Mark Rylance) dan anaknya, Peter (Tom Glynn-Carney). Kerangka waktunya 1 hari. (3) udara, yang mempertunjukkan dogfight antara pesawat tempur Inggris dan pesawat penge-bom Jerman. Farrier (Tom Hardy) sebagai pilot pesawat tempur Inggris mewakili adegan ini. Kerangka waktunya 1 jam.

Kerangka waktu yang berbeda-beda ini menjalin dalam satu kesatuan film. Unik kan? Karena berbeda, beberapa kali ada adegan flashback yang kemungkinan besar tidak disadari penonton. Menyaksikan film ini seperti merasakan sendiri perjuangan para prajurit untuk kembali ke rumah. Serasa cobaan datang terus menerus. Ketika sudah mencapai kapal pengangkut, tiba-tiba ditorpedo oleh kapal selam Jerman, sehingga kapal karam dan para prajurit mesti menyelamatkan diri. Ada rasa putus asa yang diwakili dengan adegan seorang prajurit yang berjalan menuju lautan, mencopot perlengkapan perangkapan dan mencebur ke lautan dengan disaksikan rekan lainnya yang hanya diam menononton. Namun, juga selalu ada rasa harap yang diwakili dengan adegan serombongan prajurit yang terus berusaha mencari kapal yang bisa dimanfaatkan untuk pulang. 

Ada pula rasa pesimis, takut dicemooh, ketika balik ke Inggris karena kegagalan perang. Namun, ternyata justru masyarakat Inggris menyambut mereka yang pulang bak pahlawan. Itu sering kita alami pula kan? Takut menghadapi bayang-bayang, yang ternyata kenyataannya bertolak belakang dengan bayang-bayang yang kita takutkan tersebut. Semangat heroik diwakili oleh Mr. Dawson yang merelakan diri dan kapalnya untuk menjemput prajurit kembali pulang ke kampung halaman, Juga adegan pertempuran udara Ferrier yang merelakan dirinya ditawan pasukan Jerman, karena pesawatnya terdampar di wilayah musuh karena kehabisan bahan bakar.

Christopher Nolan sengaja tidak memasang pemeran utama dalam film ini. Meskipun benang merah ada pada sosok Tommy, namun dia tetap terkesan sebagai anomim. Meskipun demikian, masing-masing tokoh dalam film berperan sangat bagus sesuai perannya. Termasuk Cillian Murphy yang berperan sebagai prajurit yang mengalami trauma. Dia menggigil sepanjang film.

Jangan membayangkan film ini penuh pertempuran dan darah seperti film perang konvesional lainnya. Alih-alih, film perang ini justru mencekam penonton dan turut merasakan apa yang dirasakan para prajurit di film. Sound effect film pun turut membantu penonton menyelam ke dalam atmosfer film ini.

This is very reccomended film. Silakan ditonton...




~ elha score: 9/10

Wednesday, 28 June 2017

SWEET 20 (REMAKE FROM MISS GRANNY, 2016)

Film yang bertabur bintang dan cameo dari generasi lama sampai baru  ini adalah genre sitkom. Adalah Fatma (Niniek L. Karim), seorang nenek 2 cucu yang tinggal bersama anaknya, Adit (Lukman Sardi) dan menantunya, Salma (Cut Mini). Fatma berkarakter dominan dan keras. Ia sangat membanggakan Adit anaknya dan menyanyangi kedua cucunya, Juna (Kevin Julio) dan Luna (Alexa Key). Sampai-sampai ia terlalu ikut campur dengan urusan pendidikan Juna dan Luna yang membuat Salma tersinggung. Ia pun cerewet untuk urusan dapur. Apapun yang dilakukan Salma selalu salah di matanya.

Konflik terjadi ketika Salma sakit dan dirawat di rumah sakit. Mungkin stress. Permintaan Salma agar ibu mertuanya tidak tinggal serumah lagi dengan mereka membuat Adit mengalami dilema. Kedua anaknya pun berseteru, Juna membela sang nenek, Luna tidak mau kehilangan ibu. Fatma yang mendengar persteruan itupun akhirnya mengambil keputusan untuk pergi dari rumah. Dalam perjalanan dan kesedihannya ia melihat sebuah studio photo "Forever Young". Ia pun masuk ke studio itu dan meminta difoto sebelum ia tampak makin tua keriput.

Ajaibnya setelah berfoto di tempat itu, ia menjadi lebih muda 50 tahun menadi gadis cantik. Menyadari ia kembali muda, Fatma - yang sekarang berganti nama menjadi Mieke (Tatjana Saphira) - memulai kehidupan yang baru dan berupaya mewujudkan keinginannya dulu yang belum tercapai, menjadi seorang penyanyi terkenal. Ia kemudian bergabung dengan group band Juna, cucunya, yang ingin berkarir di bidang musik namun mendapat tentangan dari kedua orangtuanya. Mieke terus mensupport cucunya, eh Juna, untuk tetap bersemangat dan menekuni jalur musik. Ia juga yang merubah genre musik band Juna dari metal menjadi pop rock dengan mengaransemen lagu-lagu lama. 

Meski sudah kembali muda, suasana hati dan pergaulan Mieke masih seperti nenek-nenek. Jadul, he...he... Gaya berpakaian dan berbahasanya - yang suka menasehati - membuat film terasa segar dengan situasi yang berbalut komedi tersebut.

Akhir group band Juna bisa tampil di televisi yang diproduseri oleh Alan (Morgan Oey). Lama-kelamaan Juna, Alan, dan Hamzah (Slamet Rahardjo) - yang sudah memendam cinta kepada Fatma - menaruh hati kepada Mieke. Nah, bagaimana kelanjutannya? Dimanakah cinta Mieke berlabuh? 

Silakan ditonton ya... Kocak habis deh!

Remake dari film Korea, Miss Granny (2016) dan diadaptasi dengan alur yang memikat, film ini memberi beberapa pesan yang disampaikan tanpa menggurui. Tentang pengabdian seorang ibu, tentang passion anak, tentang kesepian seorang manula, dll. Pada sebuah adegan diceritakan seorang Rahayu (Widyawati Sophiaan) gemar becerita tentang anaknya yang tinggal di Amerika. Namun, ketika meninggal, yang ada di nomer kontaknya hanya 2 nama: Fatma dan Hamzah, dua orang teman dan seterunya.

Niniek L. Karim bermain peran bagus sebagai nenek yang cerewet sekaligus perhatian, begitu pula Tatjana Saphira yang memainkan peran Fatma muda yang energik, lincah, dan penuh semangat, sekaligus karakter nenek-nenek yang muncul disana-sini. Lukman Sardi pun mampu mengimbangi sebagai seorang ayah yang mengalami dilema dan sebagai anak yang mencintai ibunya. Di adegan penghujung film, dialog keduanya sangat mengharukan.

Beberapa cameo bintang lama, seperti Hengky Sulaeman, Rudi Wowor, Rima Melati, Rina Hasyim, maupun bintang-bintang kekinian - Tika Panggabean, Joe P Project, Vicky Nitinegoro, Aliando turut membantu memberi warna pada kisah dan film.

Sipp!   


~ lukman score: 7.5/10

Tuesday, 23 May 2017

ONE LAST HEIST (2017)

...atau dalam versi lain berjudul The Hatton Garden Job, merujuk pada peristiwa nyata pencurian safe deposit box terbesar di Inggris pada tahun 2015 yang bernilai GBP 200 juta, atau sekitar 3.4 trilliun rupiah. Yang menarik dan bikin penasaran, pencurian terbesar itu dilakukan oleh sekelompok orang lanjut usia.

Film diawali dengan narasi tentang permata oleh Mr. X (benar-benar X karena tidak diketahui identitasnya), seorang pencuri, yang menjadi salah satu anggota kelompok pencuri. Yang paling muda, juga yang dari lingkungan luar. Si Mr. X ini ketika di dalam penjara berkenalan dengan anggota mafia Hongaria, dan karena keahliannya menerima job untuk mengambil permata dari The Hatton Garden, sebuah perusahaan yang menyewakan safe deposit box.

Sekeluar dari penjara, ia menjalankan misinya dan mulai merekrut orang-orang dengan spesialisasi kriminal mencuri. Atau mantan pencuri. Dari word to mouth lingkungan underworld, ia memperoleh nama-nama orang dengan style lama...dan sudah tua. Meskipun di masanya, mereka adalah para 'ahli'.

Kelompok pun terbentuk, dan mereka merencanakan strategi di sebuah gudang tua. Pencurian dilakukan saat liburan Jumat Agung dan Paskah, yang berarti ada libur selama 3 hari. Lalu, beberapa dua anggota akan menaiki gedung di sebelah The Hatton Garden dan turun melalui tali lift menuju ruang bawah tanah. Disana, mereka akan membukakan pintu untuk teman lainnya yang membawa peralatan, termasuk sebuah bor dengan diameter besar. Alat ini mesti dibawa untuk menjebol dinding dengan ketebalan 50 cm membentuk 3 lubang besar.

Sempat terjadi ketegangan ketika alat bor tidak berfungsi dan sang pemimpin kolaps karena kelelahan (maklum sudah tua, he..he..) dan dibawa pulang. Esoknya, anggota team yang lain menuntaskan pekerjaan yang belum selesai. Salut juga buat kriminal tua yang tidak puas sebelum menyelesaikan apa yang sudah mulai dikerjakan...:). Akhirnya mereka berhasil melakukan pencurian terbesar. Sayangnya, karena keteledoran salah satu anggota yang kembali ke TKP beberapa hari kemudian dengan identitas yang mudah dikenali dan membuat curiga Scotland Yard, membuat kelompok ini terbongkar. Namun, seperti motivasi salah satu anggota: "...yang penting aku ingin dikenang"

Ya, mereka akan dikenang. Sedangkan si Mr. X sampai sekarang belum diketahui identitasnya. Konon, ia segera pergi ke luar negeri setelah menuntaskan janjinya kepada Mafia Hongaria dan memberikan perlindungan bagi teman-teman tuanya - kalau tidak dikacaukan oleh salah satu anggota kelompok.

Bagi penikmat film intrik, filmnya masih tayang, silakan ditonton
    

~ elha score: 6.5/10

Monday, 22 May 2017

ZIARAH (2017)

"...aku itu nggak ngerti. Ada yang begini, ada yang ngomong begitu. Aku nggak ngerti mana yan bener, aku cuma ingin menemukan pesarean suami.."

Entah kenapa film ini hanya diputar di 2 tempat. Itu pun hanya di Jakarta: di Blok M Square dan TIM, padahal film ini menjadi viral di medsos karena tokoh utamanya, si nenek tua, menjadi salah satu nominasi aktris terbaik ASEAN. Mungkin, pelaku industri bioskop berpikir film-film festival kurang layak jual kali ya? Sayang sekali...

Akhirnya kami bela-belain nonton di Blok M Square setelah sesi Pol.Ja di Kemang.

Film diawali dengan prosesi pemakaman yang dengan jeli mengambil scene seolah-olah dari mata jenasah. Seluruh film ini memang berkisah tentang makam dan pemakaman. Tapi, bukan genre horror loh! Scene pun beralih ke seorang nenek tua,Mbah Sri (Ponco Sutiyem) yang tertegun dan mempunyai keinginan untuk menemukan makam sang suami. Dari tuturan kisahnya, sang suami adalah salah seorang pejuang saat Belanda melakukan agresi ke-2. Sebelum pergi dia berpesan ke istrinya bahwa kalau tidak kembali berarti dia sudah tewas dalam berjuang merebut kemerdekaan. Namun, keinginan Mbah Sri agar saat dia meninggal nanti dikubur disamping makam suaminya, mampu memberi kekuatan di usia senja untuk melakukan perjalanan menemukan makam sang suami. Satu persatu Mbah Sri berusaha menemukan sumber-sumber informasi dimana dia bisa menemukan makam sang suami.

Film ini berakhir happy ending, namun dengan kejutan di penghujung cerita. Penonton bisa mentafsirkan apa yang terjadi dengan suami mbah Sri dan apa yang dirasakan Mbah Sri. Seperti apakah? Hmm...lebih baik ditonton sendiri ya. Film Ziarah berkisah tentang kesetiaan, keteguhan, dan kepasrahan. Banyak adegan dan dialog berbobot sepanjang film yang membuat perenungan kita dalam memandang kehidupan, seperti yang diucapkan oleh cucu Mbah Sri, Prapto (Rukman Rosadi):

"...kalau kita selalu mendengar perkataan dan suara orang-orang, nanti kita malah tidak mampu mendengar suara (nurani) kita sendiri..."

B.W. Purwanegara, sebagai sutradara, mampu menggiring penonton untuk mengikuti perjalanan Mbak Sri mencari makam sang suami. Ada rasa iba ketika jalan terasa buntu, juga merasa ikutan kelelahan, sekaligus penasaran sambil menebak clue-clue yang diberikan sumber informasi kira-kira dimana dimakamkan. Patut diapresiasi juga usaha sang sutradara untuk membimbing pemain-pemain tua yang bukan aktris agar mampu berperan. Terbayang sih kira-kira susah nggak pemain-pemain tersebut menghafalkan dialog. Untungnya dialog sepanjang film menggunakan bahasa Jawa, yang sangat tidak asing bagi para pemain, sehingga membuat mereka lebih santai meskipun di beberapa adegan terlihat kaku.

Ide dan alur cerita orisinil, meskipun cerita mengalir begitu saja tanpa banyak konflik. Pengambilan gambar pun terkesan biasa saja, tidak menampilkan sisi keindahan alam pedesaan yang sebenarnya bisa lebih dieksplore. Mungkin, sutradara lebih mengfokuskan pada keteguhan sang tokoh utama untuk mencapai obsesinya. Namun, secara keseluruhan film ini layak ditonton bersama keluarga.


~ elha score: 7.5/10

Wednesday, 17 May 2017

THE AUTOPSY OF JANE DOE (2017)

Sudah berasa cemas saja saat mau menonton film ini secara berhubungan dengan mayat. Apalagi ini perdana tayang dan biasanya penonton belum banyak. Apalagi genre-nya thriller-horror. Untungnya satu-persatu penonton mulai berdatangan, jadi batal deh nonton sendirian seperti saat nonton film Get Out (2017).

Jane Doe merujuk pada suatu nama yang identitas aslinya belum diketahui. Jane Doe untuk perempuan, John Doe untuk laki-laki, Johnny Doe atau Janie Doe untuk anak-anak. Dalam bahasa Indonesia hanya satu rujukan, yaitu Si Fulan ...:)

Film diawali dengan sebuah kasus pembunuhan sekeluarga yang aneh. Polisi tidak dapat menemukan motif pembunuhan tersebut. Dan makin aneh ketika menemukan mayat wanita yang tidak dikenali dan terpendam di lantai bawah, Jane Doe (Olwen Chaterine Kelly). Oleh polisi, mayat wanita itu pun dibawa ke ahli coroner, Tommy Tilden (Brian Cox) dan anaknya, Austin Tilden (Emile Hirsch). Ketika mulai mengautopsi jenasah Jane Doe, ayah dan anak menemukan hal-hal aneh pada mayat tersebut. Organ-organ dalam mayat tersebut sudah rusak, tepatnya dirusak, meski penampakan luarnya tidak ada bekas luka. Pinggang mayat pun terlalu kecil karena terbiasa menggunakan korset, yang biasa digunakan pada wanita di abad ke-18. Setiap pembedahan pada organ menemukan keanehan-keanehan. Kedua ahli koroner itu bahkan tidak bisa menemukan penyebab kematian Jane Doe. Austin menyimpulkan mayat tersebut bukan mayat biasa, karena berhubungan dengan peristiwa pembantaian wanita-wanita dan anak-anak yang diduga penyihir jaman itu.

Dari awal film ini begitu seram, didukung dengan gambar yang suram dan musik yang mencekam. Apalagi begitu mendengar lagu di radio yang bernada kelam. Penonton disuguhkan prosedur autopsi dan melihat bagian-bagian dalam organ manusia.Brian Cox dan Emile Hirsch mampu berperan sebagai orang yang tertekan dan mengalamai teror, sedangkan Olwen Kelly sebagai Jane Doe tidak banyak bicara, tepatnya tidak bicara - iyalah, berperan sebagai jenazah - mampu berekpresi sebagai mayat yang cantik.

Bagi penggemar genre thriller-physological, bolehlah film ini ditonton. Jangan sendirian ya...:) 


~ elha score: 6.5/10