Friday, 30 December 2016

DANGAL (2016)

Film-film besutan Aamir Khan selalu menarik ditonton, termasuk Dangal (2016) yang baru saja tayang. Bahkan kami menontonnya dua kali. Film ini berdasarkan kisah nyata kehidupan Mahavir Singh Phogat dan kedua putrinya, Geetha Phogat dan Bebita Kumari.

Film diawali dengan kompetisi gulat di TV yang mengingatkan Mahavir Singh (Aamir Khan) pada masa jayanya sebagai juara nasional dan impiannya menjuari kompetisi gulat level internasional. Sayangnya impiannya tidak tercapai karena masalah keuangan. Namun, ia tak melepas impiannya tersebut dan berharap diteruskan dan dicapai oleh anak-anaknya. Sayangnya, anak pertama terlahir perempuan. Begitu pula yang kedua, ketiga, dan keempat. Scene keinginan dan usaha untuk memperoleh anak laki-laki direkam dengan lucu, konyol, dan unik. Semua nasehat dan usaha yang dilakukan, tak membuahkan hasil sepertiyang diinginkan. Lambat laun Mahavir Singh melupakan impiannya.

Namun, kejadian tak terduga membangkitkan lagi harapannya saat Gheeta (Fatima Shana Shaikh) dan Bebita (Sanya Malhotra) menghajar dua anak laki-laki yang menganggunya. Mahavir Singh melatih kedua anaknya menjadi pegulat tangguh. Gheeta bahkan adalah wanita India pertama yang memenangkan emas di ajang internasional untuk kategori gulat. 

Plot cerita disusun dengan baik dan menggugah emosi penonton, terutama saat Gheeta berselisih dengan ayahnya, dan yang pada akhirnya meminta maaf. Scene yang hanya berupa sambungan telepon dan suara isak tangis betul-betul menguras emosi. Untuk film ini Aamir Khan, yang memerankan dua karakter, mesti menaikkan bobot tubuhnya sampai 30 kg untuk memerankan tokoh Mahavir Singh tua. Kemudian menurunkan lagi dalam waktu 5 bulan untuk memerankan Mahavir Singh usia 20an. Benar-benar totalitas. Selain Aamir Khan, Gheeta dan Bebita muda (Zaira Wasim dan Suhani Bhatnagar) bermain sangat bagus. Ini adalah debut pertama film mereka.

Lagu-lagu di film ini sangat nyaman dinikmati, terutama lagu Naina yang dilagukan oleh Arijit Singh.

Seperti film-film laiinya, Aamir Khan selalu menyisipkan pesan atau kritik sosial. Kali ini tentang kepedulian terhadap hak-hak kaum perempuan. Terutama di India, dimana wanita masih dianggap masih menjadi 'beban'.

Bagi penggemar film Hindi, Dangal bisa dijadikan tontonan hiburan sebelum menutup akhir tahun ini. Janganlah sampai terlewat ya...


 ~ elha score: 9/10

Thursday, 17 November 2016

FANTASTIC BEAST - AND WHERE TO FIND THEM (2016)

Film ini termasuk salah satu film yang ditunggu-tunggu. Termasuk oleh Qaulan Sadiida yang sedang menggemari serial Harry Potter. Ya...film ini memang spin off dari serial itu, bersetting jauh sebelum era Harry Potter dan kawan-kawan bersekolah di Hogwart.

Kisah dimulai dengan kedatangan Newt Scamander (Eddie Redmayne), seorang magizoologist ke New York dengan membawa sebuah koper ajaib yang berisi hewan-hewan gaib. Tujuannya ke New York adalah untuk mengumpulkan kembali hewan-hewan gaib yang hilang atau kabur. Salah satunya adalah Niffler yang lucu, seekor hewan pengerat yang menyukai benda berkilau. Kekacauan yang ditimbulkan oleh Niffler membawa Newt bertemu dengan Tina (Katherine Waterston), seorang auror (polisi sihir) dan seorang No-Maj (American Muggle) sekaligus pembuat roti, Jacob Kowalski (Dan Fogler).  Pelacakan dan pencarian hewan-hewan gaib tersebut membawa mereka pada sebuah plot dan intrik yang membuka tabir dan perselisihan antara kaum penyihir dan non penyihir di Amerika.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah itu dan pada siapa mereka berpihak? Silakan dinikmati ya...

Ini adalah debut JK Rowling sebagai penulis skenario berdasarkan bukunya sendiri yang berjudul sama. Seperti biasa, JK Rowling dan sutradara David Yates 'mengumbar' imajinasi diluar yang dibayangkan penonton. Terlihat ketika memasuki gedung MASCURA dengan segala perniknya, dan juga berbagai macam hewan gaib 'blasteran'. Ada Niffler, Demiguise yang transparant, Occamy yang volume tubuhnya menyesuaikan ruang, Obscura, dll.

Penonton juga akan tergoda untuk menduga koneksi antara tokoh-tokoh di Fantastic Beasts dengan di serial Harry Potter. Contohnya. Newt dan Hagrid yang sama-sama menyukai hewan gaib. Atau kisah asmara antara Jacob dan Queenie (Alison Sudol) yang mungkin berkoneksi dengan Hermione.

Awalnya cerita berjalan lambat dan cenderung membosankan untuk memperkenalkan tokoh-tokoh. Namun, gambar dan imajinasi mampu memberi penawar. Akting tokoh-tokohnya terasa biasa saja, kecuali untuk Collin Farrel yang mampu berperan sebagai tokoh antagonis sebagai Percival Graves. O, ya..meskipun cuma sebentar, muncul wajah Johnny Depp yang berperan sebagai Gellert Grindelwald. Karakter yang terakhir ini pun menggoda penonton untuk merujuk pada karakter Voldemort.

Secara keseluruhan, film ini cukup menghibur, Dan nantikan keempat sekuel berikutnya untuk memasuki dunia sihir JK. Rowling yang lain...:)


~elha score: 7.5/10

Tuesday, 8 November 2016

HACKSAW RIDGE (2016)

"Lord, please help me get more and more, one more, until there was none left, and I'm the last one down"  ~ Desmond T. Doss

Terasa puas begitu keluar dari bioskop setelah menonton film ini. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Haksaw Ridge (2016) ini. Ya...film ini berkisah tentang misi hidup dan keteguhan dalam memegang prinsip dan keyakinan yang diambil dari kisah nyata salah seorang pahlawan besar Amerika: Prajurit Desmond 'Pohon Jagung' Doss.

Ia menjadi pahlawan tanpa sebutir peluru pun ia tembakkan.

Bersetting pertempuran besar Okinawa selama PD 2, film diawali dengan dentuman peledak, desingan peluru, dan prajurit Doss yag ditandu. Kemudian adegan flashback ke masa kecil Doss yang bermain dan bercanda dengan sang kakak. Candaan yang keterlaluan hampir membuat sang kakak tewas. Peristiwa ini dan peristiwa di sebuah rumah sakit ketika dia menolong seorang teman begitu membekas dalam jiwanya. Ketika 'Amerika Memanggil', seperti pemuda-pemuda lainnya Dos pun mendaftar menjadi seorang prajurit. Dan diterima. Namun, karena prinsip keyakinan ia tidak mau memegang senjata untuk membunuh.

"...biarlah yang lain membunuh, tapi aku akan coba menyelamatkan. Biarkan aku membangun sedikit pada dunia yang sudah rusak..."

Awalnya, penolakan Doss untuk memanggul senjata dan bertempur membuat kawan-kawan se-kompi melecehkannya. Bahkan ia sempat diadili karena membangkang perintah. Namun, keyakinan akan misi hidup dan sepucuk surat dari seorang jenderal membuatnya tetap bisa bergabung dengan tentara dan bertugas sebagai paramedis. Dalam sebuah adegan pertempuran, prajurit Doss bahkan melakukan aksi heroik yang bahkan prajurit bersenjata pun takkan mampu melakukannya. Karena aksinya itu, ia memperoleh penghargaan Medal of Honor, sebuah penghargaan militer tertinggi.

Andrew Garfield - kita mungkin akrab dengan perannya sebagai Spiderman - berperan bagus sebagai private Doss, begitu pula dengan akting Vince Vaughn sebagai Sergeant Howell dan Sam Worthington (Capt Glover). Bumbu cinta Doss dan Dorothy cukup memberi warna tentang arti sebuah kesetiaan. Apresiasi juga patut diberikan kepada Doss kecil yang mampu memerankan mimik penyesalannya. Sutradara Mel Gibson tak segan menampilkan kekejaman perang. Mayat terluka dan berdarah, perut terburai, kaki hancur terkena ledakan, kepala yang dipenggal, semuanya bahkan tampak nyata. 

Alur cerita mudah dicerna, tak perlu mengernyitkan dahi. Hanya perlu ekstra nyali meski bukan sedang menonton cerita horor, he..he.. Separuh film bercerita tentang kondisi dan kejiwaan Doss (dan keluarga yang membentuknya). Di satu sisi menyakini ajaran agamanya dengan teguh, dan di sisi lain dihadapkan pada kenyataan yang mempertanyakan keyakinannya. Separuh film lainnya mempertontonkan kekejaman dan kebrutalan sebuah perang.

Ada sebuah adegan close up yang saya suka, yaitu ketika tentara Sekutu tertembak dan terjatuh diikuti oleh tentara Jepang yang tertembak dan terjatuh pula berhadapan. Seolah-olah sang sutradara berpesan: dalam perang tak ada yang namanya pemenang, semua adalah korban.

Hmm...menarik kan?

Mempertimbangkan kekejaman dan banyaknya darah, film ini tak patut ditonton oleh anak-anak

~ elha score: 9/10


Monday, 17 October 2016

THE ACCOUNTANT (2016)

"...lanjutkan saja, tidak apa-apa".Kalimat itu benar-benar ada di dalam film saat adegan Christian Wolff (Ben Affleck) kecil berlatih beladiri di suatu tempat di Indonesia. Diceritakan dia bersama adik dan ayahnya berpindah-pindah tempat tinggal karena ayahnya yang seorang tentara. Tentu saja, ini menjadi kejutan bagi penonton, Bangga dong! 

Jangan dibayangkan film ini penuh dengan angka dan perhitungan ala akuntansi, justru film diawali dengan rententan bunyi pistol dan tergeletaknya korban. Adegan pun berlanjut ke masa kecil Wolff yang sedang berada - bersama kedua orang tua dan adiknya Braxton (John Brenthal), di ruang konsultasi dokter. Wolff kecil didiagnosa menderita autis asperger dan terobsesi menyelesaikan pekerjaan atau aktifitas yang dimulainya. Di scene itu, dia terobesisi menyelesaikan sebuah puzzle. Ia juga menyukai matematika dan ketika dewasa berprofesi menjadi akuntan forensik, yang berhubungan dengan pencucian uang milik organisasi-organisasi berbahaya.

Keterlibatannya dengan organisasi-organisasi tersebut membuatnya diburu oleh Treasury Agent dari Departemen Keuangan.

Ketika sedang mengaudit sebuah perusahaan robotic, ia dan seorang junior akuntan, Dana Cummings (Anna Kendrick) menemukan aliran uang yang tidak semestinya, yang membuatnya diiburu oleh sebuah kelompok yang tidak menginginkan kecurangan itu terekspose. Hal ini membuat Wolff membuka 'topeng' dan turun tangan untuk menyelamatkan Dana.

Plot film ini sangat menarik, menawarkan sebuah kejutan di akhir film (meskipun penonton bisa bisa menebaknya jika jeli). Beberapa adegan flashback ke masa kecil Wolff untuk memperkenalkan latar belakang dan karakter. Adegan di suatu tempat di Indonesia termasuk di bagian ini.

Ben Affleck cukup mampu berperan sebagai seorang yang penyendiri yang menyembunyikan jati diri. Hal ini mengingatkan karakter Denzel di film Equalizer (2014). Memang sih, saat menonton ini mau tidak mau teringat pada film tersebut. Anna Kendrick bermain biasa saja sebagai pendamping Ben Affleck. Perannya mengingatkan pada Teri (Cloe Grace Moretz) di The Equalizer. J.K. Simmons yang berperan sebagai Ray King, Treasury Agent, bermain bagus dan berkarakter seperti saat ia bermain di Wiplash (2014).

Bagi yang suka dengan genre action dan thriller, film ini jangan sampai terlewatkan. Nikmati saja dan anda akan terpuaskan.

Sipp!

~ elha score: 8/10

Thursday, 13 October 2016

INFERNO (2016)

Inferno adalah bagian dari puisi epik Dante Alighieri, Divine Comedy (1308 M), berkisah tentang perjalanannya ke neraka. Bagian puisi itu menjadi inspirasi Dan Brown dalam novelnya dan Ron Howard yang memvisualisasikannya dalam bentuk film.

Bermula dari potongan-potongan video Bertrand Zobrist (Ben Foster), seorang yang berkeyakinan populasi dunia terlalu padat membawa banyak masalah dan bencana. Dan dia memiliki 'solusi'-nya. Tapi, solusinya pun mengancam keberadaan manusia, sehingga ia pun diburu oleh kelompok yang pro untuk mewujudkan niatnya maupun oleh kelompok yang kontra dan ingin menggagalkannya. Semuanya dengan dalih kemanusiaan

Rahasia itu menjadi misteri ketika Zobrist 'terbunuh', namun ia memberikan petunjuk berupa simbol-simbol dan kode yang menuntun ke lokasi tempat ia menyimpan rahasianya. Nah, disini Prof. Langdon (Tom Hanks), sebagai ahli fiksi simbologi, berperan. Dia dibantu oleh Dr. Sienna Brooks (Felicity Jones) untuk mengungkapkan misteri itu.

Akankah kali ini dia berhasil?

Dibandingkan dengan dua sekuel sebelumnya, kemisteriusan Inferno kurang mencekam. Juga, tidak kontoversial. Penonton tidak merasa terlibat untuk memecahkan simbol dan kode yang pun tidak banyak tersebar di sepanjang film.  Namun, alur cerita menolong plot film ini. Penonton akan dikejutkan di akhir cerita tentang siapa kawan siapa lawan. Dan seperti biasa Tom Hanks selalu bermain prima dalam setiap film yang dilakoninya.

Secara keseluruhan, film ini lumayan bagus, teapi jika berharap menyaksikan kemisteriusan seperti dua sekuel sebelumnya, film ini masih dibawah keduanya. Buat hiburan sih tetap okay...:)


~elha score: 7/10



 

Sunday, 25 September 2016

ONE DAY (2016)

Ini film Thailand bergenre romantis pertama yang kami lihat. Biasanya sih lihat iklan-iklan produk yang mengesankan.

Film ini diawali dengan pengenalan karakter Denchai (Chantavit 'Ter' Dhanasevi), seorang karyawan IT perusahaan makanan yang pemalu, introvert, menganggap dirinya tak ada sehingga orang-orang pun menganggapnya demikian. Ia merasa orang-orang baru mengenalnya ketika membutuhkan bantuannya untuk memperbaiki komputer. Bahkan dalam suatu adegan pesta kostum, ia digambarkan memakai kostum batu bata agar tampak menyatu dengan dinding. Makin kuatlah karakternya sebagai nobody.  

Suatu hari seorang karyawan marketing baru, Nui (Nittha 'Mew' Jirayungyurn) membutuhkan bantuan Denchai karena PC-nya ngadat untuk mencetak dokumen. Pertemuan itu rupanya amat membekas pada Denchai yang langsung menyukai Nui. Sayangnya, Denchai hanya berani melihat dan menguntit saja, tak mampu mengutarakan. Ia mengetahui apa yang disukai Nui, tentang makanan, musik, kenapa dia selalu datang terlambat, keinginannya menyaksikan Festival Salju di Sapporo, juga tahu kalau si Nui sedang didekati oleh sang Boss dan menjadi kekasihnya.

Dalam suatu perjalanan tamasya kantor, Nui mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia mengalami TGA (Transient Global Amnesia), suatu gangguan daya ingat yang tak mampu mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Setelah diperiksa oleh dokter, Nui hanya akan kehilangan memorinya selama 1 hari, dan esok harinya ia tak akan mengingat lagi apapun peristiwa yang terjadi hari ini. Hal ini dimanfaatkan oleh Denchai untuk berpura-pura menjadi kekasih Nui sebelum berganti hari.

Akankah penyamaran Denchai terbongkar? Bagaimana dengan sang Boss, kekasih Nui? Bagaimana ending cerita? Hmm...silakan ditonton ya. Film menawarkan plot yang membuat penonton penasaran, geli, sedih juga romantis. Yang pasti ending ceritanya mengejutkan. Beberapa alur cerita dibuat flasback untuk menjawab pertanyaan penonton tentang suatu adegan, sehingga penonton pun dibuat mengerti dan bergumam: "O..begitu rupanya!"

Film tentang kehilangan memori banyak diangkat sebagai tema film. Jab Tak Hai Jaan (2012), Before I Go to Sleep (2014), bahkan Finding Dori (2016) adalah diantaranya. Film One Day mengangkat tema yang sama namun dikisahkan dengan berbeda. Karakter Denchai diperankan dengan bagus oleh Ter Chantavit. Sebagai pemula di layar lebar peran Nui juga dimainkan sempurna oleh Mew Nittha.

Film ini juga memberi pesan tentang kejujuran, pengorbanan dan harga diri.  

Oke deh, silakan dinikmati, Sepertinya film ini hanya diputar di CGV Blitz. Jadi, kalau sudah tidak tayang, mungkin bisa ditonton melalui VCD.  


~elha score: 7.5/10
     

Thursday, 22 September 2016

THE MAGNIFICENT SEVEN (2016)

Film ini merupakan remake film dengan judul yang sama direlease tahun 1960 dibintangi oleh Steve Mc Queen dan Charles Bronson. Film itu sendiri merupakan adaptasi dari Seven Samurai karya Akira Kurosawa. The Magnificent Seven versi 2016 ini dibintangi oleh Denzel Washington. Ini film bertema Western pertama bagi Denzel.

Film dibuka dengan adegan ketakutan penduduk kota Rose Creek terhadap pemilik modal Bartholomew Bogue (Peter Sarsgaard) yang memiliki usaha tambang emas di lembah dan ingin menguasai kota dengan merebut tanah penduduk. Bogue menyuap sheriff dan memiliki pasukan bersenjata untuk membantu memenuhi keserakahannya. Orang yang menentangnya tak segan-segan dihabisi di depan keluarganya.

Di tengah-tengah ketakutan, seorang wanita, Emma Cullen (Haley Bennett) yang kehilangan suaminya berniat menuntut balas dan menyewa seorang bintara Federal, Sam Chisolm (Denzel Washington). Mempunyai tujuan sendiri, sang bounty hunter pun menyetujui tawaran Emma dan merekrut orang-orang untuk membantunya. Maka, terbentuklah 'Tujuh Yang Luar Biasa' yang terdiri dari berbagai karakter. Ada penjudi, penembak jitu jebolan pasukan Konfederasi, pencari jejak, buronan dari Mexico, ahli pisau dari China, dan seorang Indian Comanche. 

Seperti biasa, Denzel bermain prima di film ini. Gaya di akhir film mengingatkan pada adegan di film The Equalizer (2014) yang juga dibintanginya. Karakter lain pun dimainkan dengan bagus, termasuk ketika si penembak jitu Goodnight Robicheaux (Ethan Hawke) harus mengatasi traumanya. Sayangnya, keindahan alam Western kurang tereksploitasi. Tapi, adegan menembak cepat bolehlah jadi suguhan menghibur.

Bagaimana mereka mengatasi si Bogue dengan pasukan bersenjatanya yang dilengkapi dengan 'Nafas Iblis' sebuah alat pembunuh? Silakan ditonton ya...terutama bagi penggemar genre western.


~ elha score: = 7/10